JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Kerajaan Panaruban


__ADS_3

Semua orang takut tapi sekaligus berdejak kagum melihat elang raksasa mendarat di pelataran kadipaten.


Rupanya yang sangat besar hampir seukuran dua orang Dewasa sungguh membuat bulu kuduk merinding.


Namun setelah rupa elang raksasa berubah menjadi sosok Dewi semua mata terpana dengan wajah ayu yang di milikinya.


"Hidup elang raksasa dan Jaka Kelana"


" Hidup"


"Hidup"


Jaka kelana seperti biasa di sambut bagaikan pahlawan, nama keduanya begitu di elu elukan.


" Maaf semuanya tak usah berlebihan!" teriak Jaka.


Raja Pandu" itu memang pantas engkau terima Raja!".


Raja Pandu kemudian memberi hormat dan di ikuti oleh semua prajurit dan para penduduk.


Jaka dan Dewi menjadi canggung.


"Baiklah sekarang berdirilah" Jaka kembali berteriak supaya prabu Pandu menyuruh semua punggawa dan rakyatnya bangkit.


Para wanita yang di pimpin oleh istri pangeran Nakula membawa bunga dan di taburkan untuk menyambut Dewi Kumalasari.


Dewi pun tak dapat menolak ketika Istri Nakula yang bernama mekar sari mengajaknya masuk ke kadipaten untuk di rias.


" Ayo, ikutlah bersama putri Mekar Sari Dinda, biar dinda menjelma menjadi bidadari!" ucap Jaka.


Dewi hanya melotot, ia sebenarnya sangat tidak suka harus berdandan dan memakai kebaya layaknya sang puteri.


Karena Dewi lebih suka memakai pakaian yang longgar yang tidak menyulitkanya untuk bergerak.


Sementara itu Jaka juga memasuki ruangan yang biasa di gunakan pangeran Nakula untuk bermusyawarah.


Dewi pun keluar setelah di rias, semua mata terpana melihat Dewi berjalan dengan anggun.


Kecantikanya semakin bersinar setelah wajahnya di poles oleh Mekar Sari bersama para dayang.


Sadewa dan Nakula juga tertegun sejenak melihat kecantikan Dewi Kumalasari, namun keduanya buru buru menundukan kepala, setelah melihat ekspresi Jaka Kelana, yang mukanya sedikit masam karena semua orang terpesona akan kecantikan istrinya.


Patih Wiranata segera mencairkan suasana, ketika semua orang terpesona dengan kecantikan Dewi. Sang Patih segera memberi arahan supaya Raja Pandu dan permaisuri bersedia untuk kembali ke istana Naga Emas

__ADS_1


Sementara pangeran Nakula akan menggantikan Pangeran Sadewa untuk memimpin kerajaan Naga Emas.


Namun Pangeran Nakula belum bisa memutuskan, beliau justru meminta waktu dan ingin berdiskusi dengan ayahnya Pandu.


Akhirnya Raja Pandu di ajak masuk ke ruangan lain oleh Nakula untuk berdiskusi.


Sementara Pangeran Sadewa mulai merasa was was, namun ia sudah pasrah dan akan menerima segala keputusan dengan ikhlas.


Tak butuh waktu lama untuk berdiskusi Raja Pandu dan Pangeran Nakula kembali memasuki ruang pertemuan.


" Aku sudah memutuskan untuk tetap berada di kadipaten Naga Perak, sementara adinda Sadewa tetap memimpin Naga Emas, tapi dengan satu catatan bahwa engkau harus memimpin dengan adil, aku juga meminta supaya Naga Perak di kukuhkan menjadi kerajaan seperti layaknya Naga Emas!" pungkas Pangeran Nakula.


Tentu saja Sadewa sangat terkejut, ia berusaha menolak dan menyuruh kakaknya Nakula untuk memimpin Naga Emas.


Raja Pandu berusaha menengahi hingga akhirnya Sadewa bersedia kembali memimpin Naga Emas.


Semua orang menyambut gembira atas keputusan tersebut.


Setelah semua menerima segala keputusan, Pangeran Nakula segera menyuruh para bawahanya untuk menyiapkan pesta untuk merayakan kedamaian yang terjalin antara Naga Emas dan Naga Perak yang sudah cukup lama bersitegang.


Suara gamelan mulai terdengar di pelataran kadipaten, rakyat pun mulai berbondong bondong memenuhi pelataran untuk melihat pertunjukan reog.


Pertunjukan reog berlangsung selama tiga hari berturut turut untuk menghibur para penduduk.


Sementara Jaka dan Dewi kembali memakai pakaian biasa dan sudah bersiap di atas kudanya untuk melanjutkan perjalanan.


Patih Wiranata memeluk Jaka dan Dewi, ia tak lupa menitip salam untuk Resi Somala yang merupakan sahabat seperguruanya.


Jaka dan Dewi melambaikan tangan yang di sambut oleh Raja Pandu dan penduduk dengan menundukan kepala untuk memberi hormat.


Jaka dan Dewi memacu kudanya untuk melanjutkan perjalanan.


Hingga tibalah mereka memasuki sebuah pasar yang cukup ramai, seperti biasa Jaka dan Dewi berjalan pelan di atas kuda, untuk mencari kedai makan.


"Maaf Kisanak, ini daerah apa ya?" Tanya Jaka bertanya kepada penduduk.


"Ini wilayah kerajaan panaruban, tuan!" jawab penduduk.


Jaka dan Dewi mengikat kudanya di sebuah bambu yang di tancapkan di tanah di halaman kedai, lalu mereka pun masuk untuk memesan makanan.


Suasana di kedai cukup ramai karena letaknya memang sangat dekat dengan pasar.


Dewi yang tengah duduk sambil menunggu Jaka yang sedang memesan makanan tak sengaja mendengar perbincangan para tamu mengenai putri Sekar Mayang yang sakit akibat penyakit aneh yang ia derita.

__ADS_1


Para tamu juga berbincang bahwa Raja Rangga Wulung sedang mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang mampu menyebuhkan penyakit anaknya akan di beri hadiah besar.


Dewi merasa tertarik dengan cerita tersebut hingga ia segera bercerita kepada Jaka Kelana perihal Putri Sekar Mayang.


Jaka awalnya tidak tertarik, namun Dewi terus membujuk supaya suaminya bersedia untuk sekedar membantu menyembuhkan sang putri.


" Tapi aku bukan tabib, dinda!" jawab Jaka.


"Tapi setidaknya kita coba dulu Kanda, bukankah agama kita mengajarkan untuk saling tolong menolong, kita coba dulu ya Kang, biar masalah kesembuhan kita pasrahkan kepada sang pencipta Allah SWT!" jelas Dewi Kumalasari.


Jaka sudah tidak bisa mengelak, ia juga menyadari bahwa tujuanya berkelana untuk berusaha menolong sesama sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.


" Baiklah Dinda, kita coba saja!" balas Jaka.


Dewi pun semringah dan segera membayar makanan.


"Maaf pelayan, aku mau bertanya arah ke kota raja?" tanya Dewi sambil menyodorkan 5 keping koin perak untuk membayar makanan.


" Oo nona juga ingin ikut sayembara, nanti setelah pasar lurus saja, ketemu persimpangan belok kiri" jawab pelayan.


" Terimakasih pelayan" balas Dewi sambil menarik tangan Jaka dan bergegas mengambil kudanya menuju kotaraja.


Suasana di kotaraja nampak lebih ramai, rupanya para tabib dan dukun juga sudah banyak berdatangan, mereka bergantian masuk ke istana dan mencoba menyembuhkan Putri Sekar Mayang.


Sementara Raja Rangga Wulung bersama permaisuri terlihat cemas melihat kondisi anaknya yang semakin lemah, sementara belum ada satu tabib atau dukun yang mampu untuk menyembuhkan Putri Sekar Mayang.


Hingga akhirnya setelah antrian panjang kini tibalah giliran Jaka dan Dewi memasuki ruangan untuk mencoba mengobati Putri Sekar Mayang.


Dewi mencoba memeriksa nadinya dan terasa sangat lemah.


"Kanda kita harus cepat menolongnya sebelum terlambat!" ucap Dewi.


Jaka dan Dewi segera menyalurkan hawa murni, dan perlahan tubuh Putri Sekar Mayang yang awalnya dingin mulai terasa hangat, denyut nadinya juga mulai normal.


Permaisuri juga nampak bahagia setelah ikut meraba kening anaknya yang mulai terasa hangat.


Namun sudah cukup lama menunggu tubuh sang putri tak kunjung sadar.


Jaka segera bersila, ia melakukan penerawangan.


Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa terlihat sebuah bayangan yang mirip sang putri tengah berada di suatu tempat yang sempit serta di jaga ketat oleh banyak prajurit.


Jaka kembali membuka matanya , ia pun bangkit dan mencoba bertanya kepada Raja Rangga Wulung, mengenai kejadian apa yang menimpa tuan putri sebelum sakit.

__ADS_1


__ADS_2