
Dengan bergabungnya Jendral Kwan secara otomatis pasukan yang di bawanya yang masih tersisa juga akan bergabung dengan pasukan Kaisar Ci,itu berarti pasukanya akan menjadi semakin kuat. Bahkan Jendral Kwan secara langsung akan menemui kaisar Feng untuk melapor.
Berangkatlah Jendral Kwan dengan di temani Jaka Kelana dan juga Dewi Kumalasari dengan wujud Elang Raksasa. Keduanya segera naik ke punggung Elang dan secepat kilat burung raksasa terbang menuju istana Kaisar Feng.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka sampai di wilayah Kaisar Feng.
Dewi segera merubah dirinya menjadi manusia supaya para penduduk tidak ada yang melihat dirinya ketika menjelma menjadi manusia.
Setelah berjalan sekitar beberapa ratus meter gerbang istana mulai terlihat. Jendral Kwan segera menunjukan segel istana kepada penjaga gerbang. Sang penjaga segera berlutut ketika melihat segel dan mengetahui bahwa orang yang berpakaian rakyat jelata ternyata Jendral Kwan. Jendral Kwan tersenyum dan menyuruh penjaga berdiri. Sementara salah seorang prajurit segera berlari kedalam istana untuk melapor kepada sang Kaisar Feng.
Ternyata Kaisar Feng cukup kaget ketika mendapat laporan bahwa Jendral Kwan telah kembali tanpa membawa pasukan,dia beranggapan bahwa pastinya pasukanya dapat dikalahkan oleh Mhing Chun yang memang tergolong lihai dan licik.
Jendral Kwan mengajak Jaka dan Dewi memasuki ruang pertemuan, sang Kaisar Feng telah menunggu bersama para punggawa kekaisaran.
Jendral Kwan memberi hormat dan setelahnya segera menceritakan semua hal yang telah ia alami. Tentunya mendengar cerita Jendral Kwan sang Kaisar murka. Dia juga menyesali perbuatanya yang telah menggulingkan Kaisar Ciming. Kaisar Feng pun berjanji akan mengembalikan Kekaisaran yang telah di duduki Mhing Chun kepada Kaisar Ciming. Segera ia menyuruh juru tulis istana untuk membuat surat pernyataan permohonan maaf kepada kaisar Ci dan satu lagi surat di tunjukan kepada pasukanya yang masih berada di wilayah Kaisar Ci untuk segera bergabung menuju Benteng Karang Kekal dan mematuhi semua perintah Jendral Chong dan membantu merebut istana dari kuasa Mhing Chun.
Mengingat waktu yang cukup mepet dan pastinya Mhing Chun juga tidak tinggal diam dengan sisa pasukan Jendral Kwan yang masih tersisa di wilayahnya. Jaka dan Dewi segera di utus kembali untuk mengantar surat kepada pasukan Jendral Kwan dan juga kepada Kaisar Ciming.
Keduanya segera berpamitan dan langsung keluar dari istana. Setelah berjalan masuk ke dalam hutan Dewi segera merubah wujudnya dan melesat membawa Jaka Kelana Ke bukit Benteng Karang Kekal.
Kaisar Ciming dan para punggawanya segera keluar biliknya ketika terdengar suara Elang Raksasa menggema di atas langit , para pasukan juga berkumpul. Sayup sayup Elang raksasa mulai terlihat dan pelan pelan mendarat di kelilingi ribuan manusia.
__ADS_1
Jaka segera memberikan surat dari Kaisar Feng. Wajah Kaisar Ciming terlihat semringah dan mulai membaca isi surat dari Kaisar Feng dengan lantang.
Para prajurit menyambut gembira dan bersorak Sorai ketika mengetahui bahwasanya Kaisar Feng akan mengerahkan seluruh pasukanya untuk membantu Kaisar Ci untuk merebut kekuasaanya dari tangan Mhing Chun.
Jendral Chong segera mengintruksikan pasukan bersiap dan segera bergerak menuju wilayah istana dan segera bergabung dengan pasukan Jendral Kwan.
Panji Panji segera di kibarkan dan pasukan segera berangkat. Kaisar Ciming langsung memimpin pasukan dengan di dampingi saudaranya Liming,Guru Chen dan juga Jendral Chong . Sementara itu Jaka dan Dewi segera melakukan perjalanan menuju pasukan Jendral Kwan yang masih menunggu di perbatasan .
Jaka tak mau mengambil resiko dengan mengorbankan pasukan Jendral Kwan yang pastinya akan menjadi target penyerangan Mhing Chun. Dugaan Jaka tak meleset dari atas punggung Elang Raksasa ia melihat iring iringan pasukan dengan Panji bergambar perguruan Iblis merah menuju kemah yang di huni pasukan Jendral Kwan. Dewi segera melesat dengan sangat cepat setelah meminum air keabadian dan melipat gandakan kekuatanya.
Jaka segera melompat turun dan menemui komandan pasukan. Komandan pasukan tentunya sangat terkejut membaca isi surat dari Kaisar Feng, apalagi Jaka segera memberi tahu Komandan pasukan bahwa Mhing Chun akan segera menyerang.
Tentu saja hal itu membuat pasukan menjadi siap siaga. Mereka segera menempatkan meriam meriam dan mengarahkannya ke tengah jalan yang akan di lalui pasukan Mhing Chun.
Beberapa orang prajurit terpilih siap siaga dan untuk memancing pasukan Mhing Chun memasuki area perkemahan.
Sementara semua pasukan telah bersembunyi.
Pasukan Mhing Chun di pimpin oleh Jendral Lui Sin yang merupakan murid kesayangan Mhing Chun. Sementara Mhing Chun telah kembali ke istana dan sudah merasa menang karena dapat memperdaya Jendral Kwan dan pasukanya.
Lui Sin segera memerintahkan pasukanya menyerang. Sementara para prajurit Jendral Kwan segera memutar kudanya menuju tengah tengah kemah untuk memancing pergerakan musuh.
__ADS_1
Pasukan Lui Sin yang berjumlah sekitar lima ribu pasukan segera memacu kudanya mengejar ratusan orang pasukan Jendral Kwan.
Lui Sin tak menyadari bahwa itu hanya pancingan. Ia sadar ketika mendapati laporan anak buahnya bahwasanya tenda tenda sudah kosong dan pasukan Jendral Kwan yang mereka lihat lari ke dalam hutan. Lui Sin baru menyadari bahwa itu merupakan jebakan. Namun semua sudah terlambat panah api segera meluncur seakan berjatuhan dari langit . Api segera menyambar tenda dan jerami yang sudah di lumuri minyak .
Api berkobar begitu besar mengepung pasukan Lui Sin. Sementara itu Jaka segera membaca mantera dan menggunakan ilmu Halimun. Dia segera terbang dengan membawa obor yang di sulutkan ke puluhan sumbu meriam. Ledakan demi ledakan menggema di barengi suara teriakan kesakitan dari pasukan Lui Sin.
Ribuan orang mati dalam beberapa saat . Di tengah kepanikan pasukan Lui Sin terus mencoba keluar dari lingkaran api namun usaha mereka sia sia karena pasukan Jendral Kwan segera keluar dari persembunyian dan langsung melakukan penyerangan.
Melihat situasi demikian Lui Sin meninggalkan pasukanya dengan kemampuan yang dimiliki ia segera terbang meninggalkan pasukanya. Perang berlangsung cukup lama namun sudah dapat di pastikan kemenangan ada pada pasukan Jendral Kwan.
Sementara itu dalam sekejap Lui Sin telah sampai di istana dan segera melapor kepada gurunya Mhing Chun.
Tentu saja Mhing Chun marah besar dan mulai cemas akan situasi selanjutnya,karena bukan tak mungkin Ciming akan kembali menduduki tahta. Ia pun mencoba memutar otak untuk meminta bantuan. Mhing Chun teringat kepada pesan gurunya yang sudah di bunuh oleh Jaka Kelana. Yaitu tentang upacara pemanggilan Dewa Ratu Kegelapan yang akan membantunya di situasi yang tidak memungkinkan.
Mhing Chun buru buru menyuruh Lui Sin dan beberapa prajurit untuk menyiapkan sesaji untuk pemanggilan Dewa Kegelapan.
Sementara itu sorak kemenangan terdengar dari pasukan Jendral Kwan yang di pimpin komandan Gwa Kyo. Ia sangat berterimakasih kepada Jaka Kelana dan Juga Dewi Kumalasari , karena dengan ide brilian dari mereka pasukan Lui Sin dengan mudah dapat di kalahkan. Kini Jaka menyuruh Gwa Kyo untuk memerintahkan pasukanya bergerak ke arah Benteng Karang Kekal untuk bergabung dengan pasukan Kaisar Ci. Sementara itu sebagian pasukanya di suruh membantu menguburkan mayat mayat yang menjadi korban perang , dan sebagian lagi menjaga tawanan baru kemudian menyusul ke benteng Karang Kekal.
Setelah setengah hari perjalanan mulai terlihat Panji Panji berkibar yang menandakan bahwa pasukan Kaisar Ciming mulai mendekat. Komandan Gwa Kyo menyuruh pasukanya berhenti.
Jaka tersenyum lega melihat iring iringan pasukan yang di pimpin Kaisar Ciming mulai terlihat. Namun kesedihan sedikit menerpa hatinya ia merasa kenapa harus selalu berperang untuk menyelesaikan masalah ,dan harus ada ribuan orang yang menjadi korban.
__ADS_1
Di lubuk hatinya sangat mendambakan kedamaian dan tidak ada lagi peperangan. Dewi yang sudah mengetahui karakter suaminya tersenyum dan meraih tangan Jaka dan menggenggamnya dengan erat.