
Dewi mendekati Jaka dan memegang keningnya.
Jaka merasa aneh dengan tingkah laku Dewi yang tiba tiba memegang keningnya.
"Apakah kamu baik baik saja, Kanda?"tanya Dewi Kumalasari.
" Memang kenapa, aku baik baik saja!"jawab Jaka Kelana.
" Aku ingin pastikan bahwa kanda masih waras, sebab tadi yang kanda lakukan terlihat sangat kejam, wk wwk wkk!" ucap Dewi sedikit bergurau.
Jaka mengerutkan keningnya dan memukul kepala Dewi dengan lirih.
"Enak saja, aku tidak gila, Dinda!" balas Jaka.
Jaka segera mencubit perut istrinya dan berlari, Dewi segera mengejar, hingga tak terasa sudah dekat di tenda Raja Sadewa.
Jaka dan Dewi kembali mengenakan penutup muka yang sempat mereka lepaskan.
Keduanya melompat mendekati tenda Raja Sadewa. Para prajurit segera mengepung, namun Jaka menahan mereka.
" Prajurit aku tidak ingin menyakiti kalian, aku hanya ingin bertemu dengan junjungan kalian, Raja Sadewa!" pungkas Jaka.
Para prajurit tak menghiraukan, mereka justru mencabut pedangnya masing masing dan bersama sama menyerang dua orang berjubah hitam dan memakai topeng yang ingin bertemu dengan Raja Sadewa.
Suara gaduh membuat Raja dan Patih yang sedang tidur menjadi terbangun, kaduanya lantas keluar dari tenda dan berlari untuk melihat siapa yang bertarung.
Patih Wiranata segera menghentikan pertarungan.
" Berhentii menyerang, mereka bukan orang jahat!" teriak Patih Wiranata.
Raja Sadewa terlihat bingung.
" Apa yang paman lakukan, kenapa prajurit di suruh menghentikan serangan?" tanya Sadewa.
"Maafkan aku Raja, mereka adalah Raja Agung Jaka Kelana dan permaisuri Dewi Kumalasari yang sedang menyamar. Tujuan mereka menemui Raja adalah untuk mencegah Raja Sadewa menyerang kadipaten Naga Perak!" Patih Wiranata berusaha menjelaskan.
Sementara itu Raja Sadewa justru terlihat marah mendengar ucapan Patih Wiranata.
Dia merasa tak terima ada orang yang berniat menggagalkan serangannya ke kadipaten Naga Perak.
" Prajurit, ayo serang lagi dan ringkus mereka!"teriak Sadewa.
Prajurit kembali mencabut pedangnya berniat menyerang, namun kedua orang bertopeng segera bergerak cepat menotok urat mereka hingga tak bisa bergerak.
Raja Sadewa semakin emosi, ia segera melompat dan mulai menyerang Jaka Kelana.
__ADS_1
Serangan Sadewa yang penuh luapan amarah membuat seranganya membabi buta, namun Jaka dengan mudah mematahkan seranganya.
"Siapapun dirimu tak akan aku biarkan kamu mencampuri urusanku!" teriak Sadewa sambil mencabut keris di pinggangnya.
Sesosok naga berkepala emas segera muncul dan menyerang Jaka Kelana.
Jaka kini melayang dan terus menghindari semburan api dari mulut sang naga.
"Hati hati Kanda!" teriak Dewi sambil melihat ke atas.
Jaka dengan terpaksa mengeluarkan pedang suci, pancaran cahaya putih menyilaukan mampu membuat sang naga ketakutan.
" Ampun ampun tuan Raja" ucap naga emas.
Jaka" kembalilah ke sarangmu!"
Naga segera masuk ke dalam keris milik Sadewa.
Sadewa masih keras kepala dan kembali melompat menyerang Dewi yang berada di dekatnya.
Kini Dewi menjadi kesal melihat Raja Sadewa yang keras kepala.
Dewi pun segera melompat dan kembali menggunakan jurus pengendali pikiran.
Bahkan keris yang di gunakanya kini melayang dan bergerak ke arahnya.
" Tolong Paman Patih!" teriak Sadewa melihat keris melayang ke arahnya.
Jaka kembali melayang dan menyambar keris Naga sasra milik Sadewa.
Jaka segera membuka jubah dan topengnya.
" Maaf Raja Sadewa aku tidak ada sedikitpun niat untuk menyakitimu, kedatanganku ke sini hanya untuk mencegahmu menyerang Naga Perak!" ucap Jaka.
Sadewa hanya bisa melotot, karena mulutnya tidak bisa berbicara.
"Dinda pulihkan Raja Sadewa seperti semula!"perintah Jaka.
Dewi masih terlihat kesal, namun patih Wiranata juga meminta, ia pun terpaksa menarik kembali jurus pengendali pikiran hingga Sadewa dapat kembali bergerak.
Kali ini Jaka membuka samaranya hingga Sadewa mulai mengenalinya. Rupanya Sadewa pernah ikut ayahnya saat pengngkatan Raja Jaka Kelana ketika pertama kali di angkat menjadi raja di kerajaan Karang Cendana.
Sadewa juga sudah cukup paham tentang karakter Raja Jaka serta kemampuan beladirinya yang sulit di kalahkan oleh para pendekar bahkan untuk saat ini belum ada yang mampu mengalahkanya.
Sadewa juga teringat cerita ayahnya Pandu bahwa Jaka Kelana dan permaisurinya yang telah mengalahkan Darma Wisnu ketika membuat pulau jawa menjadi hancur dan kacau balau.
__ADS_1
Kini ia berlutut di hadapan Jaka dan berjanji akan menuruti semua perintahnya.
Jaka" Aku hanya ingin kamu membatalkan rencana untuk menyerang Naga Perak, dan aku pastikan kamu akan tetap menjadi raja tapi dengan sarat kamu harus menjadi pemimpin yang adil, bijaksana serta mengayomi semua rakyatmu!"
Mendengar ucapan Raja Jaka Kelana, Sadewa hanya terdiam rupanya ia sedang mengingat kekejaman yang ia lakukan kepada rakyat dan juga kedua orang tuanya, hingga Sadewa menitikan air mata dan menyesali semua perbuatanya.
" Sukurlah kalau Raja telah menyadari kekeliruan dalam memimpin Naga Emas!" Ucap Patih Wiranata sambil tersenyum dan menepuk nepuk pundak Sadewa yang masih berlutut di hadapan Jaka Kelana.
" Ia Paman, aku sudah menyesali semua perbuatanku, kini aku pasrah jika harus mendapat hukuman dari ayahanda Pandu dan juga Kanda Nakula" balas Sadewa.
Jaka segera bangkit dan memeluk Sadewa.
Mereka pun segera berkemas untuk kembali ke istana, para prajurit bersegera membongkar tenda dan melipatnya.
Akhirnya telah sampailah Raja Sadewa beserta Patih Wiranata dan Juga Jaka Kelana serta Dewi Kumalasari.
Sementara itu Pangeran Nakula telah menyiapkan pasukan dengan sangat matang.
Para prajurit juga sudah menyiapkan banyak jebakan di sepanjang jalan yang mengarah ke Kadipaten.
Sementara itu Raja Pandu terlihat khawatir karena Jaka dan Dewi tak kunjung kembali bahkan sudah hampir empat hari mereka pergi. Kecemasan Raja Pandu semakin bertambah lantaran ada kabar dari prajurit bahwa rombongan pasukan Naga Emas telah mulai bergerak untuk berperang dengan Naga Perak.
Rupanya Jaka dan Dewi tidak ikut serta dalam rombongan mereka memilih memisahkan diri.
Sementara pasukan yang di pimpin langsung oleh Sadewa dan patih Wiranata bertujuan untuk menjemput Raja Pandu dan juga permaisuri beserta pangeran Nakula untuk kembali dan memimpin di kerajaan Naga Emas.
Patih Wiranata pun hanya membawa sekitar lima ratus pasukan dan hanya membawa seperempatnya saja dari jumlah kurang lebih dua ribu pasukan yang di miliki Naga Emas.
Seorang teliksandi segera memacu kudanya dan melaporkan apa yang ia lihat kepada Pangeran Nakula.
"Maaf Pangeran hamba ingin melapor, bahwasanya pasukan musuh telah dekat namun ada yang aneh pangeran, mereka hanya membawa sekitar lima ratus pasukan !" ucap teliksandi.
Tentu saja hal tersebut membuat pangeran Nakula dan Juga Raja Pandu bingung.
" Ayahanda, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh rayi Sadewa?" tanya Nakula.
" Entahlah putraku, yang penting kita harus tetap siaga, jangan jangan itu hanya pancingan, karena Patih Wiranata adalah orang yang sangat cerdik dalam membuat strategi perang!" pungkas Raja Pandu.
" Pasukan segera bersiaapp, dan tunggulah aba aba dariku untuk mulai menyerang, jika musuh telah dekat!" teriak Nakula kepada para prajurit.
Sementara itu Raja Sadewa merasa cukup tegang setelah bangunan kadipaten Naga Perak sudah mulai kelihatan.
"Mungkinkah Raja Jaka dan permaisuri telah sampai dan menjelaskan kepada Pangeran Nakula?" tanya Sadewa kepada Patih Wiranata.
"Mudah mudahan nak Prabu, jadi mereka tidak salah paham dan tidak mengira bahwa kedatangan kita untuk menyerang Naga Perak!" jawab Patih Wiranata.
__ADS_1