
Jaka segera membopong tubuh gurunya dan membaringkanya di atas dipan bambu.
Walaupun kondisi fisiknya sudah stabil namun ia tak kunjung sadar dari pingsanya.
Sementara Dewi berusaha mengoleskan ramuan untuk mengobati kulit yang mengelupas seperti luka bakar yang hampir memenuhi sekujur tubuh ki Samber Nyawa.
Jaka sedikit kaget setelah mengamati bahwa luka yang di alami gurunya akibat terkena pukulan dewa gledek.
Kini ia pun mulai menduga bahwa gurunya terkena ajian dewa gledek yang di punyai musuh.
Jaka pun teringat bahwa setiap seratus tahun sekali ada perempuan yang bisa menguasai ajian dewa gledek.
Ia yakin bahwa bisa saja Dewi Kalinggi telah kembali menebar teror dan berhasil menguasai ajian dewa gledek.
Lamunan Jaka segera terganggu oleh suara rintihan gurunya yang sudah tersadar dan merasakan perih di sekujur tubuhnya.
" Jangan banyak bergerak guru!" ucap Jaka.
Ki Samber Nyawa justru ketakutan badanya kembali menggigil dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Dewi terlihat sangat sedih hingga air matanya menetes.
" Kanda, sebenarnya siapa orang yang telah membuat guru seperti ini?" ucap Dewi sambil berurai air mata.
" Aku juga tidak tahu dinda, kita berdoa saja semoga Allah memberikan jalan kesembuhan kepada guru!" balas Jaka.
Jaka:"Aku juriga jangan jangan Dewi Kalinggi yang telah melukai guru atau mungkin Nini Lampir!"
Kening Jaka sampai mengkerut mencoba menebak siapa kiranya orang yang telah tega berbuat jahat kepada gurunya.
Matahari mulai tenggelam,lolongan serigala memecah kesunyian malam.
Bunyi jangkrik dan belalang juga saling bersahutan membuat suasana hutan tambah mencekam.
Setelah solat Jaka dan Dewi bersila sambil membaca dzikir dzikir dan memanjatkan doa untuk kesembuhan gurunya Ki Samber Nyawa.
Hingga tak terasa karena kelelahan keduanya tertidur.
Jaka kaget melihat Sang Ismoyo tiba tiba berada di hadapanya.
" Tak usah resah anaku, pasrahlah pada sang khalik niscaya ia akan menunjukan jalan untuk kesembuhan gurumu, kamu sudah mempunyai obat untuk kesembuhan gurumu,kamu hanya harus berusaha untuk berpikir jernih dan konsentrasi"
Wujud pamomong tanah jawa seketika lenyap.
Jaka segera terbangun dan kemudian menuju sumur untuk wudhu.
Ia pun bergegas membentangkan kain untuk alas dan kemudian melaksanakan solat malam.
Tak terasa Dewi membuka matanya karena silau terkena cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
__ADS_1
Jaka juga terlihat mengucek kedua matanya dan langsung berjalan sempoyongan sambil menguap menuju kamar gurunya, untuk melihat kondisi beliau.
Ia terlihat merenung memikirkan mimpinya semalam hingga tak menyadari bahwa Dewi telah berada di sampingnya.
" Kenapa pagi pagi kanda termenung?" ucap Dewi sambil menepuk pundak Jaka.
Jaka segera menceritakan tentang mimpinya yang bertemu dengan sang ismoyo jati.
Dewi mencoba meraba raba kira kira apa yang ada di diri suaminya yang dapat menyembuhkan gurunya Ki Samber Gledek.
" Coba saja jurus Dewa Gledek kanda?" usul Dewi.
Jaka menurut, ia segera mengambil kuda kuda, hingga kilatan seperti petir kekuar dari tanganya dan membuat ki samber nyawa kejang kejang.
Beberapa kali Jaka mencobanya namun tak ada hasilnya.
" Sia sia dinda!"
Dewi Kembali berpikir .
" Coba jurus penyerap daya, kanda!"
Jaka kembali memasang kuda kuda dan pelan pelan mengalirkan energi ajian penyerap daya masuk je tubuh Ki Samber Nyawa.
Pelan pelan tubuh Ki Samber Nyawa terangkat hingga melayang, namun ia tetap saja tidak membuka matanya, hingga Jaka memutuskan untuk menghentikanya.
Cukup lama Jaka menggunakan tenaganya hingga rasa lapar mulai mengusik perutnya.
" Kanda, kanda kenapa?" raut muka Dewi menjadi panik.
" Wetengku kencot dinda!" balas Jaka.
Dewi nampak bingung mendengar ucapan suaminya.
" Aku lapar dinda" Ucap Jaka untuk kedua kalinya.
Dewi justru ketawa lalu kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Setelah merasa perutnya terisi tiba tiba Jaka merasa ada sesuatu yang bergerak gerak di dalam dadanya.
Rupanya pedang suci yang bersarang di tubuhnya memberi isyarat.
Jaka segera bersila dan mengeluarkan pedang suci.
" Sekarang aku mengerti maksud perkataan Ismoyo Jati!"
Jaka segera berlari menuju kamar gurunya.
Sementara Dewi yang masih binggung mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Jaka segera menggunakan energi pedang suci untuk mengobati gurunya.
Pancaran cahayanya menembus pori pori hingga membuat luka bakar yang di alami ki samber nyawa hilang.
Beliau juga kaget ketika membuka matanya dan melihat cahaya terang yang sangat menyilaukan mata.
" Apa aku sudah mati dan inikah surga?" teriak Ki Samber Nyawa.
Jaka yang kaget mendengar ucapan gurunya segera memasukan pedang suci hingga cahaya terang seketika menghilang.
" Guru telah sadar rupanya!" ucap Jaka.
Ki Samber Nyawa justru kembali ketakutan melihat wajah Jaka dan Dewi.
" Hantu ada hantu!" teriak ki Samber Nyawa dan langsung berlari bersembunyi di balik pohon di luar gubug.
Jaka dan Dewi sama sama menepok jidat dan tertawa.
" Jadi selama ini guru takut melihat kita dinda, aku baru ingat bahwa pastinya semua orang mengira kita telah mati!" Dewi pun tertawa terpingkal pingkal.
" Jadi guru bukan trauma setelah apa yang ia alami tapi justru ketakutan dan pingsan karena melihat kita,ha ha ha ha!"
Jaka pun keluar sambil berteriak.
" Guru ,guru keluarlah aku masih hidup dan aku bukan hantu!"
Sementara itu Ki Samber Gledek tubuhnya masih gemetaran, ia mengintip dari balik pohon dan melihat kaki Jaka masih menapak di tanah.
" Apa benar kamu bukan hantunya Jaka dan Dewi?" Teriaknya dari balik pohon.
Dewi timbul pikiran usil ia pun menyelinap dan mengagetkan gurunya.
" Hi hi hi hi hi, aki peot aku adalah hantu , hi hi hi hi!"
Ki Samber Nyawa kaget dan langsung berlari hingga menabrak Jaka dan jatuh terguling .
" Ampun ,ampun,ampun!" Teriak Ki Samber Gledek sambil menutupi kedua matanya.
Jaka dan Dewi tertawa terbahak bahak dan mengejek gurunya.
" Ha ha ha ha ha, ternyata pendekar Dewa Gledek yang sakti mandera guna takut hantu, wkwkwkwk!"
Jaka dan Dewi terus tertawa hingga merasa perutnya sakit, akibat terpingkal pingkal melihat gurunya yang ketakutan.
" Dasar murid kurang ajar, jadi kalian masih hidup!"ucap Ki Samber Nyawa yang kemudian bangkit dan memukul kepala Jaka dan Dewi bergantian.
" Ampun ,ampun guru" Kini Jaka dan Dewi gantian berlari menghindari pukulan Ki Samber Gledek yang mengincar kepala mereka.
" Dasar murid kurang ajar" teriaknya sambil terus berlari hingga akhirnya berhenti karena kehabisan tenaga.
__ADS_1
" Aduh perutku jadi lapar, tolong ambilkan apa ada makanan untuk mengobati perutku" teriak Ki Samber gledek.
Dewi pun berlari menuju dapur untuk mengambil ubi dan pisang rebus, sementara Jaka duduk di sebelah gurunya hingga akhirnya keduanya saling berpelukan.