JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Di Anggap Berbohong


__ADS_3

Ketika Jaka hendak mengulik lebih dalam tentang kematian paman Raja Langit ia segera teringat akan nasib ibundanya.


" Maaf Purwaka, aku harus melanjutkan perjalanan untuk mencari obat untuk ibuku!. Kira kira di mana aku bisa menemuimu untuk mengetahui siapa yang telah membunuh paman Raja?


Purwaka menyuruh Jaka ke lembah mayit tempat perguruan Macan Kumbang.


Jaka segera melesat ke atas kuda dan langsung memacu kudanya dengan keras.


Bayangan ibundanya yang sedang terbaring lemas kini hinggap di benaknya.


Hingga tak terasa ia telah sampai di wilayah Krakatau.


Jaka turun dari kuda dan mencoba bersemedi untuk memanggil Dewi Lanjar Saraswati namun tidak mendapat jawaban.


Jaka segera bangkit untuk mencari sumur tua yang menjadi jalan penghubung untuk memasuki istana bawah laut.


Jaka terpaksa mencabut pedangnya untuk menyingkirkan pohon kecil dan juga rumput liar yang menutupi lubang sumur.


Ia lantas menceburkan diri ke dalam sumur yang sangat dalam serta gelap gulita.


Cukup lama tubuh Jaka melayang hingga akhirnya kakinya menginjakak dasar sumur.


Jaka segera bergegas , ia berenang untuk mencapai istana dasar laut.


Ssmentara itu para dayang istana segera menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berenang menuju gerbang istana.Mereka segera bersiap untuk menyerang.


" Segera bersiap ada seseorang yang hendak menerobos gerbang!" perintah kepala jaga kepada anak buahnya.


Ia juga menyuruh salah seorang dayang untuk melapor kepada sang ratu.


Jaka yang tergesa gesa segera berniat memasuki gerbang namun para penjaga tak memberi izin hingga akhirnya pertarungan tak dapat di hindarkan.


Sementara Ratu Lanjar kaget setelah mendapat laporan dari dayang bahwa ada seorang yang memaksa masuk dan mengaku sebagai Jaka Kelana. Tentunya hal tersebut membuat Dewi Lanjar murka karena merasa ada yang mengaku menjadi suaminya. Lanjar pun menganggap bahwa Jaka telah mati setelah pertarunganya melawan Darma Wisnu.


Jaka mencoba meyakinkan para penjaga, namun para dayang tak menggubrisnya dan terus berusaha menyarangnya.

__ADS_1


Namun akhirnya pertarungan di hentikan setelah Dewi Lanjar keluar dan menghentikan pertarungan.


" Hentikan Dayang, biar aku saja yang menghadapi pemuda yang mirip Jaka kelana!" ucap Dewi Lanjar.


Jaka terpaksa menghadapi serangan Dewi Lanjar yang sangat mematikan.


Ia terus menghindar, air laut menjadi berguncang hebat akibat pertarungan hingga meluap dan gelombang pasang naik ke daratan dan menyapu rumah rumah yang berada di sekitar pantai.


Jaka tak sengaja melihat cermin yang terpampang di depan gerbang, terlihat para penduduk berlarian menyelamatkan diri akibat air laut yang pasang.


" Bahaya aku harus segera menghentikan pertarungan,karena jika semakin lama bertarung daratan akan tersapu gelombang dan pastinya akan membuat banyak korban."


Jaka terus berusaha berpikir untuk meyakinkan Dewi Lanjar, namun rupanya sang Dewi semakin brutal untuk menyerang Jaka.


Dada Jaka bergejolak, pedang suci yang berada di tubuhnya seakan memberi pertanda kepada Jaka untuk segera di keluarkan.


Jaka segera mengikuti kemauan pedang suci ia segera mengeluarkan pedang suci dan di genggamnya dengan erat.


Pedang suci memancarkan cahaya terang dan membuat istana bawah laut menjadi tedang benderang.


" Apa dinda juga mengira aku telah mati?"


Jaka segera memasukan kembali pedang suci sambil membentangkan kedua tanganya.


Dewi Lanjar segera bangkit dan menangis di pelukan Jaka Kelana.


Para Dayang juga ikut larut dalam haru melihat Jaka yang merupakan suami ratunya masih hidup.


Setelah lama sang Ratu melepas kangen, ia pun buru buru menggandeng tangan Jaka dan membawanya masuk ke dalam istana.


Seperti biasa beberapa dayang terlihat membawa pakaian yang berkilauan.


Jaka di bawa masuk oleh para dayang untuk di rias.


Sang Ratu terpana melihat ketampanan suaminya setelah berganti pakaian. Para dayang juga dadanya bergejolak, mereka tak dapat menyembunyikan keterpukauanya dengan ketampanan Jaka Kelana.

__ADS_1


Jaka segera duduk di samping sang Ratu.


Ratu Dewi Lanjar segera membuat pesta untuk menyambut suami tercintanya.


Sebenarnya Jaka ingin segera mengatakan maksud kedatanganya namun ia sedikit menahan karena tidak ingin merusak suasana hati Dewi Lanjar.


Pesta pun segera usai Jaka dan Dewi masuk ke dalam kamar. Rasa rindu yang menggebu antara keduanya memuncak hingga keduanya larut dalam buaian asmara yang selama ini terpendam.


Namun bayangan ibundanya kembali memenuhi pikiranya hingga Jaka merasa bersalah .


Dewi Lanjar merasa curiga karena wajah Jaka tiba tiba berubah menjadi sedih.


" Apa yang terjadi Kanda kenapa wajah Kanda tiba tiba sedih?" tanya Dewi Lanjar.


Jaka segera duduk di atas ranjang yang di penuhi warna hijau dan di penuhi gemerlap warna emas yang bersinar.


Dia segera bercerita bahwa ibundanya dalam keadaan sakit terkena racun tapak wisa, dan Jaka bermaksud mengambil mata air keabadian untuk menyembuhkan ibudanya.


Dewi Lanjar memeluk erat Jaka dan segera meminta maaf,rupanya kerinduanya telah membuat lupa,hingga ia tak memberi kesempatan kepada Jaka untuk bercerita tentang maksud kedatanganya.


Kini Dewi Lanjar segera memegang tangan Jaka dan berjalan menuju sumur mata air keabadian.


Jaka segera mengambil guci yang ia sudah siapkan dan bersegera memasukan guci ke dalam sumur.


Melihat raut muka Jaka yang semakin khawatir akan ibundanya Dewi Lanjar segera menggunakan ilmu melipat bumi untuk mengantar Jaka ke jurang kematian.


Hanya dalam sekejap mata mereka telah sampai di jurang kematian.


Dewi terlihat menyodorkan kembali sebuah cincin dan memakaikanya di jari kelingking Jaka kelana, agar memudahkan mereka untuk berkomunikasi jarak jauh.


Dewi Lanjar kembali memeluk Jaka dan akhirnya menghilang.


Sementara itu keadaan sang Ratu makin memburuk. Tubuhnya kini terasa dingin.


Dewi Kumalasari dan Pendekar buta terlihat khawatir keduanya pun sibuk untuk berusaha mengalirkan hawa murni untuk membuat tubuh Ratu Ambarwati kembali hangat.

__ADS_1


__ADS_2