
Keesokan harinya Pangeran Kamandaka telah bersiap di barisan paling depan memimpin pasukan kalingga untuk menyerang Panaruban.
" Bagaimana senopati apa semua sudah siap!" teriak Kamandaka.
Senopati segera memutar kudanya dan berkeliling melihat kesiapan pasukanya.
" Semua sudah siap gusti!" jawab senopati Kebo Anabrang sambil kembali berjalan dengan kudanya mendekati pangeran Kamandaka.
" Pasukan berangkatttt!!!" teriak senopati Kebo Anabrang.
Suara ringkikan kuda bersahut sahutan ketika tubuh mereka di pukul untuk mulai berlari, derap kuda mengepulkan debu debu hingga berterbangan.
Rakyat Kalingga berjejer di sepanjang jalan mereka pun berharap agar pangeran Kamandaka dan pasukanya kembali dengan membawa kemenangan.
Sementara itu Raja Rangga Wulung sudah tak sabar ingin segera memasuki istana dan menemui puterinya Sekar Mayang.
Pikiranya melayang mengingat Sekar Mayang kecil yang begitu terlihat manja hingga ia tak sadar jika gerbang telah di buka dan pasukanya mulai memasuki istana.
" Maaf Paduka Raja, kita sudah sampai" ucap Jaka.
" O ia, Jaka, maaf aku melamun jadi tak tahu bahwa kita sudah masuk istana, ya sudah aku duluan, rasanya sudah tak sabar ingin melihat Sekar Mayang!" jawab Raja sambil turun dari Kuda.
"Silahkan paduka raja, aku juga pamit untuk menemui Dewi!" timpal Jaka sambil berjalan untuk menemui Dewi Kumalasari.
Sesampainya di kamar sang puteri raja seakan tak percaya melihat puteri Sekar Mayang sedang duduk bercengkrama dengan ibundanya.
Raja segera memeluk anaknya, tangis haru kembali pecah,raja begitu bahagia puteri yang selama ini hanya terbujur kaku di pembaringan kini telah sembuh dan dapat beraktifitas seperti sedia kala.
Sementara puteri Sekar Mayang sudah sangat penasaran dengan rupa Jaka Kelana yang telah menolongnya.
Tentu saja kereka bertiga segera menuju ruang utama dan menyuruh prajurit untuk memanggil Jaka Kelana dan juga Dewi Kumalasari.
Jaka yang sedang asyik bercanda dengan istrinya kaget tak kala ada suara orang menggedor pintu.
" Maaf tuan Jaka, aku disuruh gusti Rangga Wulung untuk memanggilmu!" ucap prajurit.
" Baiklah aku segera bersiap prajurit!" jawab Jaka.
Prajurit segera berlalu, Jaka dan Dewi nampak merapikan pakaianya dan segera menuju ruang pertemuan untuk menghadap raja Rangga Wulung.
Puteri Sekar Mayang dadanya berdetak kencang melihat sosok Jaka kelana yang bertubuh kekar dan tinggi besar, wajahnya juga sangat rupawan.
__ADS_1
Pikiranya menjadi ngelantur rupanya ia jatuh hati terhadap Jaka Kelana, pemuda yang telah menolongnya.
Namun ia sadar bahwa Jaka sudah beristri yaitu Dewi Kumalasari, wanita yang telah menyelamatkan dirinya hingga kembali sembuh seperti sedia kala.
Namun dorongan hasratnya lebih menggebu hingga sang puteri tidak bisa berpikir jernih.
" Ibunda tolong suruh Jaka untuk menemuiku dan ibunda ajaklah pergi Dewi untuk berkeliling istana, tapi bilang saja ayah yang memanggilnya!" pinta Sekar Mayang.
Permaisuri yang memang sangat menyayangi ayahnya tak bisa membantah.
Ia pun segera berbisik kepada Raja, raja pun setuju setuju saja dan tidak menaruh curiga.
Sang Raja kembali menyuruh Jaka untuk berdiskusi sedangkan permaisuri mengajak Dewi jalan jalan berkeliling istana.
Sang Raja pun mengajak Jaka menuju sebuah ruangan, namun setelah sampai Raja berpura pura perutnya sakit dan hendak menuju kamar mandi.
Jaka di tinggal sendirian hingga munculah Sekar Mayang yang berpura pura membawa makanan.
" Maaf tuan Jaka, ayahanda kemana ya?" tanya Sekar sambil meletakan minuman.
" Maaf tuan puteri, kenapa tidak menyuruh dayang saja!" jawab Jaka.
Sekar Mayang lantas berkata bahwa ia khusus mengantar semua itu untuk Jaka sebagai tanda terima kasih atas apa yang telah ia lakukan untuk menolongnya.
" Maaf Puteri, kenapa Raja Rangga Wulung belum juga kembali?" tanya Jaka yang semakin merasa gugup.
Sekar Mayang lantas berkata bahwa ayahandanya sedang menemui tamu.
Sekar semakin tidak bisa berontak dengan pesona yang pancarkan oleh Jaka hingga ia berusaha mendekati Jaka Kelana.
Jaka pun mulai curiga dengan sikap puteri Sekar Mayang yang seolah olah memandangnya dengan penuh hasrat.
" Celaka jangan jangan sang puteri menaruh hati padaku!" pikir Jaka.
Hal yang tidak di duga terjadi sang puteri justru menutup pintu.
" Maaf tuan Puteri, jangan jangan di tutup pintunya, aku takut nanti akan terjadi fitnah!" pungkas Jaka.
Sekar Mayang berusaha mengendalikan perasaanya hingga ia menarik nafas panjang.
Tiba tiba terdengar suara teriakan prajurit bahwa Pasukan Kalingga sudah berada di batas panaruban dan membawa pasukan dalam jumlah besar.
__ADS_1
Tentu saja semua orang menjadi panik, Jaka pun merasa punya alasan untuk berlari keluar meninggalkan puteri Sekar Mayang.
Raja Rangga Wulung terlihat serius membaca sebuah surat yang di berikan seorang prajurit.
Ternyata itu adalah surat yang di temukan prajurit jaga, yang tiba tiba saja melihat benda jatuh dari balik tembok entah siapa yang melemparnya.
Isi surat tersebut adalah bahwa Raja Rangga Wulung harus menyerahkan sepasang tabib yang telah mencuri sukma Sekar Mayang atau aku Kamandaka akan meratakan kerajaan Panaruban.
Tentu saja hal tersebut membuat Raja Rangga Wulung murka, ia pun segera menyuruh senopati menyiapkan pasukan untuk menghadang musuh di perbatasan.
Jaka segera menemui Raja Rangga Wulung dan menanyakan kebenaran berita bahwasanya Kalingga akan menyerang Panaruban.
Raja pun berkata bahwa itu benar ia juga terlihat memberikan surat dari pangeran Kamandaka yang telah ia baja.
Jaka membaca dengan seksama .
" Maaf sang prabu, izinkan saya dan Dewi untuk menemui Kamandaka dan meladeni tantanganya!" pinta Jaka.
Ia juga menjelaskan kepada sang raja bahwa jika terjadi peperangan pastilah akan banyak nyawa yang menjadi korban.
Jaka kembali meminta agar Raja Rangga Wulung tetap bersiaga dengan pasukanya di perbatasan, namun ia harus mengizinkan Jaka dan Dewi menerima tantangan dari Pangeran Kamandaka.
Rupanya semua orang telah bersiap Sekar Mayang juga telah memakai baju perang dan bersiap ikut bergabung bersama pasukan Panaruban.
Jaka pun segera pamit dan berusaha mencari Dewi Kumalasari.
Ternyata Dewi juga sudah bersiap bersama para prajurit, ia lantas memberi surat tantangan dari Pangeran Kamandaka.
Tentunya Dewi terlihat sangat bersemangat.
Sementara itu Sekar Mayang merasa hatinya bergejolak melihat Jaka dan Dewi saling mengobrol.
" Tidak aku harus menahan perasaanku, jangan sampai perasaan ini membuatku hina dan melakukan hal tercela" pikir Sekar.
Ia pun merasa beruntung karena berkat kejadian ini, akhirnya kebodohanya yang menuruti hawa napsu jadi tidak betul betul terjadi.
Ia pun berpikir seandainya tadi benar benar ia memaksa Jaka, pastilah sekarang sudah terjadi prahara di panaruban.
Senopati segera berteriak agar pasukan segera berangkat menuju perbatasan.
Permaisuri nampak sedih melihat puteri semata wayangnya bersikeras untuk turut andil dalam peperangan.
__ADS_1
Ia pun hanya bisa berdoa agar semua di beri keselamatan dan tentunya kemenangan buat Kerajaan Panaruban.