
Kini dalam beberapa saat keduanya sudah bertarung dengan puluhan jurus.
Jaka kali ini berusaha menggunakan pukulan matahari, namun lampir hanya tertawa terkekeh dan menangkis pukulan matahari dengan tongkatnya.
Bahkan kali ini ia menggunakan sihir mengubah tongkatnya menjadi mahluk mirip kelelawar raksasa yang berusaha menyerang Jaka.
Kali ini Jaka menghentakan kakinya ke tanah dan meluncur ke atas, sementara kelelawar raksasa berusaha mengejarnya.
Jaka menggunakan ajian penyerap daya, ia berusaha menyerap kekuatan alam. Setelah di rasa cukup besar Jaka melepaskan kekuatanya.
Usaha Jaka berhasil, kelelawar raksasa terlempar dan lenyap berubah kembali menjadi tongkat dan jatuh di hadapan Lampir.
Jaka kembali menyerap kekuatan alam dan mengarahkan kekuatanya ke arah lampir.
Lampir segera memutar mutar tongkatnya membuat perlindungan.
Namun tenaga yang di hasilkan dari ajian penyerap daya cukup besar hingga dapat menerobos pertahanan lampir.
Lampir terpental cukup jauh hingga tubuhnya menghantam batu besar.
Sementara itu bunyi kokok ayam mulai terdengar tanda fajar segera tiba.
Lampir merasa kurang beruntung karena jika fajar tiba kekuatanya sedikit melepah.
Ia pun memilih kabur dengan mengeluarkan tawa khasnya.
" He he he he,aku belum kalah Jaka. Tunggulah aku akan kembali!"
Jaka tak berusaha mengejar dan mendekati Kiai Agung.
"Apakah guru sudah baikan?"
" Ia ngger prabu,aku baik baik saja,alhamdulillah Allah masih melindungiku!"jawab Kiai Agung Prawoto.
Jaka tersenyum riang dan ketiganya akhirnya berjalan beriringan menuju padaepokan yang letaknya cukup dekat dari puncak bukit mulyo.
Kiai Agung segera menyuruh keduanya menuju masjid untuk bersama sama melakoni sholat subuh , lalu kemudian beristirahat.
Sementara itu di sebuah goa yang letaknya masih berada di kawasan bukit mulyo, Lampir melampiaskan kemarahan dengan menghantam dinding goa.
Ia merasa marah karena seharusnya musuh bebuyutanya telah mati jika tidak di tolong oleh Jaka Kelana.
__ADS_1
" Pemuda itu tidak bisa di remehkan.Apa boleh buat aku harus meminta bantuan kepada Kalinggi untuk melawan pemuda bodoh itu! gerutu Lampir.
Ia pun segera melakukan kontak batin memanggil Kalinggi.
Awalnya Kalinggi menolak mentah mentah ajakan Lampir, namun ia berpikir sejenak bahwa akan jauh lebih mudah mengalahkan Jaka jika keduanya bergabung.
Lampir pun segera menyuruh Kalinggi datang bersama murid murid utamanya di antaranya Kumambang, Arya Wisapati, Surasena, Kuda Merta dan Matasatu.
Mereka segera terbang sebelum matahari mulai bersinar.
Tak butuh waktu lama Kalinggi bersama muridnya telah sampai di goa tempat Lampir.
Mereka pun beristirahat sambil menunggu malam tiba untuk kembali membuat kekacauan.
Matahari mulai bersinar menerangi bukit mulyo, Jaka dan Dewi terlihat berbincang dengan Kiai Agung mengenai maksud kedatanganya yaitu untuk membahas tentang bagaimana cara menghabisi Kalinggi agar tidak bisa bangkit lagi.
Kiai Agung menghela nafas.
" Maaf ngger Allah saja telah menjamin umur iblis sampai hari kiamat.Kalinggi dan Lampir adalah manusia yang sudah bersekutu dengan iblis.Raga mereka masih manusia tapi sejatinya sukma asli mereka telah mati dan di gantikan oleh iblis yang mereka agungkan. Namun pasti ada cara untuk menghentikanya, seperti kakek buyutku yang bisa mengurung lampir hingga berabad abad lamanya."
Rupanya Kiai Agung terinpirasi membuat kotak seperti layaknya yang di gunakan Kiai Parayogo untuk mengurung lampir.
Ia segera menyuruh murid muridnya mencari pohon jati yang umurnya sudah ratusan tahun untuk menjadi bahan utama memuat peti.
Matahari tepat di atas kepala para santri membawa kayu jati yang sudah mereka belah dengan kapak dan mulai merangkainya menjadi peti.
Tak tanggung tanggung mereka membuat lima peti sekaligus.
Kiai Agung menyuruh seorang santri membuat ukiran kaligrafi di kayu yang akan di jadikan tutup peti.
Kaligrafi yang bertuliskan ayat kursi juga akan di gunakan untuk memagari peti agar lampir atau kalinggi tak bisa keluar dari peti tersebut.
Kiai Agung juga menambahkan lempengan tembaga untuk memperkuat peti.
Ia juga menyuruh para muridnya berkumpul dan melakukan doa bersama untuk memagari peti agar para siluman yang akan memasuki peti di pastikan tak bisa keluar.
Kiai Agung juga memikirkan sebuah tempat yang tidak akan di jamah oleh penduduk.
Karena beberapa bagian di peti tersebut mengandung emas dan mungkin akan sangat di minati oleh para penduduk.
Ia tak mau kecolongan seperti kakeknya yang berhasil mengubur lampir di sebuah goa tapi akhirnya bisa bangkit kembali.
__ADS_1
Jaka juga merasa bersalah akibat kecerobohanya kala mengambil cambuk amarasuli lampir jadi bangkit untuk kesekian kalinya.
Kini telah siaplah peti untuk memenjarakan para sekutu iblis untuk selama lamanya.
malam mulai menjelma, puncak bukit kini di tutupi kabut yang pekat dan suasana malam menjadi dingin.
Para Santri membuat api unggun di halaman padaepokan untuk sekedar menghangatkan badan.
Jaka dan Dewi serta Kiai Agung telah bersiap jikalau lampir kembali menebar teror.
Kiai Agung juga sengaja membuka pagar gaib yang menyelimuti padaepokanya untuk memancing kedatangan Lampir.
Malam semakin larut namun justru belum ada tanda tanda kedatangan wanita iblis tersebut.
Justru Kiai Agung dan juga yang lain kaget dengan kedatangan warga kampung yang penuh luka.
Rupanya ia baru saja mengejar lampir dan juga anak buahnya yang kembali menculik para gadis untuk di hisap darahnya hingga kekuatanya akan semakin bertambah.
Warga juga berkata bahwa ada dua orang wanita dan empat orang pria serta seorang lelaki kerdil yang ikut serta.
Tentunya hal itu membuat Jaka dan Dewi terkejut mendengarnya.
" Celaka guru, rupanya Lampir telah bersekutu dengan Kalinggi dan murid muridnya kita harus segera menghentikan mereka supaya penduduk tidak terus terusan menjadi korban.
Kiai Agung segera memejamkan matanya untuk melihat dengan mata batinya tentang lokasi yang menjadi tempat tinggal mereka.
Nampaklah sebuah goa yang terletak di tengah hutan di sebelah bukit mulyo. Sebuah tempat yang sangat sulit untuk di jangkau oleh rakyat biasa,karena letaknya yang berada di antara lembah bukit yang di penuhi bebatuan tajam.
Kiai Agung mengumpulkan murid terbaiknya yang memiliki kanuragan mumpuni yang dapat melalui medan yang di anggap sulit.
Peti peti yang sudah di siapkan beramai ramai mereka bawa menuju tempat persembunyian lampir dan juga Dewi Kalinggi.
Sementara itu Kalinggi dan juga lampir telah membantai beberapa wanita yang mereka culik dari perkampungan. Darah mereka di jadikan santapan untuk meningkatkan kekuatan.
Sementara terlihat di mulut goa Kumambang serta Arya wisapati dan Kuda merta ,surasena dan simanusia kerdil berjaga.
Beberapa siluman anak buah lampir juga turut serta.
Rombongan Kiai Agung,Jaka dan Dewi beserta para murid padaepokan mulai menuruni bebukitan terjal menuju lembah,mereka membawa obor untuk penerangan.
Kabut yang menyelimuti bukit sedikit mengganggu pandangan mata.
__ADS_1
Namun langkah mereka tak berhenti .
Para santri tetap bersemangat sambil menggotong peti yang telah di siapkan untuk memenjarakan Lampir dan juga Dewi Kalinggi...