JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Goa Drupadi


__ADS_3

Tirta dan Nilam terus menyusuri goa hingga pandangannya terhenti di sebuah telaga ,Tirta dan Nilam pandanganya tertuju kepada cahaya keemasan yang melayang di atas telaga.


" Kang apakah itu bentuk dari pedang naga?"


"Aku juga belum tahu Dinda.Aku akan mencoba mendekati cahaya itu kamu di sini saja sambil mengawasi,jika ada sesuatu yang terjadi padaku!"


Nilam mematuhi perintah Tirta,yang langsung melompat melayang mendekati cahaya keemasan di atas telaga. Namun hal yang sama seperti Mahisa terjadi tubuh Tirta terlempar dan seakan melayang di dalam lorong yang gelap gulita. Nilam juga kebingungan ketika melihat Tirta terpental dan kemudian hilang entah kemana.


Nilam berusaha mendekati telaga untuk mencari keberadaan Tirta namun ia tak menemukanya dan Tirta hilang entah kemana.


Sementara itu Tirta telah berada di sebuah ruangan yang di penuhi cahaya terang benderang ia juga melihat seorang pria dengan memakai pakaian layaknya seorang Raja.


" Silahkan tuanku aku memang sudah menunggumu!"


Tirta terkejut dengan perkataan orang di depannya yang sama sekali tidak dia kenal.


" Tak usah heran tuanku,aku adalah penjaga dari goa ini,namaku Artaloka aku adalah siluman naga yang tadi menyerangmu"


" Maaf tuan,jika kedatanganku membuatmu terganggu?" Tirta mengangkat kedua tangannya memberi salam sebagai tanda permohonan maaf.


" Tidak tuanku,aku yang harusnya meminta maaf yang tidak tahu bahwa sesungguhnya jodoh dari pedang naga telah berada disini. Tapi masih ada beberapa ujian lagi yang harus kamu hadapi untuk berhasil mendapatkan pedang naga emas!"


Tirta menyanggupi ujian yang akan di berikan kepadanya oleh Artaloka.


" Baiklah mari ikutlah denganku!"


Tirta mengikuti Artaloka ,ia mengajak Tirta terbang ke atas puncak gunung Arjuna.


" Masuklah kamu ke dalam sana Tirta"


Artaloka menunjukan arah dengan tangannya. Tirta terkejut ternyata tempat yang dimaksud adalah kawah gunung Arjuna.


" Apa kamu takut Tirta?"


" Tidak Artaloka,aku percaya apapun yang akan terjadi kepada diriku kalau takdir belum menentukan aku untuk mati ,aku akan tetap hidup sekalipun aku akan masuk ke kawah"!


" Bagus sekarang lakukanlah!"


Mendengar ucapan Artaloka,Tirta segera melompat masuk kedalam kawah,awalnya ia menahan panas yang begitu dasyat serasa membuat kulitnya melepuh,namun mencoba menahan dan memejamkan matanya pasrah kepada yang maha kuasa.

__ADS_1


" Cukup Tirta,bukalah matamu. Kau sudah berhasil dengan ujian pertamamu!"


Mendengar suara Artaloka,Tirta membuka kedua matanya,ia lantas terkejut menyadari bahwa dirinya justru sedang berendam di sebuah sungai.


" Apa ini hanya air sungai !"


" Ia Tirta namanya saja ujian tak mungkin aku mencelakakanmu dengan menyuruhmu masuk ke kawah. Jangankan manusia Dewa pun akan meleleh jika masuk ke dalam Kawah,Ha ha ha ha!"


Tirta kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal." Sial aku di kerjai oleh Artaloka!"


" Jangan ngedumel Tirta,aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Masih ada dua tahap lagi. Ayo cepat naiklah"


Tirta segera naik dari dalam sungai,dia kembali merasakan keanehan tubuh dan pakaianya yang awalnya basah kuyup tiba tiba kering seperti habis di jemur.


" Sudah tidak usah heran ini alam gaib,alam yang tidak bisa di logika oleh pikiranmu"


Tirta kembali menggaruk kepalanya" Aduh aku kena preng" bisik hati Tirta.


Namun lamunan Tirta harus berlalu ketika tubuhnya kembali melayang dan kini berada di sebuah Padang pasir yang sangat luas.Dia melihat seorang pria tua sedang merintih karena kehausan dan minta tolong kepadanya agar memberinya air untuk mengobati dahaganya.


Tentu saja Tirta kebingungan ia berpikir bagaimana mungkin di Padang pasir yang sangat gersang ini akan ada sungai atau sumur yang dapat di ambil airnya.


Tirta menghentakan kakinya ke tanah berharap bisa melayang seperti hal yang biasa ia lakukan. Namun kali ini berbeda di saat ia melompat justru kakinya terpeleset dan tubuhnya jatuh. Tirta berjalan sampai berkilo kilo meter guna mencair sungai ataupun sumur yang berada di gurun.


Sempat ia melihat nampak ada percikan cahaya yang ia lihat seperti kubangan air di tengah gurun. Tirta sempat berpikir bahwa itu mungkin sungai atau air yang tergenang karena hujan. Tirta berlari dengan sepenuh tenaga namun justru yang ia lihat hanya fatamorgana.


Tirta yang merasa kehausan juga membuat tubuhnya merasa lemas,namun ia merasa kasihan dengan kakek yang sedang kehausan. Tirta kembali berjalan dengan sisa tenaga berharap akan menemukan mata air . Pandanganya mulai samar tubuhnya lemas karena merasa kehausan di Padang pasir yang sangat panas dan luas.


Bayangan kakek tua kembali terlintas ,Tirta kembali bangkit dan berjalan mengitari Padang pasir kali ini dia melihat ada sebuah sungai yang mengalir tak jauh dari tempat ia berdiri.


Tirta lantas mendekati sungai itu namun ia kembali di kejutkan dengan menghilangnya sungai yang ada di hadapannya. Namun di saat ia dalam kebingungan kakek tua yang tadi minta tolong kepadanya tiba tiba muncul dan berdiri di hadapannya.


" Anak muda kamu sangat gigih untuk memperjuangkan nasib orang lain,walaupun kamu harus banyak menanggung derita.Kamu telah lulus dengan ujian yang kedua"


Padang pasir seketika hilang dan Sekarang yang ada hanyalah rasa sejuk dan hutan belantara yang di tumbuhi banyak pohon besar nan rimbun.Nampak pula terdapat buah buahan beraneka ragam yang bergelantungan di atas pohon.


Tirta yang merasa perutnya lapar segera melompat dan kali ini tubuhnya terasa ringan ,ia melayang dan memetik beberapa buah mangga,kemudian ia meraih buah kelapa.


Tirta dengan lahap memakan mangga hingga tersisa hanya bijinya,lalu tangannya memukul buah kelapa hingga terbelah dan minum airnya yang terasa begitu manis.Hingga ia tak sadar akan kedatangan Artaloka yang sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


" Ayo selesaikan dulu makanmu dan bersegeralah kemu menuju goa Srikandi di sanalah akan kamu temukan kitab Elang Sakti yang akan menjadi pelengkap Pedang Naga Emas"


Tirta segera bangkit dan mengikuti langkah Artaloka.


" Sampai di sini aku bisa mengantarmu. Dan seterusnya itu akan menjadi tanggung jawabmu. Kembalilah ke telaga dan kamu akan dapat mengambil pedang Naga Emas!" Artaloka segera lenyap dari pandangan Tirta.


" Aduh aku bisa gila kalau terlalu lama di alam gaib. Apapun yang terjadi di sini sama sekali tidak bisa aku duga. Kali ini apalagi yang akan terjadi kepadaku. Apakah ini nyata atau hanya ilusi" Tirta mencoba mencubit lenganya dia pun merintih kesakitan.


" O rupanya ini nyata dan aku sedang tidak bermimpi"


Tirta lantas berjalan sesuai petunjuk Artaloka . Nampaklah sebuah lobang yang menganga. Tirta segera mendekati mulut goa,namun ia terkejut ketika mendengar ada suara percakapan dari dalam goa. Tirta mencoba berjudi dengan dirinya ia beranggapan bahwa yang di dalam pasti dedemit. Namun ia tak perduli ia menggunakan ajian selimut asap dan membutnya menghilang. Tirta masuk dan memperhatikan dua orang yang sedang bercakap.


" O rupanya aku berada di alam dunia,itu adalah dua orang pendekar yang kemarin aku temui yang menamakan dirinya sebagai sepasang pendekar dari ujung kulon."


Tirta timbul niat untuk mengerjai kedua orang itu,ia juga teringat ketika Nilam mukanya belepotan ketika bertarung melawan Mayang.


Dia lalu berjalan mencari sebuah batu dan melemparnya kehadapan kedua pendekar dari ujung kulon.


Mahisa dan Mayang terkejut dan langsung berdiri kedua pasang mata mereka mengawasi seluruh sudut goa namun tidak menemukan apapun.


" Kanda,apa kita sedang di ganggu mahluk halus"


" Kemungkinan Dinda, pasti ini penunggu goa . Tapi bagaimana mungkin baru kali ini ia datang mengganggu. Apa dari kemarin dia sedang main ke rumah temanya?"


Ucapan Mahisa membuat Mayang tertawa.


" Tak usah konyol kanda.!"


" Kan bangsa jin dan manusi memiliki watak yang sama,sama sama punya napsu dan akal"


" Tapi ia benar juga kang"


Tirta yang mendengar percakapan Mahisa dan Nilam tertawa namun ia berusaha menutup mulutnya agar tidak sampai terdengar. Tirta kembali berjalan mendekati Mayang dan mendorongnya ke arah Mahisa.


" Dinda apa yang kamu lakukan?"


" Tadi seperti ada yang mendorongku Kanda!"


Mahisa merasa di permainkan ia kemudian menutup mata dan menggunakan mata batinya untuk melihat siapa yang telah mengganggunya.Tak berapa lama dia melihat asap mengepul di hadapannya ia mundur sejenak untuk mengambil batu yang kebetulan berada di bawahnya dan melemparnya ke asap yang berada di hadapannya. Tirta yang sedang lengah tak sempat menghindar hingga lenyaplah pengaruh dari ajian selimut asap . Yang tentunya membuat Mahisa dan Mayang terpana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2