
Tirta sudah hampir sampai di puncak Bukit Setan.
Suara pertarungan di atas bukit mulai terdengar.
Rupanya sudah banyak para pendekar aliran hitam yang baku hantam hingga terbunuh demi mendapatkan Pedang Setan.
Banyak tubuh bergelimpangan di tanah dengan tubuh bersimbah darah.
Tirta gemetaran, ia sedikit ketakutan melihat banyak darah mengalir dan melihat beberapa potongan tubuh manusia yang berserakan.
Namun ia kembali terbayang akan wajah ayahnya Arya Janu saat menemui ajal dengan lidah menjulur dan jadi cemoohan warga serta banyak air ludah warga yang merasa jijik dengan perilaku ayahnya.
Tentunya hal itu membuat tekad Tirta kembali membara, ia mengendap melalui semak semak menuju jurang yang berada di tengah Bukit Setan.
Rupanya ada seorang pendekar yang melihat dan berusaha mengejar Tirta.
Tanpa rasa takut Tirta yang sudah berada di tepi jurang menjabut pedangnya berniat menyerang orang yang mengejarnya.
Namun justru si pendekar segera melompat dan menendang tubuh Tirta hingga jatuh ke dalam jurang lembah Setan.
Si pendekar tertawa puas dan segera kembali membantu temanya yang sedang bertarung.
Sementara itu sudah banyak pendekar hitam yang meregang nyawa dan sudah tak terhitung jumlahnya, namun mereka terus saja bertarung untuk memenangkan kelompoknya dan berharap ketua perguruan dapat mendapat pedang setan, sehingga perguruan mereka akan di segani dan di takuti oleh perguruan lain.
Sementara tubuh Tirta melayang hingga akhirnya terhempas ke jurang, tangnya berusaha bergerak meraih dahan atau batang pohon yang bisa ia jadikan pegangan.
Tubuhnya terus membentur pohon hingga memantul seperti bola bergantian dari satu pohon ke pohon lainya.
Namun ia cukup lega ketika berhasil meraih sebuah dahan dengan cukup kuat dan membuat tubuhnya tergantung.
Tirta segera mengaitakan tali rotan di pohon tersebut dan ujungnya ia lilitkan melingkari tubuhnya.
Pelan pelan Tirta menuruni tali.
Namun ia sedikit terkejut melihat beberapa sosok tubuh manusia juga melintas di depanya.
Tirta tak memperdulikanya, ia mengira pastilah mereka orang yang saling bertarung hingga akhirnya jatuh ke jurang.
Tirta berusaha cepat menuruni tali sebelum keduluan sama pendekar lain yang mengincar Pedang Setan.
Rupanya pertarungan di atas bukit sudah mendapatkan pemenangnya, nampak beberapa orang dengan seragam hitam bergambar tengkorak yang memenangkan pertarungan.
Rupanya mereka berasal dari perguruan lembah Tengkorak.
" Ketua kuharap kita bisa segera mendapat pedang Setan dan menguasai dunia persilatan!" ucap seorang yang bertubuh besar dengan kumis tebal dan brewokan.
__ADS_1
" Ha ha ha ha, uhu uhu uhu!"
Nampaklah seorang kakek yang tua renta tertawa hingga terbatuk batuk namanya adalah Ki Sengkala yang merupakan ketua dari perguruan Lembah Tengkorak.
" He he he he, terimakasih Bajra, tak sia sia aku menjadikan dirimu murid utamaku, baiklah aku akan segera menuruni jurang untuk mengambil Pedang setan!" ucap Ki Sengkala yang langsung melompat menggunakan ajian meringankan tubuh menuju dasar jurang.
Bajra dan teman temanya menunggu dari pencak bukit setan sambil minum arak yang biasa mereka bawa.
Sementara itu Tirta sudah berhasil mencapai dasar jurang dan mulai memasuki goa di mana pedang setan tersimpan.
Namun rupanya ada sebuah kekuatan dasyat yang melemparnya hingga mengenai pohon.
Badanya kembali merasakan sakit hingga pandanganya mulai berkunang kunang dan akhirnya tak sadarkan diri.
Ki Sengkala mendarat dengan mulus di dasar jurang, ia cukup hati hati karena merasa ada sebuah energi yang melindungi goa di hadapanya.
Ki Sengkala segera memasang kuda kuda dan melepaskan pukulan tenaga dalamnya ke arah goa.
" Doooorrrr"
Ledakan terjadi hingga mengepulkan asap putih.
Dua sosok manusia dengan tanduk tiba tiba muncul dan menyerang Ki Sengkala.
Sementara itu Tirta mulai siuman dan mendengar suara pertarungan yang cukup dekat.
Namun Tirta tak memperdulikanya di saat mereka sedikit jauh bertarung dari mulut goa Tirta merangkak dan berhasil masuk ke dalam goa.
Ia berusaha mencari keberadaan Pedang Setan, hingga akhirnya matanya berbinar melihat sebuah pedang menancap di sebuah batu dengan warna merak seperti darah.
Dengan sekuat tenaga Tirta berusaha mencabut Pedang Setan, namun pedang tersebut sedikitpun tak bergeming.
Tirta yang merasa putus asa ingin segera menghiri hidupnya, ia merasa sudah tak layak hidup karena tak dapat membalas dendam atas kematian ayahnya.
Dengan kuat ia memukulkan kepalanya ke dinding goa hingga darahnya muncrat sampai mengenai pedang setan.
Tirta mulai terasa kepalanya pusing darah memenuhi seluruh tubuhnya hingga kembali mengalir dan mengenai batu yang di atasnya tertancap Pedang Setan.
Darah yang mengandung api dendam membuat Pedang Setan bergerak gerak dan menyedot semua darah yang mengalir membanjiri batu.
Tirta tiba tiba mendengar seperti suara memanggilnya.
" Tirta, Tirta, aku sudah lama menunggumu.
"Siapa kamu?" sahut Tirta.
__ADS_1
"Aku adalah mahluk penunggu pedang setan, cepat cabutlah pedang itu dan segera balaskan dendamu!""
Tirta segera berlari dan mencabut Pedang Setan hingga tubuhnya terangkat.
Pedang Setan segera mengalirkan energi iblis ke tubuh Tirta hingga membuat otot ototnya membesar dan tubuhnya di penuhi energi yang sangat dasyat.
Bahkan semua bajunya robek dan hanya menyisakan celana.
Tirta merasa semua rasa sakitnya telah hilang dan kepalanya tidak merasa sakit lagi.
" Aku berhasil mendapatkan pedang setan, tunggulah kedatanganku Wiramastra, akan aku luluh lantakan Kadipaten Karang Ringin beserta semua penduduk kampung yang telah menghina ayahku!" teriak Tirta hingga terdengar sampai ke atas bukit.
Bajra dan temanya merasa janggal karena suara tersebut bukanlah suara dari Ki Sengkala.
Sementara itu Ki Sengkala kaget ketika dua orang lawanya tiba tiba menghilang dan ia merasa bukit akan runtuh karena tanah tiba tiba bergerak seperti terjadi gempa bumi.
" Ketiwasan, rupanya ada yang sudah mendahuluiku, sial aku harus segera pergi sebelum bukit setan benar benar runtuh!"pikir Ki Sengkala yang langsung melesat dengan ilmu meringankan tubuh menuju atas bukit.
" Di mana pedang setan guru?" tanya Bajra.
" Sudahlah mending kita cepat pergi, sebelum terlambat!" bentak Ki Sengkala.
Namun belum sempat mereka bergerak pergi, Tirta melesat dengan menggenggam Pedang Setan berdiri di hadapan Ki Sengkala dan Bajra.
" Mau kemana kalian!" teriak Tirta.
Bajra:" Guru itu pemuda yang berhasil aku tendang ke jurang!"
Ki Sengkala terlihat panik, ia merasa nyawanya terancam bersama seluruh pengikutnya.
"Matilah kalaian semua!" Teriak Tirta sambil melompat dan menyerang semua orang di hadapanya dengan beringas.
Mata Ki Sengkala dan Bajra terbelalak melihat semua anak buahnya telah tewas dengan tubuh terburai, darah tak setetes pun bercecer.
Rupanya Pedang Setan telah menyerap semua darah korbanya hingga tak tersisa sedikitpun.
Bajra ketakutan dan berlindung di belakang gurunya.
Ki Sengkala segera mengeluarkan sebuah keris dan bersiap melawan Tirta.
Tirta kembali melesat dan dengan membabi buta berusaha menyayat tubuh ki Sengkala dengan pedang setan.
Sementara Bajra justru memilih berlari dan meninggalkan gurunya.
" Kurang ajar kau Bajra !" teriak Ki Sengkala, namun tak lama kakek tua itu terdiam ketika Tirta berhasil menusukan pedangnya ke perut Ki Sengkala.
__ADS_1
Pedang Setan menyerap semua darah Ki Sengkala hingga tubuhnya menghitam dan kemudian jatuh tersungkur.
" Ha ha h ha ha, aku telah menjadi kuat, tunggulah kematianmu Wiramastra!" teriak Tirta dengan matanya seakan menyala karena di liputi dendam.