
Setelah Purwaka bisa menenangkan dirinya. Ki Layung Seta segera mengintrogasi Purwaka tentang sosok pendekar yang memiliki jarum beracun.
Purwaka menuturkan bahwa pendekar tersebut ternyata memang bisa merubah wajahnya sesuai keinginanya.
Bahkan pas bertarung dengan dirinya pendekar misterius merubah wujudnya menyerupai ayahnya Raja Langit hingga dengan mudah dirinya terperdaya..
Purwaka juga sekali lagi meminta maaf kepada Jaka. Tentunya Ki Layung Seta segera sadar bahwa Jaka memang bukan orang biasa.
Mendengar Purwaka memanggilnya Raja Agung. Tentunya hal itu sangat mengejutkan Ki Layung Seta.
Jaka pun hanya menggaruk garuk kepalanya, ketika Ki Layung Seta mengetahui jati dirinya.
Sementara itu Dewi memilih pergi diam diam untuk keluar pura pura mau buang hajat.
Tentunya Ki Layung Seta segera menyuruh para muridnya untuk memberi hormat.
Jaka menjadi salah tingkah dan untuk sekian kalinya berkata bahwa ia hanya ingin berbaur dengan semua kalangan tanpa harus di lihat kastanya.
Ki Layung Seta pun dapat mengerti kenapa Jaka sengaja menyembunyikan indentitasnya.
Tentunya hal itu membuat beliau menjadi kagum.
" Sungguh suatu kehormatan bagi perguruan macan kumbang kedatangan tamu seorang raja besar yang sangat melekat dengan rakyat. Sungguh hatimu begitu mulya Jaka sama persis seperti kakekmu dan juga buyutmu. Oh ia bagaimana kabar kakekmu Resi Somala?"
Mendengar pertanyaan Ki Layung Seta Jaka menjadi sedikit murung. Dia kembali terbayang wajah kakeknya sewaktu mengucap kata terahir sebelum dirinya meninggal.
" Kakek resi,telah seda Ki?"
Mendengar jawaban Jaka Ki layung Seta terkejut.
" Sakit apa sang resi, Jaka?"
Jaka:" Beliau meninggal akibat di keroyok oleh Dewi Kalinggi dan juga komplotanya. Beliau meninggal akibat terkena pukulan tapak wisa milik Arya Wisapati!"
Tentunya jawaban Jaka membuat darah dalam tubuh Ki Layung mendidih.
"Sungguh biadap, dasar wanita iblis!" teriak Ki Layung Seta hingga tiba tiba muncul kuku kuku seperti kuku harimau dari ujung jarinya.
Rupanya itu adalah hal biasa setiap beliau marah, kukunya akan memanjang dan juga muncul taring yang memanjang seperti harimau pada giginya.
Jaka pun mencoba mendinginkan suasana.
"Tapi Arya Wisapati, dan muridnya sudah berhasil saya binasakan ki, sekarang kami sedang memburu Dewi Kalinggi yang belum jelas keberadaanya".
Jaka juga lantas bercerita tentang pertarunganya dengan Kalinggi di lembah bukit mulyo.
Namun suasana yang sedikit tegang menjadi berubah ketika salah seorang murid macan kumbang datang untuk melapor.
Rupanya dia melaporkan kejadian, bahwa ada segerombolan orang yang sedang menuju padaepokan, mereka menggunakan seragam tengkorak hitam.
__ADS_1
Purwaka wajahnya menjadi tegang mendengar laporan temanya.
" Apa ini juga termasuk ulahmu,Paurwaka?" tanya Ki Layung Seta.
Purwaka hanya diam dan segera berlutut menyadari kesalahanya.
" Maafkan aku guru, aku tak sengaja bertarung dengan perguruan Tengkorak hitam, hingga salah seorang muridnya terbunuh!"
Ki Layung Seta menepok jidatnya.
" Astaga, lagi lagi kamu berbuat ulah Purwaka. Nasi sudah menjadi bubur. Baiklah sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan?"
Purwaka segera bangkit, ia membawa anak buahnya untuk menghadang para pendekar yang berasal dari perguruan tengkorak hitam.
Jaka hanya terdiam melihat ketegasan Ki Layung Seta terhadap anak dari Paman Raja Langit.
" Maaf Ki, apa aki izinkan saya untuk membantu Purwaka?" pinta Jaka.
Ki Layung Seta memberi isyarat dengan tanganya tanda setuju.
Jaka pun segera mohon diri untuk mencari Dewi dan kemudian bersama sama menyusul Purwaka.
Sementara itu purwaka telah sampai di sebuah jalan yang cukup lebar yang berada tak jauh dari padaepokan.
Ia pun segera menyuruh temanya bersiap menyambut kedatangan pendekar dari perguruan Tengkorak Hitam.
Kini pertarungan tak bisa terhindarkan ketika kedua perguruan bertemu. Mereka saling mencabut pedangnya dan bertarung habis habisan.
" Apa kamu yang bernama Purwaka,yang membunuh muridku?" bentak Ki Sangga Buana.
Purwaka tak menyahut dan langsung melesat dengan pedangnya menyerang Ki Sangga Buana.
Sementara Ki Sangga Buana terlihat tenang dan hanya mengayunkan tongkatnya.
Dari tongkat keluar cahaya berwarna ungu dan membentuk saekor ular yang berhasil melilit Purwaka.
" He he he he , hanya segitu kemampuanmu Purwaka. Ilmu baru seujung kuku tapi sudah jumawa!" teriak Ki Sangga Buana.
Purwaka segera mengambil tumbaknya dan ia tancapkan ke tanah.
Seketika munjul tiga harimau yang berusaha menggigit ular yang berasal dari tongkat berkepala tengkorak.
Ular itu segera lenyap, ketika macan pun melayang menyerang Ki Sangga Buana.
Ki Sangga Buana melompat dan terbang di awang awang namun ketiga harimau terus mengejarnya.
" Sialan, dasar harimau payah!"
Gerutu Ki Sangga Buana sambil memutar tongkatnya dan kembali melunjur sebuah cahaya yang berubah wujud menjadi ular raksasa dan berhasil melahap ketiga wujud harimau.
__ADS_1
Purwaka merasa kesal dan meluncur ke atas menyerang Ki Sangga Buana.
Pertarungan keduanya berlangsung sengit. Purwaka menggunakan semua tenaga dalamnya untuk berupaya menekan Ki Sangga Buana.
Namun Ki Sangga Buana masih sangat mampu mementahkan semua serangan Purwaka.
Kali ini Ki Sangga Buana kembali memutar tongkatnya dengan cepat dan seketika membentuk gelombang angin yang besar. Purwaka pun melakukan hal yang sama hingga kedua tenaga saling beradu .
Beberapa pohon tumbang dan daunya berterbangan.
Ki Sangga Buana kembali mempercepat putaran tongkatnya hingga kekuatanya semakin bertambah besar.
Purwaka sudah kehabisan tenaga hingga tubuhnya terbawa angin dan terpental menghantam pepohonan hingga akhirnya jatuh di bebatuan.
Ki Sangga Buana meluncur mengejar tubuh Purwaka yang terpental, ia berupaya menghabisi nyawa Purwaka dengan pukulan tengkorak mencabut nyawa.
Namun untunglah Ki Layung Seta datang tepat waktu dan menahan serangan Sangga Buana dengan kekuatanya.
Kini keduanya sama sama terlempar jauh.
Namun mereka masih gesit dan kembali melayang di udara dan saling bertarung.
Ledakan demi ledakan terjadi dari pergumulan dua tenaga dalam yang dasyat.
Sementara itu Jaka dan Dewi berusaha memulihkan tenaga Purwaka.
Mereka pun membantu teman temanya yang sedang bertarung melawan tengkorak hitam.
Dalam sekejap musuh sudah dapat di taklukan.
Dewi pun berencana membantu Ki Layung Seta namun Jaka menahanya.
Kini mereka pun menunggu dan menjadi penonton dari pertarungan Ki Layung Seta vs Ki Sangga Buana.
Keduan lelaki tua itu saling bergantian menyerang dan kedua kekuatan mereka juga berimbang.
Namun semua orang terkejut ketika melihat keduanya terpental dan kemudian jatuh.
Rupanya Ki Layung Seta dan Ki Sangga Buana terkena jarum beracun yang tiba tiba saja menancap di tubuh keduanya.
Jaka dan Dewi bergerak cepat menolong keduanya .
Mereka berupaya mencabut jarum beracun dan kemudian meminumkan air keabadian sebelum tubuh Ki Layung Seta dan Ki Sangga Buana kepanasan dan menghitam seperti Purwaka.
Jaka dan Dewi pun tak dapat merasakan kehadiran pemilik jarum beracun.
Mereka pun menduga bahwa si pemilik jarum beracun adalah pendekar yang berilmu tinggi dan mampu menyembunyikan tenaga dalamnya hingga kemunculanya tidak di ketahui.
Setelah Ki Sangga Buana merasa tubuhnya membaik ia segera sadar bahwa muridnya mati bukan karena pukulan purwaka tetapi juga rupanya muridnya terkena Jarum beracun.
__ADS_1
Terlihat Ki Sangga Buana merangkul Ki Layung Seta dan meminta maaf, karena keduanya memang sudah lama menjalin persahabatan.
Kini mereka pun serius untuk bersama sama menangkap pendekar jarum beracun agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan.