
Kaisar Ci dan Jaka, berkuda menuju pasar terbesar di wilayah Kekaisaran Ci.
Pasar yang merupakan pusat perdagangan di Kekaisaran.
Ini adalah untuk pertama kalinya Kaisar Ciming mendatangi pasar Kuanglong dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Suasana pasar yang begitu ramai, para pedagang juga berusaha memanggil manggil para pembeli, supaya membeli dagangan mereka.
Jaka dan Kaisar Ci terus berjalan berkeiling melihat lihat, sambil berpura pura membeli makanan.
Tanpa sadar sang penjual berkata kepada Kaisar, bahwa semenjak Kaisar Cinku meninggal dan di gantikan oleh anaknya Ciming bea dan sewa lapak di naikan, banyak juga prajurit yang mengaku dari pihak kerajaan meminta pungutan liar.
Mereka juga tak segan segan menyakiti para pedagang.
Kaisar Ciming kaget raut mukanya sedikit merah menahan emosi.
Jaka sengaja menginjak kaki kaisar, dan berbisik agar kaisar menahan emosi, atau penyamaranya akan di ketahui rakyatnya.
Belum sempat si pedagang menyampaikan keluh kesahnya, terdengar suara keributan antara bebepa pedagang dan beberapa orang yang memakai seragam prajurit kerajaan.
Tentunya Sang Kaisar merasa murka, ia segera berlari dan berusaha melerai pertikaian.
Kini para pedagang mulai berani melawan, karena pungutan yang di minta para prajurit cukup memberatkan mereka.
Namun para prajurit mendesak dan berkata bahwa ini perintah kaisar Ciming, dan bagi siapa saja yang melawan akan di hukum.
Kaisar Ciming tak dapat menahan emosinya, tanganya reflek di ayunkan dan mengenai pipi seorang prajurit.
Semua mata memandang Kaisar Ci, namun mereka menyangka bahwa orang yang menampar prajurit adalah orang biasa dan sok jadi pahlawan.
Merekapun segela mencabut pedangnya dan mulai menyerang Kaisar Ci, Jaka segera melompat dan membantu Kaisar Ci melawan para prajurit.
Namun mereka hanyalah parajurit kroco, hingga dengan mudah Kaisar Ci dan Jaka dapat membuat mereka babak belur.
Rupanya komplotan mereka cukup banyak, melihat teman temannya babak belur, puluhan orang berpakaian prajurit berlari dan berusah membantu teman temanya.
Kaisar Ci mengajak Jaka untuk pura pura berlari, kaisar Ci takut akibat pertarungan nanti banyak barang barang milik pedagang yang hancur.
__ADS_1
Keduanya berlari, puluhan orang mengejar.
Kaisar Ci dan Jaka berhenti di sebuah lahan kosong, kini mereka bersiap menyambut serangan dari para prajurit kerajaan.
Pertarungan berlangsung sengit, bahkan banyak para pedagang dan pembeli terpaksa menghentikan kegiatanya dan justru menonton pertarungan.
Rupanya Chin Suang juga sedang berada di pasar, ia heran melihat banyak orang berkerumun dan terdengar baku hantam.
Sementara itu, jumlah prajurit yang menyerang Kaisar dan Jaka semakin banyak, entah dari mana datangnya, kini Jaka dan Kaisar Ci harus menghadapi sekitar lima puluh orang .
Chin Suang segera terbang dan memasuki arena pertarungan, dengan menggunakan sepasang pedang kembarnya ia bergerak meliuk liuk, puluhan orang terkapar bersimbah darah.
Kaisar Ci dan Jaka merasa terpulau dengan jurus jurus yang di gunakan Chin Suang, gerakan pedang yang begitu cepat dan pergerakanya nyaris tak terlihat.
Chin Suang semakin bergerak cepat dan membuat para prajurit melemparkan senjata, mereka berlutut dan memohon ampun kepada Chin Suang.
Kaisar berbisik kepada Jaka bahwa jantungnya kembali berdebar kencang, melihat sosok wanita bercadar yang berdiri membelakangi keduanya.
Chin Suang kini memasukan kedua pedangnya ke sarungnya, ia hendak berbalik badan, namun seketika sebuah anak panah melesat, Chin Suang reflek menghindar dan anak panah berhasil merobek cadarnya.
Terbukalah cadar Chin Suang, semua mata seakan melotot melihat rupa dari Chin Suang.
Sementara Jaka terus mengawasi anak panah yang terus bergerak dan hampir mengenai tubuh Kaisar.
Tanganya bergerak cepat menangkap anak panah yang terus melaju.
"Hampir saja.."
"DEEEGG"
Kaisar terus menarik nafas dalam dalam,
melihat Jaka memegang anak panah yang hampir saja bersarang di dadanya.
"Waspadalah Ci! Jangan mudah terlena dengan apa yang kita lihat di depan mata".
" Terimakasih Pemuda asing, aku tidak akan melupakan jasamu?"
__ADS_1
" Ini sudah kewajibanku Kai..?"
Belum sempat Jaka menyebut nama kaisar, Kaisar Ci lantas menginjak kaki Jaka.
Jaka kemudian berteriak, ia menyadari bahwa dirinya dan Kaisar sedang menyamar.
Chin Suang terbang dan berusaha mencari siapa yang telah melesatkan anak panah ke arahnya.
Terlihat dua orang berlari dengan membawa busur ke arah ilalang yang tumbuh lebat di belakang pasar.
Chin Suang berusaha mengikuti, berhentilah kedua orang tersebut di sebuah rumah yang cukup besar, di dalamnya juga terlihat banyak orang yang sedang menunggu kedatanganya.
Tak ingin kegabah Chin Suang hinggap di sebuah dahan pohon dan mengawasi kedua orang yang terlihat sedang berbincang.
Sementara itu Kaisar dan Jaka berusaha mengejar Chin Suang yang sekelebat gerakanya masih terlihat dan menuju padang ilalang.
Jaka dan Kaisar melompat di antara atap atap lapak kemudian berlari melewati jalan setapak yang di kelilingi ilalang yang tingginya seukuran kepala manusia.
Keduanya terus berjalan mengikuti jalan setapak hingga terputus di sebuah rumah yang cukup besar.
Puluhan orang segera keluar, beberapa orang terdengar berteriak bahwa orang yang menyerangnya di pasar berada di depan markas.
Sekitar lima puluh orang keluar dengan membawa pedang. Dua orang yang kemungkinan pemimpin mereka segera menyuruh untuk menangkap Jaka serta kaisar Ci.
Beberapa orang menyerang dan sisanya menyiapkan tali dan juga jaring, untuk di buat perangkap.
Kaisar Ci dan Jaka kembali terlibat pertarungan.
Chin Suang masih terus mengawasi dari atas pohon, ia mulai memperhatikan jurus jurus Jaka yang di rasa hampir sama gerakan dasarnya dengan jurus yang ia miliki.
Jaka dan Kaisar Ci tak menyadari bahwa serangan pertama hanya untuk membuat konsentrasi keduanya buyar.
Ahirnya beberapa orang melompat dan melempar jaring ke arah keduanya.
Jaka dan Kaisar tubuhnya segera masuk ke dalam perangkap.
Beberapa orang bergerak cepat dengan membawa tali, kemudian digunakan untuk mengikat Jaka dan Kaisar Ci.
__ADS_1
Mereka di tarik dan di masukan di sebuah ruang yang di lapisi jeruji besi.