
Jaka terus saja mengikuti kemana energi yang membawa Tirta.
Rupanya energi tersebut hilang di kala Jaka mendaratkan tubuhnya di atas puncak Bukit Setan.
" Apakah ini yang namanya bukit setan!" pikir Jaka.
Ia pun terpaksa menutupi hidungnya dengan jarinya karena tercium bau busuk dari bangkai manusia yang bergelimpangan yang tinggal tulang belulang karena dagingnya habis di makan binatang buas dan juga burung pemakan bangkai.
Jaka pun berdiri di atas jurang dan berusaha mengukur kedalaman jurang yang curam di hadapanya.
Hawa siluman terasa sangat pekat begitu Jaka berkonsentrasi mencoba menerawang keberadaan Tirta.
Sementara itu Tirta nampak kaget karena tiba tiba berada di goa tempat pedang setan berasal.
Kini pedang itu melayang dan keluarlah sosok manusia dengan tubuh berwarna merah seperti darah hanya terlihat kuku yang panjang yang tumbuh di setiap ujung jarinya.
" Siapa kamu?"tanya Tirta.
" Uwa ha ha ha ha, aku adalah raja iblis yang bersemayam di pedang setan, kamu tidak bisa meninggalkan aku dan kembali ke jalan kebenaran, karena tuhan telah menciptakan baik dan buruk. Dan aku merupakan lambang keburukan! Kamu harus tetap memilih jalan angkara murka"ucap raja iblis.
" Tidak aku tidak mau, dendamku sudah terbalas dan aku ingin kembali ke jalan kebenaran!" teriak Tirta.
" Aku akan memaksamu!" teriak raja iblis.
Dia melayang di atas kepala Tirta , dari ujung kukunya kelauar sinar kemerahan dan masuk tubuh Tirta.
Mata Tirta yang sayu kembali terbuka lebar, darahnya kembali bergemuruh dan aliran darahnya bergerak sangat cepat.
Sementara itu Jaka sudah terlibat pertarungan dengan dua orang siluman yang bertugas menjaga goa.
Namun tak butuh waktu lama Jaka akhirnya dapat melumpuhkan kedua penjaga.
Tirta yang sudah kembali di pengaruhi raja iblis kembali mencabut pedang setan dan segera melayang ke luar goa.
" Tirta sadarlah, jangan mau kau di kuasai oleh iblis!" teriak Jaka berusaha menyadarkan Tirta.
Tirta tak menggubris perkataan Jaka dan mengayunkan pedangnya hingga Jaka terlempar dan hampir saja membentur pohon yang menjulang tinggi.
Jaka segera memutar badanya dan melompat sambil melepas jurus matahari.
Tirta masih terlihat sangat garang dan berhasil mementalkan jurus matahari dengan mengayunkan pedang setan.
Nampaknya Jaka tak punya pilihan karena setiap pukulanya dapat di mentahkan oleh kekuatan pedang setan.
Jaka segera mengeluarkan pedang suci.
Keduanya kini beradu pedang hingga membuat burung burung berterbangan karena ketakutan.
Bahkan bukit setan kembali bergunjang dan seakan mau runtuh.
Penduduk yang berkumpul di dekat makam Arya Janu juga merasa panik, mereka juga merasa tanah yang mereka pijak berguncang.
Bahkan beberapa penduduk segera memperhatikan bukit setan yang tebingnya terlihat bergerak gerak dan beberapa batu berjatuhan.
Mereka pun segera berlari kembali ke Desa.
__ADS_1
Sementara Dewi terus saja mencoba menenangkan Sekar Ayu yang terus saja meronta dan hendak berlari ke dekat tebing yang mulai berguguran.
" Anaku Tirta, aku harus menyelamatkan anaku!" teriak Sekar Ayu.
" Bibi tenanglah Kang Jaka pasti akan membawa Tirta kembali selamat!"ucap Dewi yang terpaksa menotok urat Sekar Ayu dan membopongnya melompat menuju desa.
Sementara Jaka masih berusaha meladeni serangan Tirta dengan pedang Suci.
Namun tenaga Tirta seperti tidak pernah berkurang.
Serangan Tirta semakin cepat hingga Jaka mulai sedikit kewalahan.
Tiba tiba saat Jaka mulai terdesak terdengar bisikan di telinganya seperti suara Kiai Agung Prawoto.
"Eling marang Gusti Allah Ngger!".
Jaka segera tersadar bahwa ia bertarung dengan emosi karena terbawa hawa iblis yang begitu pekat.
Jaka pun segera beristighfar.
Dan di teruskan dengan membaca ayat kursi.
Tiba tiba saja terlihat sebuah mahluk dengan warna merah keluar dari tubuh Tirta, bersama dengan itu pulalah pedang sedang jatuh dari genggaman Tirta.
Tubuh Tirta tersungkur ke tanah dengan mata terpejam.
Jaka pun segera mengejar sosok yang keluar dari tubuh Tirta dan menancapkan pedang suci ke kepalanya .
Raja iblis mengerang dan meraung kesakitan hingga kemudian tubuhnya lenyap dan lebur bersama cahaya putih yang keluar dari pedang suci.
Dan mengambil pedang setan yang kini berubah menjadi warna putih , hawa siluman pun tak lagi ia rasakan.
Jaka segera membawa pedang setan bersamaan dengan tubuh Tirta dan segera melayang ke puncak bukit setan.
Tenaga dalamnya serasa mau habis hingga ia tak mampu melanjutkan terbangnya.
Jaka berupaya memanggil Dewi untuk datang membantunya.
" Dinda dinda, aku butuh bantuanmu!" panggil Jaka.
Dewi yang merasakan bisikan suaminya segera berkonsentrasi.
Sebelum pergi Dewi menitipkan bibi Sekar kepada Nyi Suri dan Ki Roso serta para warga.
Lalu ia melesat dan begitu sudah tak terlihat oleh warga ia merubah wujudnya menjadi elang raksasa dan terbang menuju puncak bukit setan.
Sementara Ki Roso yang masih begitu penasaran dengan sosok kedua pendekar muda yang sakti mandera guna segera bertanya kepada Sekar Ayu yang nampaknya mulai stabil.
" Ketahuilah kalian, pengayom kalian dan junjungan kalian semua ternyata belum mati seperti anggapan kita semua!"
Tentunya perkataan Sekar Ayu membuat para penduduk tak mengerti.
" Ketahuialah bahwa Jaka umbara dan Kumala adalah sang Raja Jaka kelana Wijaya dan Ratu Ambarwati, aku sangat yakin dan aku sedang tidak mengada ada!" ucap Sekar Ayu.
Ki Roso pun menimpali, ia mengeluarkan puluhan koin emas dan perak yang di berikan oleh Kumala.
__ADS_1
" Aku juga yakin Sekar, karena tidak mungkin seorang yang baru kita kenal begitu perhatian dan rela mengorbankan dirinya demi ketentraman kita semua!"ucap ki Roso.
Rupanya banyak penduduk yang tidak kecukupan di beri koin emas dan perak sama seperti Ki Roso dan Nyi Suri.
Mereka pun mengucap sukur kepada dewata karena orang yang selama ini di anggap telah mati justru masih hidup dan kini sedang berusaha menyelamatkan Tirta.
Dewi segera menyambar tubuh Tirta dan ia cengkeram menggunakan kedua kakinya sementara Jaka melompat ke atas punggung elang raksasa.
Setelah Dewi mengepak sayapnya bukit kembali bergoncang hingga tebing pun longsor dan meratakan jurang yang berada di puncak bukit.
Warga bersorak gembira melihat seekor elang raksasa mencengkeram tubuh Tirta dan terlihat Jaka berteriak sambil melambaikan tangan.
Elang raksasa segera mendarat dan mencatuhkan tubuh Tirta.
Jaka segera turun dari punggung elang dan semua penduduk berlutut.
"Terimalah salam hormat kami, Raja Jaka!" teriak Ki Roso.
Jaka pun memandang Sekar Ayu yang ikut berlutut.
" Bangunlah kalian semua!" teriak Jaka.
Jaka pun segera menyuruh beberapa penduduk untuk membawa Tirta yang pingsan masuk ke dalam rumah.
Sekar Ayu nampak lega melihat putranya mulai siuman.
"Ibu, ibu, aku ada di mana?" ucap Tirta.
" Tenanglah anaku, kamu berada di rumah Ki Roso, syukurlah kamu telah siuman!" jawab Sekar Ayu.
Tirta masih terasa badanya lemas dan susah untuk di gerakan.
Jaka segera mendekat dan menyalurkan hawa murni, hingga pelan pelan Tirta mulai bisa bergerak dan bangkit untuk memeluk ibunya.
Tentu saja pemandangan itu membuat semua penduduk matanya berkaca kaca.
Kini nama baik keluarga Tirta pun sudah tidak tercoreng, semua warga sudah tahu bahwa itu semua ulah adipati Wiramastra.
Jaka pun menyuruh semua penduduk ke kadipaten untuk bermusawarah mencari pengganti adipati Wiramastra yang telah mati.
Para penduduk mula mula memilih Sekar Ayu, karena dia dan mendiang Arya Janu adalah orang yang di rasa pantas untuk menggantikan Adipati.
Namun Sekar Ayu menolak karena merasa tak enak hati dengan keluarga mendiang adipati Wiramastra.
Namun justru mereka juga menyetujui, karena keluarga Wiramastra sudah sangat mengenal Sekar Ayu, namun karena fitnah biadab jadi mereka sempat berpikir sama dengan kebanyakan orang.
Namun setelah kebenaran terungkap mereka pun yakin bahwa Sekar Ayu cocok untuk menjadi adipati.
Namun Sekar tak bisa menerima karena ia merasa sebagai wanita yang lemah.
Jaka pun mengusulkan jika Tirta lah yang akan menjadi Adipati Karang Ringin yang baru.
Ternyata semua orang menyetujuinya.
Jaka pun segera melantik Tirta menjadi Adipati ia juga memberikan pedang setan yang. sudah di bersihkan hawa setanya dan di beri nama pedang putih karena warnanya yang miirip salju.
__ADS_1