
Dewi pun akhirnya mengizinkan Jaka pergi ke istana bawah laut untuk mengambil air suci keabadian untuk menyembuhkan ibunda Ratu Ambarwati.
Walaupun rasa cemburu memenuhi perasaanya, namun ia mencoga menyembunyikan perasaanya demi kesembuhan ibu Ratu.
Jaka segera melompat berlari dengan kaki sesekali menapak di bebatuan tebing yang terjal.
Setelah berhasil keluar dari jurang kematian Jaka segera menuju desa terdekat untuk membeli kuda, agar tenaga dalamnya tidak banyak terkuras karena terbang dengan waktu yang lama.
Setelah melihat sebuah Desa Jaka mendarat dan kemudian berbaur dengan warga.
Jaka berbincang dengan beberapa orang hingga akhirnya ia mengikuti langkah seorang penduduk menuju kandang kuda.
Jaka mengamati sebentar mencoba memilah milah kuda mana yang paling bagus.
Jaka terlihat mengeluarkan seratus koin emas dan membawa sebuah kuda yang bertubuh besar dan juga gagah.
Ia segera melompat ke atas kuda dan memacunya menuju ujung barat pulau jawa.
Kabar Jaka yang telah kembali membuat golongan hitam beramai ramai mencarinya untuk menjajal kesaktian baru mereka.
Belum lama Jaka berlari dengan kudanya nampak dua orang dengan mengacungkan pedang menghadangnya.
Tentu saja Jaka menjadi kesal karena merasa di halangi jalanya.
Ia segera melesat dari atas kuda dan langsung menggunakan jurus pengunci tenaga.
Kedua pendekar yang menghadangnya berteriak setelah Jaka mengunci tenaga dalam mereka.
"Ampun ampun Jaka!"
Kedua orang yang menghadangnya terus saja berlutut memohon ampun.
" Maaf Kisanak, kali ini aku buru buru, tenaga kalian akan segera kembali dan nanti akan kulayani kemauan kalian setelah urusanku selesai!" Jaka membiarkan kedua pendekar dan kembali melompat ke atas kuda untuk melanjutkan perjalanan,namun Jaka berjalan pelan sambil melihat polah lucu kedua pendekar yang menghadangnya.
Sementara kedua pendekar saling menyalahkan.
" Sia sia usaha kita berlatih selama bertahun tahun jika harus berakhir seperti ini,kang!" ucap si boncel.
Sementara yang bertubuh gempal berkata bahwa boncel terlalu kegabah dan jumawa dengan kekuatan barunya.
Malah keduanya terlihat saling pukul dan menjambak rambut seperti anak kecil yang sedang berkelahi.
Jaka tersenyum simpul melirik ke arah keduanya.
" Hah, ada ada saja kelakuan mereka!" gumam Jaka hingga membuat dirinya sedikit terhibur.
__ADS_1
" Ah, kenapa aku jadi berhenti!"
Rupanya Jaka sempat terhenti melihat tingkah konyol kedua pendekar yang menghadangnya,namun ia segera kembali memacu kudanya untuk melanjutkan perjalanan.
Namun tak selang berapa lama tiba tiba saja Jaka di hadang segerombolan orang dengan seragam perguruan macan kumbang.
Nampak seorang pemuda dengan wajah sinis terus menatap Jaka tanpa berkedip.
" Kali ini aku akan membalas kematian ayahku, aku sudah menunggumu sejak lama!" teriak si pemuda.
" Maaf kisanak dan tuan semuanya, mohon jangan halangi jalanku, aku sedang buru buru!" jawab Jaka.
" Tak usah hiraukan kata katanya. Seranggg!" teriak si pemuda.
Mereka segera mencabut pedangnya dan mengeroyok Jaka.
Jurus pedang mereka terlihat sangat cepat, sementara si pemuda memperhatikan anak buahnya yang sedang bertarung.
Jaka segera mencabut pedangnya ia menggunakan jurus pedang kematian, yang di ajarkan guru Chen sewaktu dirinya berada di Tibet.
Gerakan Jaka lebih gesit dan sangat cepat hingga nyaris tak terlihat.
Musuh musuhnya juga terus bergerak dengan mengayun pedangnya sambil berbarengan mengincar tubuh Jaka Kelana.
Tubuh Jaka segera melayang hingga sabetan pedang musuhnya hanya mengenai angin.
Para musuh terkejut melihat gerakan Jaka yang menyilang dan tak terlihat hingga mereka tak sadar jika beberapa bagian tubuh mereka terkoyak.
Darah segar segera mengucur dan beberapa orang tersungkur ke tanah.
Sementara si pemuda terlihat geram dan langsung mencabut tumbak macan kumbang.
" Minggirlah kalian, biar aku tuntaskan dendam ayahku! teriak si pemuda dengan sombong.
" Maaf aku tidak mau bertarung lagi, aku merasa kita bukan musuh paling ini cuma salah paham!" teriak Jaka .
Namun si pemuda tak bisa mengendalikan amarahnya dan langsung menancapkan tumbak macam kumbang ke dalam tanah, hingga tiba tiba munculah tiga wujud harimau kumbang yang langsung berusaha menyarang Jaka.
Jaka kembali menghentakan kakinya ke tanah, kemudian melayang dan mendarat ke sebuah dahan pohon.
Ke tiga harimau menatap Jaka dengan tajam lalu bersama sama melompat.
Jaka sedikit terkejut karena lompatan harimau sangat tinggi dan berhasil mendaratkan kedua kuku yang berada di ujung kaki harimau hingga nyaris merobek tubuh Jaka.
Untunglah Jaka segera menghindar dengan berpindah ke pohon yang lain hingga cakaran harimau mengoyak ranting pohon hingga merobek kulitnya dan meninggalkan guratan akibat cakaran kuku yang tajam.
__ADS_1
Harimau kumbang terus mengejar kemana pun Jaka bergerak.
" Ayo segera habisi orang yang telah membunuh ayahku!" Suruh si pemuda yang bernama Purwaka.
Sementara Jaka terus berpindah posisi dengan terus meloncat di antara dahan dahan pepohonan.
Pikiranya juga menerawang mencoba mengingat ingat siapa sebenarnya orang yang di maksud si pemuda, yang merupakan ayah kandungnya.
Namun Jaka tak mendapatkan bayangan orang yang pernah ia bunur yang berasal dari perguruan macan Kumbang.
" Ehmm, pasti ini salah paham!" pikir Jaka.
Kali ini Jaka berusaha menggunakan ajian pukulan matahari tingkat tiga untuk mengalahkan harimau kumbang.
" Doooorrr, bruggggg!!!
Terdengar suara ledakan dan ketiga harimau kumbang terlempar hingga membentur tanah.
Ketiga sosok harimau hilang.
Purwaka merasa kesal karena ketiga harimau kumbang telah kalah, lalu ia mencabut tumbak yang ia tancapkan ke tanah dan berlari untuk menyerang Jaka.
Energi yang keluar dari tumbak macan kumbang cukup besar hingga Jaka harus menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalam.
Purwaka dengan liar memutar tumbaknya, hingga keluarlah puluhan cahaya yang berbentuk kuku macan melesat ke arah Jaka.
Jaka merasa dirinya dalam bahaya hingga ia pun terpaksa menggunakan pedang suci.
Cahaya mirip kuku macan langsung lenyap terkena pancaran cahaya putih yang keluar dari pedang suci.
Purwaka sungguh tidak percaya musuh yang ia hadapi sungguh luar biasa.
" Maafkan aku ayah, aku belum bisa membalas dendanmu!" wajah Purwaka menjadi sedih.
Namun tiba tiba Jaka sudah berlutut di hadapanya.
" Hei, pemuda ayo tuntaskan dendam ayahmu jika kamu mau menjadi anak yang berbakti, namun sebelum kau membunuhku,aku ingin tahu siapa nama ayahmu?"
Purwaka menatap Jaka dengan tajam, ia justru mulai ragu apa benar bahwa ayahnya telah mati oleh pemuda yang sedang berlutut di hadapanya.
" Ayahku bernama Raja Langit, ia adalah seorang patih di kerajaan Karang Kekal!" jawab Purwaka.
Tentu saja Jaka terkejut dan segera berdiri.
" Apa paman patih Raja Langit telah Mati. Tunggu anak muda jelas ini kesalah pahaman. Perlu kamu tahu bahwa Patih Raja langit sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Jadi mana mungkin aku tega mengahiri hidupnya.
__ADS_1
Jaka terus berusaha meyakinkan si pemuda bahwa bukan dirinyalah yang telah membunuh ayahnya Raja Langit.