JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Pembalasan Mahisa Bag 2


__ADS_3

Mayang sedang di rias oleh beberapa wanita untuk bersiap melangsungkan prosesi pernikahan . Dia tak kuasa menolak karena anak dan juga ibunya di ancam akan di bunuh.


Rupanya Jajang menyuruh anak buahnya bungkam tentang Nyi Rus dan Lilis yang berhasil melarikan diri dari tawanan mereka.


Jajang sudah duduk di sebuah kursi yang berbentuk layaknya singgasana raja. Di sebelahnya terdapat satu kursi yang sama untuk pengantin wanita.


Ki Cadas Putih mengenakan baju putih seperti seorang resi. Kebiasaan pakai baju kebesaran perguruan yang serba hitam ia tinggalkan ,kerena menganggap pernikahan adalah prosesi yang suci .


Tak berapa lama keluarlah Mayang dengan anggun mengenakan kebaya ,wajahnya yang sendu terlihat anggun kerena di rias sedemikian rupa oleh juru rias yang handal.


Jajang menatap wajah Mayang dengan melepas senyuman.


Sementara itu di sebelah Ki Cadas Putih Ujang nampak termenung ,ia merasa iba melihat Mayang yang harus menikah dengan terpaksa.


Ketiga sosok manusia nampak melompat dari dinding pembatas yang di buat dari batang pohon yang mengelilingi padaepokan Kalajengking Hitam.


Bahkan beberapa murid perguruan nampak ketakutan melihat sosok Mahisa yang mereka anggap sudah mati.


Mahisa yang sudah di kuasai Dendam melampiaskan kemarahannya kepada teman sesama murid Ki Cadas yang berusaha menyerangnya ,dalam hitungan menit beberapa orang terkapar bersimbah darah terkena sabetan pedang milik Mahisa.


Tirta dan Nilam lebih suka membuat musuhnya tak berdaya dengan menotok urat mereka agar tidak bisa bergerak. Mereka hanya ingin melumpuhkan dan tidak ingin jatuh banyak korban jiwa.


Mendengar keributan yang semakin seru,membuat konsentrasi Ki Cadas Putih merasa terganggu. Dia segera menyuruh Ujang mengatasi kekacauan yang terjadi di pelataran ..


" Guru kuharap cepat engkau selesaikan prosesi ini,agar secara sah Mayang bisa menjadi istriku"


Jajang terus mendesak gurunya untuk melanjutkan prosesi. Mayang merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


" Guru sebenarnya ada apa di depan?"


" Entahlah aku juga tak tahu pasti mungkin ada penyusup. Jang Ku harap kau juga membantu Ujang menyelesaikan huru hara di depan . Rasanya prosesi akan menjadi tidak sakral kalau ada keributan"


Jajang kali ini tak berani membantah perintah gurunya dia segera bergegas menyusul Ujang.


Mayang melihat gurunya mulai terlihat gusar hingga ia diam diam pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Mayang melepas ornamen di kepalanya yang terasa membuatnya jadi susah bergerak. lantas ia pergi menuju sebuah rumah di sebelah rumah Jajang di mana ibu dan anaknya di sekap. Mayang terkejut ketika mendapati ruangan itu telah kosong,lantas ia menghampiri penjaga dan memaksanya mengancam menggunakan pedangnya untuk berbicara.


Mayang mukanya berubah geram karena merasa di bohongi oleh Jajang. Ia pun tak dapat menguasai dirinya hingga mengayunkan pedangnya tepat mengenai leher penjaga.


Darah segera bercucuran tubuhnya jatuh menggelepar dan kemudian tak berkutik lagi.


Mayang mengambil pedang penjaga dan kedua tanganya menggegam erat. Penjaga yang ada di tempat itu ia bantai dengan sadis. Setelah memastikan semua mati Mayang meloncat menerobos atap dan mendarat di kerumunan orang yang sedang berkelahi


Seperti orang kesurupan Mayang menyabetkan kedua pedangnya ke segala arah,sudah tak terhitung lagi orang yang telah ia bunuh. Mahisa juga seperti kerasukan setan matanya seakan menyala di kuasai rasa dendam dalam dirinya yang menggebu.


Jajang segera menghadangnya.


" Aku lawanmu Mahisa,beruntung sekali dirimu bisa terbebas dari ajian Banyu Ireng ,siapa orang sakti yang bisa menyembuhkan mu?".Mahisa hanya diam dan langsung menyerang Jajang dengan buas.


Jajang benar benar melihat kebuasan Mahisa yang sudah mencapai puncaknya,bahkan ia nyaris terkena sabetan pedang andai ia tidak cepat bergerak menghindari serangan Mahisa yang membabi buta.


Sementara itu Ujang tengah berhadapan dengan Tirta ia yang sempat menganggap remeh musuhnya justru mulai kelimpungan mendapatkan perlawanan sengit dari Tirta. Bahkan ia sangat terkejut ketika Tirta mampu menangkis ajian Kawah Murka hanya menggunakan hanya dengan satu tanganya saja.


" Siapa sebenarnya pemuda ini,tenaga dalamnya sangat tinggi,bahkan aku duga bisa melebihi kekuatan guru"


Ujang kembali menggunakan ajian kawah murka level tiga. Kali ini Tirta merasakan tenaga dalam Ujang semakin besar diapun tak mau main main lagi dan mengeluarkan ajian penghancur Karang.


Ledakan besar memecah telinga,kedua kekuatan beradu. Bahkan Ujang terpental dan jatuh tepat di hadapan Ki Cadas Putih .


" Apa ajian penghancur Karang. Berarti Mahisa masih hidup dan ingin balas dendam" Ki Cadas juga berpikir bahwa pendekar sakti Jaka kelana pasti yang telah menolong Mahisa dan membuat Ujang mati mengenaskan.


" Ehmmm tak salah lagi pasti ,Raja Wisma Kencana sudah turun gunung"


" He kakek tua ,tak usah melamun. Aku orang yang kau cari" Tirta berdiri di hadapan Ki Cadas yang sedang jongkok memeriksa keadaan Ujang.


" Jangan jumawa anak muda,kau telah berani masuk ke kandang macan"


"Aku tak takut Ki tua jelek,aku sendiri adalah singa,ha ha ha "..


Jelas Ki Cadas merasa terhina dan merasa di rendahkan oleh seorang bocah ingusan.

__ADS_1


Dia segera bergerak memutar tubuhnya melintir ,gerakannya begitu cepat dan gesit. Tirta bahkan juga harus menambah pergerakannya untuk mengimbangi serangan Ki Cadas Putih.


Sementara itu Mayang dan Nilam telah bersatu menghadapi kroco kroco yang terus berdatangan mengepungnya.


Mahisa dan Jajang masih berimbang bahkan keduanya masing masing sudah beradu ajian Kawah Murka hingga level tiga namun keduanya masih terjaga untuk bergantian menyerang.


Nampak beberapa orang berseru berusaha memberi tahu kepada Jajang bahwa kebaranya Ujang telah mati oleh ajian penghancur Karang. Tentu saja dia menjadi marah besar.


" Kali ini akan aku keluarkan jurus andalan perguruan kita Mahisa"


mendengar ucapan Jajang tentu Mahisa kaget ia tak mau menjadi batu untuk yang kedua kalinya.


Mahisa berlari masuk ke kerumunan. Jajang sudah tak bisa mengendalikan ajian Banyu Ireng ia melepas ajian itu mencari keberadaan Mahisa yang terus berlari berpindah , beberapa orang yang terkena pukulan banyu Ireng langsung berdiri kaku menjadi batu.


" Awas Dinda ,Nilam hati hati jangan sampai kalian menjadi batu" Sambil berlari Mahisa memberi tahu .


Nilam dan Mayang menjauh dengan melompat ke atap . Mereka menyaksikan kengerian atas ajian Banyu Ireng yang telah membuat banyak orang menjadi batu.


Bahkan Ki Cadas Putih segera meninggalkan pertarungan menuju Jajang untuk menghentikan semakin banyak korban.


" Jang hentikan semua ini atau seluruh murid perguruan akan celaka".


" Ah aku sudah tak perduli guru,yang pasti aku akan membalas kematian Ujang"


" Baiklah kalau kamu mau membalas kematian adikmu. Itu dia pemuda yang berdiri di dekat kursi pelaminan "


Jajang menoleh dan langsung melayang mengarahkan ajian Banyu Ireng ke arah Tirta.


Tirta berusaha menyelamatkan diri dia bergerak cepat melayang naik ke atas pohon.


Kursi pelaminan seketika berubah menjadi batu di hantam ajian Banyu Ireng..


Janjang semakin tak terkendali hingga membuat Ki Cadas Putih semakin murka kepadanya .


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2