
Ambarwati sudah tak bisa lari karena semua jalur yang di lewati sudah di hadang oleh para pendekar golongan hitam.
Dengan terpaksa ia pun harus menghadapi gempuran dari para pendekar yang menghadangnya.
Sementara terdengar salah seorang dari penyerang berteriak dan menyebut nama Dewi Ambarwati. Rupanya ia mengenali wajah permaisuri raja Jaya Wijaya.
Arya Wisapati dan Kumambang merasa terkejut sekaligus senang, mereka segera terbang dan memasuki pertarungan.
" Minggirlah kalian semua, biar aku yang menangkap ratu wisma kencana dan aku akan membuat kejutan untuk Guru Kalinggi!" teriak Kumambang yang langsung melancarkan serangan ke arah Dewi Ambarwati.
Sementara Arya Wisapati masih menunggu, ia juga terbersit pikiran licik untuk melepaskan pukulan tapak wisa di saat Dewi Ambarwati lengah.
Arya Wisapati tertawa dalam hati , ia merasa bisa membalas sakit hatinya kepada Jaka Kelana dengan membunuh ibundanya.
Sementara itu Jaka terus saja teringat akan wajah ibundanya, rasa rindunya semakin pekat ia rasakan memenuhi relung jiwanya.
Namun ia merasa ada yang aneh tiba tiba dadanya juga merasa berdebar kencang dan pikiranya terus saja membayangkan wajah ibundanya, kini di benaknya seolah olah melihat bayangan bahwa ibunda Dewi Ambarwati sedang dalam bahaya.
"Dinda, kenapa aku punya firasat yang buruk tentang ibunda Ambarwati!" ungkap Jaka.
Dewi ternyata juga memiliki perasaan yang sama.
" Ia kanda aku juga sedari tadi sedang memikirkan ibunda Ambarwati!" jawab Dewi sambil terus mengepakan kedua sayapnya.
Jaka yang semakin di liputi rasa penasaran segera melakukan penerawangan.
Jaka terkejut melihat keberadaan ibunya Ambarwati yang berada di sebuah hutan dan sedang bertarung dengan puluhan pendekar.
Jaka segera memastikan tempat yang di lihat dalam penerawanganya.
" Dinda, kita harus menuju goa Wlirang dan segera menolong ibunda Ambarwati!" teriak Jaka
Dewi Kumalasari segera memutar badan dan terbang ke arah goa wlirang.
Sementara itu Dewi Ambarwati terus berusaha meladeni perlawanan Kumambang.
Pertarungan mereka pun menjadi tontonan yang menarik untuk rakan rekanya.
Arya Wisapati mulai mengepalkan kedua tanganya dan bersiap melepaskan pukulan tapak wisa di saat Dewi Ambarwati lengah.
Segera ia melompat dan melepaskan pukulanya setelah melihat Dewi Ambarwati sedikit sempoyongan karena terkena pukulan Kumambang.
Dewi Ambarwati yang sedang mengokohkan kuda kudanya terkejut melihat sekelebat bayangan yang melepaskan pukulan ke arahnya, ia mencoba sedikit bergeser untuk menghindar.
__ADS_1
Namun karena gerakan Wisapati begitu cepat pukulan telak yang ia lepaskan berhasil menghantam dada Ambarwati dengan keras.
" Braakkk"
Tubuh Dewi Ambarwati terhempas, namun ia masih bisa berdiri.
Tak berapa menit racun dari pukulan tapak wisa mulai bereaksi, tubuh Dewi Ambarwati tiba tiba terasa dingin dan pandanganya mulai kabur.
" Celaka aku terkena racun tapak wisa, aku harus berusaha menotok aliran darahku sebelum racun ini masuk ke hati dan jantungku.
Dewi Ambarwati segera menotok aliran darah yang bergerak ke jantung dan juga hatinya.
" Ha ha ha ha ha, kini riwayat hidupmu akan berakhir sang ratu!" teriak Arya Wisapati.
Kumambang segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa tubuh Dewi Ambarwati yang sudah lemas tak berdaya akibat racun dari pukulan tapak wisa milik Arya Wisapati.
Semua orang terkejut ketika mendengar suara teriakan seseorang.
" Hei mau di bawa kemana perempuan itu, tak malukah kalian mengeroyok seorang wanita!"
Semua orang berusaha mencari, Kumambang segera menyuruh anak buahnya membawa Ambarwati ke goa Wlirang.
Namun tiba tiba sesosok bayangan meluncur dan melumpuhkan anak buahnya dan berhasil merebut Ambarwati.
" Hei, serahkan wanita itu atau tapak wisaku akan membunuhmu pendekar buta!" teriak Wisapati dengan nada mengancam.
" Dasar tua bangka, bersiaplah menemui ajalmu!"
Wisapati kembali melepaskan pukulan tapak wisa namun pendekar buta segera bergerak dengan menekuk tubuhnya, kemudian ia menahan serangan Wisapati menggunakan tongkat yang ia genggam.
" He he he he, cuma segini pukulan andalanmu, Wisapati!"ejek pendekar buta.
Wisapati terbelalak karena pukulan andalanya hanya di anggap mainan oleh pendekar buta.
Ia pun segera memberi aba aba kepada rekanya untuk menyerang.
Puluhan pendekar maju dan bersama sama mengeroyok pendekar buta. Pendekar buta hanya tertawa melihat puluhan pendekar bergerak menyerangnya, ia kembali mengayunkan tongkatnya hingga membuat para pendekar yang berlari ke arahnya terkejut karena tanah tiba tiba meledak.
" He he he he. Kenapa berhenti apa kalian ketakutan?" ejek pendekar buta.
Kumambang dan Wisapati semakin geram keduanya segera melompat dan segera menyerang Pendekar buta bersama sama.
Sementara itu Dewi Ambarwati tergolek tidak sadarkan diri seluruh kulitnya mulai berwarna biru akibat racun tapak wisa yang mulai menjalar.
__ADS_1
Pendekar buta mulai mencemaskan sang ratu, namun sepertinya kedua musuhnya tak memberikan ruang untuk dirinya membawa kabur sang ratu.
Bahkan kini puluhan pendekar sudah berusaha mengurungnya, sementara sebagian yang lain berusaha membawa tubuh sang ratu.
Pendekar buta kembali memutar mutar tongkatnya hingga tanah di sekelikingnya meledak.
Asap mengepul hingga mengepul ke angkasa.
Jaka semakin merasa cemas dengan keadaan ibundanya.
Dewi pun segera melaju dengan sangat cepat hingga sampelah keduanya di wilayah goa wlirang.
Jaka yang tak sabar segera melompat dari punggung Dewi.
Sementara semua orang kembali di kejutkan sesosok pemuda yang seakan jatuh dari langit.
"He he he he, kau datang tepat waktu Jaka, sekarang ini menjadi bagianku dan aku akan berusaha menyelamatkan ibumu yang terkena racun tapak wisa!" ucap pendekar buta.
Jaka merasa kaget dan mukanya menjadi merah, ia menatap Arya Wisapati dengan tajam.
" Kamu harus mendapat pelajaran atas perlakuanmu terhadap ibuku!" Jaka berteriak dan langsung melompat menendang tubuh Wisapati.
" Tendangan tanpa bayangan" Jaka berteriak sambil melepaskan tendangan bertubi tubi ke arah Wisapati.
Tubuh Wisapati terlempar namun Jaka segera menyusul dan menghantam tubuh wisapati dengan pukulan matahari.
Tubuh wisapati tak dapat terlihat dan hanya asap yang terlihat menutupi tubuhnya.
Semua orang merasa nyalinya menciut melihat pemuda yang tiba tiba muncul mengamuk dan dengan mudah membuat Arya Wisapati tak berdaya.
" Jangan hanya bengong, segera kepung dan hajar pemuda sialan itu!" bentak kumambang.
Jaka menatap tajam kepada semua orang yang kini bergerak ke arahnya.
" Kalian mau mengantarkan nyawa!" bentak Jaka dengan wajah geram.
Kedua tanganya kembali di angkat ke atas.
" Jurus dewa gledek"
Jaka segera membuka tanganya hingga kemudian kilatan petir menyambar nyambar dan menewaskan semua orang yang hendak menyerangnya.
Kumambang merasa buluk kuduknya merinding tubuhnya bergetar karena ketakutan.
__ADS_1
Matanya kemudian di pejamkan, rupanya kumambang sedang memanggil gurunya Dewi Kalinggi untuk datang membantunya dan segera mengalahkan musuh bebuyutanya Jaka Kelana yang selama ini selalu berhasil mengalahkanya.
Selamat Hari ulang tahun RI, semoga indonesia semakin jaya dan korona cepet lunga, Amiiinn.