JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Sang Hyang Ismoyo


__ADS_3

Dewi segera mengepakan sayapnya ia pun terbang dengan secepat kilat,tak selang berapa lama keduanya pun turun di sebuah kampung yang berada di bawah Gunung Tidar.


Penampilan Jaka dan Dewi yang menggunakan pakaian islami menjadi pusat perhatian,warga pun terlihat memandangi penampilan mereka ketika Jaka dan Dewi hendak masuk di sebuah kedai untuk memesan makanan.


Di dalam kedai orang orang terlihat saling berbisik ,mereka pun merasa aneh dengan penampilan kedua orang yang baru saja memesan makanan.


Jaka dan Dewi dengan lahap menyantap makanan yang telah di hidangkan ,setelah selesai ia pun membayar makanan sambil menanyakan jalan menuju puncak Tidar.


Pelayan terkejut mendengar pertanyaan Jaka ,bahkan tubuhnya terlihat berkeringat,dengan terbatah pelayan berkata,bahwa sebaiknya Jaka mengurungkan niatnya menuju Gunung Tidar,karena menurutnya Gunung Tidar adalah tempat yang sangat berbahaya ,di samping menjadi sarang para perampok ,gunung itu juga di huni oleh jin pamomong tanah jawa yang di kenal dengan Sang Hyiang Ismoyo.


Pelayan juga menuturkan bahwa tidak seorang pun yang berhasil mencapai puncak tidak kecuali ,ratusan tahun yang lalu yang konon ada yang mampu mencapai puncak Tidar yaitu seorang pemuka agama yang bernama Shyeikh Subakir yang berasal dari tanah Arab.


Jaka dan Dewi tersenyum ketika pelayan kedai mulai memperhatikan penampilan Jaka yang berjubah putih dan memakai sorban di kepalanya.


Pelayan pun segera teringat akan cerita kakeknya bahwa Shyeikh Subakir juga memakai jubah putih dengan tutup kepala yang panjang.

__ADS_1


Jaka segera menepuk pundak pelayan yang terlihat tertegun,ia pun berkata bahwa ia adalah seorang muslim sehingga penampilanya pun hampir sama dengan pendahulunya yaitu Shyeikh Subakir.


Pelayan pun kembali terkejut ,karena Jaka mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.


Sekali lagi Jaka bertanya tentang jalan yang harus ia lewati agar cepat sampe di puncak Tidar.


Kali ini pelayan kedai terlihat yakin,ia pun segera menunjukan sebuah jalan yang berada di samping kedai yang terlihat tertutup di antara semak semak.


Jaka dan Dewi segera memohon diri,mereka pun segera keluar dan berjalan menuju semak yang di tunjukan oleh pelayan.


Para tamu terkejut dan menghentikan sejenak menyantap makanan,rasa penasaran mulai munjul,akhirnya mereka mendesak pelayan agar jangan bertele tele dan segera bercerita tentang tujuan orang yang berpakaian aneh yang baru saja keluar dari kedai.


Para warga mulai menduga duga ,walaupun islam belum berkembang di desa tersebut namun cerita para wali sudah turun temurun di ceritakan oleh leluhur mereka,apalagi tentang Shyeikh Subakir yang konon melakukan pertarungan dengan Sang Hyang Ismoyo yang terjadi lebih dari empat puluh hari empat puluh malam,di mana beliau Shyekh Subakir berhasil memenangkan pertempuran.


Warga terus berbincang dan menganggap bahwa Jaka sebagai keturunan dari wali tersebut.

__ADS_1


Jaka dan Dewi terus berjalan melewati jalan kecil yang di penuhi semak semak,mereka pun terlihat sibuk menyingkirkan rerumputan dan ranting pohon yang melintang.


Hawa dingin mulai menusuk tubuh,Jaka dan Dewi terpaksa menggunakan sedikit tenaga dalamnya untuk membuat tubuh mereka menjadi hangat.


Setelah jalan sempit yang di penuhi semak habis,kini terbentang jalan yang di penuhi bebatuan terjal dan menanjak,Jaka dan Dewi juga mulai merasakan bahwa ada beberapa orang yang sedang mengawasinya,mereka pun menduga bahwa orang yang mengawasinya adalah gerombolan perampok ,seperti cerita dari pelayan kedai.


Dewi Kumalasari segera berseru agar mereka keluar dari persembunyian.Puluhan orang dengan memegang pedang keluar dari semak semak,mereka segera mengepung Jaka dan Dewi Kumalasari.


Secara bersamaan mereka mencabut pedang langsung menyerang,Dewi melompat naik ke sebuah pohon ,sementara Jaka di biarkan menghadapi para gerombolan perampok yang terus mengayunkan pedang ke tubuhnya.


Jaka melompat dan menendang tubuh perampok satu demi satu hingga merekapun terpental dan akhirnya lari terbirit birit.


Dewi bertepuk tangan sambil melompat dari atas pohon,Jaka pun melangkah mulai menaiki jalan yang menanjak.


Angin kencang tiba tiba berhembus seakan ingin mengusir kedatangan Jaka dan Dewi yang mulai memasuki puncak Gunung Tidar.

__ADS_1


__ADS_2