
Terlihat sesosok pemuda dengan memakai pakaian bergambar tengkorak, rupanya dia adalah Tirta yang sedang menangis di pusara ayahnya.
" Ayah ini saatnya aku membalas perlakuan Wiramastra kepada ayah! Aku berjanji akan membawa Wiramastra dan akan kumandikan pusara ayah dengan darah Wiramastra!" teriak Tirta hingga membuat pedang setan bergejolak karena merasa luapan dendam tuanya yang meledak ledak.
Tirta segera melompat dan melesat terbang menuju Kadipaten.
Ia langsung menghunus pedangnya dan membunuh para prajurit layaknya semut yang pukul pake sapu. Dengan mudahnya Tirta menusuk dan memotong tubuh para prajurit.
Tak satupun darah terlihat bercecer di tanah. Sementara Bajra yang sudah bersiap dengan anak buahnya segera berlari dan mengeroyok Tirta.
Tirta mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan berhasil membuat gelombang energi yang melemparkan tubuh orang orang yang berusaha menyerangnya hingga jauh, bahkan ada pula beberapa tubuh yang tersangkut di atap dan dahan pohon.
Jeritan mereka memekikan telinga.
" Akhhhh, aduh sakitttt, akhhhggggg"
Teriakan terus saja terdengar dan Tirta menjadi semakin beringas menebaskan Pedang Setan ke semua prajurit yang menyerangnya.
Bahkan Bajra kini sudah tergeletak dengan kepala menganga terkena pedang setan.
Adipati Wiramastra ketakutan setengah mati melihat ratusan prajuritnya mati mengenaskan di tangan Tirta.
" Adipati Wiramastra keluarlah, atau semua prajurit dan keluargamu akan aku binasakan!" teriak Tirta Janu.
Sekar Ayu nampak begitu mengenali suara yang menggema di pelataran kadipaten. Ia pun segera keluar dan berteriak.
"Tirta Janu anaku, apakah itu benar dirimu nak?"
Tirta Janu segera mencabut pedangnya yang berada di perut seorang prajurit.
" Ibuuuuuuuu!" teriak Tirta yang tiba tiba saja tertunduk lemas.
Para prajurit menghentikan seranganya namun Adipati Wiramastra segera keluar dan berteriak untuk kembali menyerang.
Hingga pedang setan pun kembali bergerak dan membawa Tirta kembali ke dalam pertarungan.
Dalam hitungan menit semua prajurit yang menyerang Tirta terpental dan tubuhnya penuh luka menganga terkena sabetan pedang setan.
Namun anehnya semau luka mereka tak mengeluarkan darah, namun mereka merasakan panas yang luar biasa.
Kini beberapa prajurit mulai ketakutan dan berlari ke luar kadipaten.
Sementara itu Jaka dan Dewi bersama Ki Roso dan Nyi Suri bersama puluhan warga berniat ke kadipaten untuk menyelamatkan Sekar Ayu dari cengkeraman Adipati Wiramastra.
Namun rupanya mereka kaget setelah melihat beberapa prajurit yang keluar dari gerbang kadipaten berlari dan beberapa orang terlihat luka luka.
" Celaka kita terlambat Dinda!" teriak Jaka yang langsung melayang melompati tembok yang menjulang tinggi .
Dewi segera melesat menyusul Jaka dan membuat mata penduduk terbelalak melihat kedua orang tersebut bisa melompati tembok sangat tinggi.
__ADS_1
Ki Roso pun semakin penasaran dengan sosok kedua orang yang baru di kenalnya.
" Sudah sudah hentikan anaku!" teriak Sekar Ayu.
Rupanya kesadaranya mulai pulih setelah melihat wajah Tirta.
Namun kini justru Tirta tak bisa mengendalikan gerakan pedangnya dan mengarah ke ibunya.
" Ibu ibu pergilah, aku tidak bisa melepaskan pedang ini!" teriak Tirta.
Rupanya isi kepalanya juga sudah di kuasai bisikan setan yang menyuruhnya untuk menghabisi siapa saja yang berusaha untuk menghalangi balas dendamnya.
Sekar Ayu hanya pasrah ketika Tirta melompat dan mengayunkan pedangnya untuk mengahiri hidupnya.
Jaka:" Kau selamatkan bibi Sekar dan aku akan menahan Tirta !"
Jaka berteriak sambil mengeluarkan pedang suci, sementara Dewi segera melesat dan menyambar tubuh Sekar Ayu.
Kedua pedang berbenturan hingga membuat keduanya terlental.
Kini kembali terdengar bisikan di telinga Tirta untuk segera menyerang Wiramastra yang masih tertegun.
Tirta segera mendarat dengan memantulkan kakinya ke tembok dan kembali melesat menyerang Wiramastra.
Wiramastra terkejut dan tidak sempat menghindar hingga pedang setan berhasil membuat luka di perutnya.
Tirta tak berhenti di situ ternyata ia lantas menotok urat Wiramastra dan membawanya terbang ke kuburan ayahnya.
Mereka pun beramai ramai berlari mengikuti arah terbang Tirta bersama Adipati.
Tirta terus saja melayang hingga sampelah ia ke kuburan Ayahnya.
Adipati Wiramastra berlutut memohon ampun setelah Tirta membuka totokanya, ia juga terus meminta maaf dan mengakui semua perbuatanya.
Namun justru pengakuan Wiramastra membauat Tirta semakin marah hingga isi kepalanya di penuhi bayangan ayahnya yang terbujur kaku tanpa ada seorang warga yang peduli bahkan Tirta juga melihat ada beberapa warga yang menginjak sebelum akhirnya meludahi jasad ayahnya.
" Aku tidak bisa mengampunimu adipati, karena aku sudah berjanji di atas pusara ayahku yang telah kau gantung! Untuk aku siram dengan darahmu hingga membasahi semua pusara makam ini!" teriak Tirta sambil mengambil pisau kecil dari balik bajunya .
Lalu ia goreskan untuk memo..ng urat nadi Wiramastra hingga bercucuran di atas pusara Arya Janu.
Tubuh Wiramastra pun tersungkur di atas pusara Arya Janu dengan bersimbah darah.
Para penduduk pun beramai ramai datang namun mereka tak berani untuk menolong Wiramastra.
Tirta memandang tajam wajah penduduk, ia pun nampak teringat wajah wajah orang yang telah tega menginjak dan meludahi jasad ayahnya.
Hingga dendamnya kembali membara dan bisikan bisikan setan kembali terdengar.
" Bunur mereka semua Tirta,ayo bunuh mereka telah menghina ayahmu!"
__ADS_1
Tirta memagangi kepalanya, namun darahnya kembali bergejolak , ia kemudian bangkit dan melompat ke arah penduduk.
Para penduduk berlari ketakutan.
" Tolong tolong ampuni kami, Tirta!"
Terlihat seorang penduduk berlutut memohon ampun, namun Tirta mengangkat pedangnya berniat menghabisi nyawanya.
" Sadarlah, sadarlah anaku, kamu di kuasai iblis nak!" teriak Sekar yang datang bersama Dewi beserta Jaka.
Tirta segera berbalik dan menatap wajah ibunya yang di penuhi airmata .
Hatinya pun luluh hingga terduduk lemas.
Namun bisikan demi bisikan memenuhi gendang telinganya hingga Tirta pun bangkit dan kembali menyerang penduduk.
Jaka segera melompat dan menyambar tubuh penduduk yang hampir terkena sabetan Tirta.
Keduanya terlibat pertarungan sengit, kedua pedang beradu hingga cahaya berwarna putih dan merah saling berbenturan.
Dan menyebar ke segala arah.
Dewi pun nampak serius mengamati dan terus memasang kuda kuda jikalau seandainya Jaka Kelana membutuhkan bantuan darinya.
Jaka mencoba menusukan pedang suci ke dalam tanah, hingga tanah bergelombang dan kemudian meledak, namun Tirta melompat cukup tinggi dan mengayunkan pedangnya, hingga kedua kekuatan pedang beradu dan menimbulkan beberapa kali ledakan.
Dewi pun menyuruh Sekar Ayu dan penduduk menjauh.
Kekuatan Tirta seperti tidak pernah terkuras dan tentu saja akan sangat berbahaya jika Jaka berlama lama.
Jaka pun melayang tinggi tinggi dan menggunakan ajian penyerap daya untuk di alirkan ke pedang suci.
Tirta menyusul ia menghentakan kakinya kuat kuat lalu meluncur ke atas dengan pedang lurus di atas kepalanya.
Jaka segera melepaskan kekuatan ajian penyerap daya yang ia kombinasikan dengan energi pedang suci.
Sebuah gulungan cahaya putih bersinar bergerak vertikal meluncur dari atas.
Tirta mulai merasa lajunya terhenti dan di tekan dengan sebuah energi yang sangat besar, ia pun berusaha mengeluarkan semua tenaga yang ia miliki untuk menahan gelombang serangan Jaka.
Hingga nampaklah kedua gelombang Cahaya putih dan merah kembali berbenturan, namun lama kelamaan cahaya berwarna merah lenyap dan tubuh Tirta masuk ke dalam tanah yang berlubang cukup dalam.
Jaka berusaha mencari Tirta namun ia tak menemukanya di lubang tersebut.
Semua warga pun berlarian dan mengerumuni lobang, mereka pun kaget saat Jaka melayang tanpa membawa Tirta.
Sekar Ayu menangis sejadi jadinya di pelukan Dewi Kumalasari.
" Tenanglah Bi, Kemungkinan Tirta masih hidup dan di bawa raja iblis penghuni pedang setan ke alamnya, aku akan berusaha menolongnya!"
__ADS_1
Jaka kembali melesat dan berupaya mengikuti sebuah energi yang ia duga telah membawa tubuh Tirta.