
Jaka Kelana dan Dewi Kumalasari masih bercibaku menghadapi serangan para siluman.
Sementara itu Raja Mata Satu mengerahkan semua pasukanya dan telah memasuki Hilir tempat Gajah Laya menghimpun pasukan.
Matoa memimpin pasukan yang kurang lebih sekitar 100 orang yang mengisi pos utama.
Tali tali jebakan di putus menggunakan pedang, hingga batang batang kayu yang tergantung jatuh dan menimpa para prajurit Hulu Semingkir.
Hampir dua puluh orang jatuh dari kuda saat batang batang kayu berjatuhan.
Mata Satu sungguh tak menduga, bahwa mereka sudah menyiapkan banyak jebakan di sepanjang jalan.
Ia pun segera memerintahkan anak buahnya supaya waspada.
Kali ini Matoa telah menyiapkan jebakan berikutnya, setelah batang batang kayu, kini rangkaian bambu yang ujungnya di bikin runcing.
Seperti jebakan awal kini rangkaian bambu yang di tancapkan di sebuah kayu, berayun ke arah pasukan Mata Satu dan berhasil melukai banyak prajurit Hulu Semingkir.
Mata Satu tak dapat menahan amarahnya melihat ratusan anak buahnya luka luka dan sebagian lagi tewas.
Ia segera melompat tinggi tinggi dan melepas pukulan yang mengandung tenaga dalam.
Matoa dan teman temanya lari berhamburan, melihat kilatan cahaya kemerahan keluar dari tangan Mata Satu.
__ADS_1
Para Prajurit Hulu Semingkir bergerak maju, setelah mengetahui sudah tidak ada lagi jebakan , hingga perang jarak dekat terjadi dengan sengit.
Mata Satu sangat yakin akan memenangkan pertempuran, karena pasukanya hampir empat kali jumlah, pasukan Gajah Kaya, 500 pasukan Gajah Laya, melawan hampir 2000 lebih pasukan Mata Satu.
Namun rupanya Jaka telah memberi latihan khusus kepada mereka, hingga mereka tak langsung berhadapan dan justru berlari memasuki hutan, mereka berpencar, hingga prajurit Hulu Semingkir terpancing.
Sekali lagi mereka telah menyiapkan jebakan dan berhasil membinasakan prajurit Hulu Semingkir hingga semakin banyak pasukan Mata Satu yang terbunuh.
Mata Satu semakin murka, ia melayang dan mencari Gajah Laya untuk ia bunuh.
Dalam sekejap Mata Satu telah berdiri di hadapan Gajah Laya yang sedang bertarung melawan pasukanya.
" Kalian minggirlah, biar Gajah Laya menjadi bagianku!" Teriak Mata Satu.
Anak buahya mundur dan Mata Satu segera menyerang Gajah Laya.
Matoa terlihat cemas dan langsung berlari berusaha menolong Gajah Laya.
Gajah Laya masih bisa bangkit dan menyeka darah yang keluar dari mulutnya, ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah senjata yang mirip lidi dengan warna kuning ke emasan.
Matoa kaget ketika ukuran yang sebesar lidi tiba tiba berubah ketika Gajah Laya membaca mantera.
Lidi tersebut berubah menjadi tongkat dan seketika pergerakan Gajah laya menjadi gesit.
__ADS_1
Matoa di suruh membantu yang lain dan Gajah Laya melompat dan mengayunkan tongkatnya hingga membuat variasi gerakan untuk menggempur Mata Satu.
" Ha ha ha ha, makanya jangan suka menganggap remeh, kau pasti mengira aku hanyalah si tua yang doyan makan dan tidak memiliki kemampuan" bentak gajah laya.
" Aku justru senang karena pertarungan menjadi seru!" Jawab Mata Satu, sambil bergerak menghindari sabetan tongkat milik Gajah Laya.
Sementara itu karena kalah jumlah, pasukan yang terdiri dari para penduduk kewalahan, karena satu orang menghadapi tiga orang musuh.
Sementara itu Jaka dan Dewi tak dapat berbuat banyak, karena masih di keroyok oleh sepuluh siluman yang tangguh.
Namun Jaka tak mau membuat harapan para penduduk menjadi sia sia.
" Hiatt" Jaka kelana terbang cukup tinggi dan mendarat di dekat Dewi. Jaka memberi isyarat untuk menggabungkan ajian sepasang dewa gledeg mencabut nyawa.
Keduanya segera melompat mundur dan menempelkan kedua tanganya masing masing dengan saling berhadap hadapan.
Semua mata terbelalak guntur tiba tiba saja bermunjulan dan menyambar apa saja yang di lewatinya, bahkan banyak pepohonan yang terbakar terkena sambaran gledeg.
Bukan itu saja pasukan Hulu Semingkir juga banyak yang menjadi korban. Tubuh mereka gosong tersambar gledeg yang seakan mengerti di mana musuh berada.
Namun berbeda dengan raja matahari dan api, mereka tak merasa bahwa petir menyambar, namun justru sambaran petir membantu meningkatkan tenaganya.
Jaka dan Dewi segera menghentikan jurus dewa gledeg, setelah berhasil banyak memakan korban dari pihak Hulu Semingkir.
__ADS_1
Sementara raja Mata Satu, sekali lagi tak percaya ketika melihat sambaran gledeg mampu menumbangkan sekitar 500 prajuritnya.
Ia pun segera terbang meninggalkan Gajah Laya mendekati kedua gurunya.