JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Dendam Lampir 3


__ADS_3

Kiai Agung beserta rombongan terus menuruni bukit yang terjal. Beberapa santri bahkan hampir saja terperosok ke jurang yang dalam.


Setelah menuruni bukit mereka harus kembali naik menuju pencak bukit di mana terletak goa persembunyian Lampir dan Kalinggi.


Sepertinya lembah tersebut memang banyak kekuatan magis.


Baru saja mereka hendak menaiki bukit tiba tiba saja angin berhembus dengan kencang dan bebatuan yang menempel di dinding bukit berjatuhan.


Beberapa murid Kiai Agung yang tidak menghindar terkena reruntuhan batu,untunglah mereka hanya mengalami luka ringan.


Kini Kiai Agung menyuruh Jaka dan Dewi menaiki bukit lebih dulu untuk mengetahui seberapa besar kekuatan yang melindungi lembah tersebut.


Jaka dan Dewi segera meluncur ke atas, tiba tiba saja batu batu yang tertancap di dinding tebing terbang seperti peluru yang di tembakan.


Jaka dan Dewi bergerak cepat menghindar dan sesekali keduanya menggunakan pukulan tenaga dalam untuk menghalau batu tersebut.


Cukup lama keduanya bercibaku menghindari serangan batu yang terus saja berterbangan.


Kini serangan batu mulai mereda dan berganti dengan kemunculan angin yang sangat kencang dan berusaha melempar keduanya.


Dewi pun mulai terpancing emosi,ia kini melepaskan ajian dewa angin untuk menghadapi angin ribut yang berusaha melempar tubuhnya.


Kedua kekuatan beradu dan menimbulkan ledakan yang keras,bahkan batu batu kembali berjatuhan membuat para santri yang berada di bawah bukit kembali panik.


Sementara itu akibat ledakan yang terjadi membuat Kumambang dan juga teman temanya yang sedang berjaga merasa kaget mendengar suara ledakan.


Tanah di sekitar juga bergoncang seperti ada gempa bumi.


Siluman penghuni lembah yang menjadi abdi lampir ia suruh untuk memeriksa keadaan.


Mereka pun segera terbang menuju bawah bukit.


Jaka menyadari ada hawa siluman yang mendekat ia pun segera memberi isyarat kepada dewi supaya berhati hati.


Benar saja puluhan siluman tiba tiba muncul dan langsung menyerang.


Dewi kali ini kembali menggunakan jurus dewa angin hingga membuat para siluman terlempar,Jaka juga tak mau kalah ia kembali menggunakan ajian pukulan matahari dan membuat para siluman kabur.


Merasa bahwa keadaan sudah aman , Jaka dan Dewi kembali ke bawah bukit.Dewi segera berubah menjadi elang raksasa dan menyuruh para santri sambil membawa peti naik ke punggungnya.


Sementara Jaka dan Kiai Agung serta beberapa murid utama yang memiliki tenaga dalam mumpuni segera terbang meluncur menuju atas bukit.


Elang Raksasa kali ini sengaja tidak bersuara,obor obor pun di matikan agar kedatangan mereka tidak di curigai.


Namun dugaan mereka kurang tepat, karena para siluman yang kabur langsung melaporkan kejadian kepada kumambang dan Arya Wisapati.

__ADS_1


Keduanya pun segera memasuki goa untuk melapor kepada Dewi Kalinggi dan Juga Lampir.


Mendengar laporan kumambang dan Wisapati, kedua wanita siluman justru tertawa,mereka merasa kemampuanya telah meningkat tiga kali lipat karena sudah menghisap darah.


Apalagi cahaya bulan juga sudah menunjukan sinarnya, walaupun purnama tidak sempurna tapi itu sangat menguntungkan bagi Kalinggi dan Lampir.


karena kekuatan mereka juga akan semakin kuat.


Kini Kiai Agung serta Jaka dan Dewi bersama para santri segera berjalan pelan untuk mencari keberadaan goa yang menjadi markas Lampir.


Cahaya bulan yang berhasil melewati dedaunan dapat membantu menjadi penerang.


Kiai Agung dan Jaka berada di barisan paling depan, mereka terus mengamati keadaan sekitar untuk memastikan situasi benar benar aman.


Dari kejauhan mulai terlihat mulut goa yang di kanan kirinya terdapat obor yang menyala.


Terlihat pula beberapa orang berjaga di mulut goa.


Kiai Agung merasa ada bahaya sedang mengancam ia mengingatkan kepada murid muridnya untuk bersiap.


peti segera mereka letakan di tanah,mereka memasang kuda kuda.


Entah dari mana datangnya tiba tiba api menyala dan membakar bukit. Para santri panik karena api mengepung mereka.


" Tenanglah ,kalian jangan panik ini hanya sihir, lebih baik kita berdoa, memohon pertolongan pada yang maha kuasa."


Mendengar penuturan Kiai Agung santri menjadi tenang,mereka memejamkan mata dan mulai membaca doa yang telah di ajarkan oleh Kiai Agung.


Jaka dan Dewi juga terlihat khusu membaca doa.


Tak selang berapa lama api pun padam. Namun kini muncul kembali para siluman yang menyerang.


Sementara lampir dan juga kalinggi bersama para muridnya juga telah keluar dari goa dan segera melayang menyerang Kiai Agung bersama rombongan.


Ledakan demi ledakan terus terdengar api pun terus berkobar akibat benturan tenaga dalam.


Lampir terus berupaya menyerang kiai Agung sementara Kalinggi berhadapan dengan Jaka kelana.


Sementara Dewi bersama para murid Kiai Agung harus berhadapan dengan banyak musuh di antaranya ,Kumambang,Arya Wisapati, Kuda Merta,Surasena dan juga Matasatu di beserta siluman anak buah lampir.


Puncak bukit yang semula semi menjadi ramai,bahkan para warga yang berada di bawah bukit pun dapat melihat api berkobar dipuncak bukit.


Mereka pun terus berdoa agar Kiai Agung dan murid muridnya dapat memenangkan pertarungan, Lampir pun dapat segera di binasakan agar kampung kembali tentram dan damai tanpa adanya teror yang mengancam jiwa mereka.


Lampir dan Kiai Agung semakin gencar mengeluarkan ajian andalanya, kini Kiai Agung terlihat mengeluarkan sebuah tasbih yang kemudian ia lempar ke arah Lampir.

__ADS_1


Tasbis terbang dan berhasil menjerat tubuh lampir.


Lampir mengangkat kedua tanganya mencoba menghimpun tenaga dalam untuk melepaskan tasbih yang semakin menjerat lehernya.


Dada lampir mualai sesak susah bernafas.


Namun dengan tenaga yang sudah bertambah ia dapat menghancurkan tasbih yang menjeratnya.


Kali ini Lampir melempar tongkatnya ke arah Kiai Agung. Tongkat tersebut berubah menjadi seekor naga yang terus menyemburkan api berusaha membakar tubuh Kiai Agung.


Kiai Agung melepas sorbanya, ia lalu kibas kibaskan untuk menahan api dari sang naga.


Rupanya Lampir juga tak membiarkan sang naga sendirian menyerang kiai Agung ia segera kembali mengangkat tanganya menggunakan jurus rawa rontek,kedua lenganya meluncur copot dari tubuhnya dan berusaha mencekik leher Kiai Agung.


Kiai Agung melompat mundur dan berusaha menghindar namun salah satu lengan lampir berhasil meraihnya dan mencekek lehernya.


Cekikan semakin terasa kuat hingga Kiai Agung mulai kehabisan nafas.


Kiai Agung mencoba tetap tenang ia berdiri tegap dan kembali membaca doa doa, tangan yang mencekik leher Kiai Agung tiba tiba terbakar api.


Lampir pun merasa kepanasan dan segera menarik kedua tanganya kembali ke posisis tubuhnya.


Ia juga menyuruh tongkatnya kembali dan langsung bergerak menyerang Kiai Agung.


Kali ini Kiai Agung kembali menggunakan sorbanya.


Sorban di tariknya dan kini terlihat memanjang, lampir berusaha melompat dan terbang di atas sorban yang di bentangkan kiai Agung sambil memukulkan tongkatnya.


" He he he he, mampuslah kau kiai bodoh!"


Rupanya Kiai Agung dadanya terkena pukulan tongkat dan terlempar.


Sementara Jaka yang sedang menghadapi Kalinggi segera membalik tubuhnya dan melesat menangkap tubuh Kiai yang hendak jatuh ke lembah yang curam.


Untunglah Jaka bisa meraih tangan Kiai Agung.


Kalinggi berusaha mengejar namun tiupan angin besar melempar tubuhnya.


Rupanya Dewi sela sela pertempuranya menghadapi sepasang tangan besi masih bisa menggunakan jurus Dewa Angin untuk menghentikan laju Kalinggi.


" Sialan dasar gadis bodoh, bisa bisanya kau mengganggu urusanku!" teriak kalinggi.


Kalinggi terpancing emosi dan bersegera melesat membantu kedua muridnya menghadapi Dewi.


Sementara Jaka dan Kiai Agung bersama sama melawan Lampir.

__ADS_1


__ADS_2