
Sesui perintah Resi Suralaya ,setelah berhasil mendapatkan Kujang Kembar Jaka segera mengajak Dewi terbang menuju Karang Cendana ,karena pertempuran sudah berlangsung,sementara Ki Wangsa memilih kembali ke Desa.
Sementara itu Darma Wisnu kali ini tak mau berlama lama,ia pun menggunakan pukulan batu bintang ,jurus yang memililiki kekuatan yang sangat dasyat,bahkan konon kekuatan yang di timbulkan dari jurus tersebut mampu untuk menghancurkan sebuah kerajaan.
Siluman harimau mencoba menyatukan kembali kekuatan jurus penyerap daya dengan gada wesi kuning,bahkan kali ini Sri Lodaya juga telah berada di sampingnya untuk membantu.Mengeluarkan busurnya dan menggabungkan kekuatanya untuk menahan jurus Batu Bintang yang di lepaskan Darma Wisnu.
Dua kekuatan dasyat kembali beradu ,namun kekuatan jurus batu bintang memang sangatlah luar biasa,Siluman Harimau dan Sri Lodaya terlempar tubuh mereka pun terhempas dan berkali kali menembus dinding beton .Ratusan orang juga tersapu kekuatan jurus batu bintang,mereka mati dengan mengenaskan,bahkan yang lebih mengerikan lagi tembok istana dan beberapa bangunan roboh dan menimpa para prajurit kedua belah pihak yang sedang bertarung.
Siluman harimau dan Lodaya merasakan sakit yang luar biasa tubuh keduanya terasa terbakar,mereka pun terkapar tanpa ada yang menolong.
Darma Wisnu belum merasa puas dengan mengalahkan siluman harimau dan Lodaya,ia pun segera mengarahkan jurus batu bintang ke arah ,Resi Somala dan Dewi Amabarwati serta Rangga Abang yang tengah bertarung melawan Dewi Kalinggi ,Kumambang dan Arya Wisapati.
Mereka semua pun terlempar dan masing masing terkapar dengan tubuh yang laksana terbakar.
__ADS_1
Dewi Kalinggi dan Arya Wisapati serta Kumambang nyaris tak percaya ,mereka ingin di lenyapkan oleh Darma Wisnu.
Kalinggi yang memang memiliki ajian panca sona segera dapat bangkit tubuhnya pun kembali menjadi bugar,sementara itu Kumambang dan juga Arya Wisapati terkapar tak berdaya.
Beruntunglah Ranaya Kandi yang kala itu pergi untuk menolong Siluman Harimau dan Sri Lodaya yang di bantu Ki Padang Jagad.
Setelah di rasa keduanya sudah berada di tempat yang aman,mereka pun kembali ke medan pertempuran.
Kali ini Ranaya Kandi dan Ki Padang Jagad seolah tak percaya melihat Dewi Kalinggi terlibat pertarungan sengit dengan Darma Wisnu.
Awalnya Raja Ranaya Kandi masih menganggap bahwa Kalinggi sedang berdusta,namun ketika sebuah pukulan kembali mendarat di tubuhnya dan membuat dirinya terlempar jauh barulah Raja Ranaya Kandi dan Ki Padang Jagat bergerak bersama sama menyerang Darma Wisnu.
Darma Wisnu yang sudah seperti orang kerasukan kembali menggunakan pukulan batu bintang dan berhasil melempar kedua musuhnya hingga puluhan meter.
__ADS_1
Ia pun segera bersiap untuk meluluh lantakan semua bangunan Karang Cendana dan mengubur semua orang yang berada di dalamnya.Darma Wisnu kini menggunakan ajian pembelah bumi ,bumi tiba tiba bergetar bahkan tanah yang di atasnya terdapat bangunan kerajaan terbelah,beberapa orang termasuk Resi Somala,serta Dewi Ambarwati dan Rangga Abang dengan sisa tenaganya mencoba merangkak menjauh dari bangunan yang mula masuk tenggelam ke dalam bumi.
Prajurit Karang Cendana kocar kacir mereka berlarian untuk menyelamatkan diri.
Lubang tanah semakin besar dan menenggelamkan apa saja yang berada di atasnya,kini masing masing orang mencoba berlari sejauh jauhnya menghindari tanah yang berlobang di mana mana.
Para prajurit atas awan tertawa melihat musuhnya lari tunggang langgang dengan santenya mereka berdiri di atas gumpalan awan sambil melihat orang orang berlarian .
Jaka dan Dewi juga merasa heran karena bumi seakan mau kiamat tanah di bawah mereka juga terbelah dan membenamkan kayu kayu besar yang mengelilingi hutan.
Tiba tiba Jaka dan Dewi juga kaget melihat dua kelebat bayangan putih mengikuti mereka.
Namun Jaka dan Dewi segera mengenali keduanya,rupanya bayangan tersebut adalah Kiai Agung prawoto dan satunya adalah sang hyang ismoyo jati atau Sabdo Palon.
__ADS_1
Rupanya mereka akan membantu Jaka dan dewi mengalahkan Raja Darma Wisnu dan berusaha menyelamatkan dunia dari kehancuran.