
Pagi yang cerah matahari bersinar begitu bebas tanpa ada awan yang menutupinya. Nilam telah bangun lebih awal dan menyiapkan makanan untuk Tirta.
Tak berapa lama Tirta bangun dan kemudian keluar menuju sungai untuk membasuh mukanya. Ia pun melahap pisang bakar yang telah di siapkan oleh Nilam.
Nilam nampak ceria melihat Tirta yang kala makan pisang berperilaku seperti monyet ,bahkan sampai perut Nilam terasa sakit karena tertawa terpingkal pingkal.
Setelah selesai makan Tirta dan Nilam segera keluar untuk mencari Mahisa dan Mayang. Sementara itu Mayang dan Mahisa yang bernaung di atas pohon menghabiskan malamnya segera ingin menjajal pedang halilintar dan juga pedang naga emas.
Mahisa turun dari pohon mencari tempat yang agak longgar untuk menjajal kekuatan pedang halilintar.
Namun rupanya di lembah juga masih terdapat beberapa pendekar yang sempat di tolong oleh Tirta ,mereka diam diam mengawasi Mayang dan Mahisa yang di ketahui telah membawa dua senjata sakti yang menjadi incaran para pendekar untuk memilikinya.
Mereka yang berjumlah empat orang berbagi tugas,kala itu Mahisa seorang diri dan Mayang masih di atas pohon sedang menyantap buah untuk mengganjal perutnya.
Dua orang secara serentak akan mengejutkan Mahisa dengan seranganya dan dua yang lainya akan berusaha merebut pedang halilintar.
Mahisa yang masih mengamati pedang halilintar nampak kaget ketika ada dua orang melesat ke arahnya dia pun segera melompat mundur ke belakang. Keduanya segera menyerang Mahisa ,di saat Mahisa agak lengah berkonsentrasi dengan dua musuhnya ,seorang kembali muncul dari belakang memukul dengan keras tangan yang memegang pedang halilintar. Seorang pria yang sudah menunggu menyambar pedang halilintar yang jatuh.
Mendengar suara ribut Mayang segera turun dan membantu Mahisa. Pertarungan sengit tak dapat terhindarkan ,Mayang dan Mahisa yang lebih mendominasi ,walaupun musuhnya lebih banyak namun Mayang dan Mahisa kepandaiannya lebih mumpuni.
Ketiga musuhnya mulai terdesak hingga orang yang berhasil mengambil pedang halilintar segera mencabutnya. Namun bukan untung yang ia dapat,ketika pedang itu tercabut dari sarangnya justru pria itu tidak bisa menahan tenaga besar yang keluar dari pedang halilintar hingga membuat kekuatanya justru diserap oleh pedang halilintar . Naas pria itu mencoba melepaskan pedang halilintar namun justru pedang itu tak mau di lepaskan hingga asap hitam menyelimuti pria itu dan kemudian roboh membentur tanah tubuhnya gosong. Ketiga temanya hanya bisa menyaksikan dan tidak berani menolong.
Pedang Halilintar melayang di angkasa dengan sinar kemerah merahan ,Mahisa segera melompat dan menyambarnya. Ia mencoba mengendalikan kekuatan di dalam pedang halilintar dan kemudian mencobanya kepada ketiga musuhnya. Petir menyambar nyambar,suara halilintar menggelegar . Ketiga pria itu mencoba berlari namun dengan cepat kilatan petir menyambar dan ketiganya tewas seketika dengan tubuh kehitam hitaman.
Mahisa tertawa,dia merasa jumawa karena berhasil mendapatkan pedang halilintar.
Di situasi yang sama Mayang juga penasaran dengan pedang naga,ia pun ingin mencoba kekuatanya . Dengan segera ia mencabut pedang naga dan seketika cahaya kuning meluncur dari pedang membubung di angkasa. Sosok naga emas segera muncul.
Mayang berusaha mengendalikan naga emas namun justru naga emas melawan dengan semburan apinya. Mahisa tercengang ketika Mayang tak bisa mengendalikan naga penunggu pedang naga emas. Bahkan kali Mayang berada di tengah kobaran api akibat semburan lidah naga emas.
Sementara Mayang sendiri masih berjibaku dengan pedang yang berada di tanganya ,dia berusaha mengendalikan tenaganya yang di hisap oleh pedang naga emas.
Mahisa menyuruh Mayang melepas pedangnya ,namun justru pedang naga emas semakin terasa erat menempel di tanganya.
Mahisa kini mencoba mengendalikan pedang halilintar melawan naga emas. Kilatan petir menyambar nyambar mengincar tubuh sang naga.
Naga emas memutar mutar tubuhnya dan keluarlah api berwarna keemasan menyebar melumpuhkan kilatan petir yang mencoba menyarang tubuhnya.
Sang Naga yang sedang menghadapi pedang halilintar membuat kekuatan pedangnya sedikit melemah ,Mayang pun sudah bisa melepas pedang naga.
__ADS_1
Tirta dan Nilam pun sampai di tempat itu. Dengan sigap Tirta melayang menyambar pedang naga emas yang terlepas dari genggaman Mayang.
Pedang Naga Sudah berada di tangan majikanya hingga kekuatanya bertambah besar ,semburan api yang keluar dari mulut naga semakin besar dan pedang halilintar seakan tak berdaya. Kilatan Petir yang menyala nyala dengan suara menggelegar ,dalam seketika hilang di gulung oleh besarnya api dari Naga Emas .
Tirta segera memasukan kembali pedang naga emas ke sarangnya dan wujud naga emas yang melayang di angkasa ikut lenyap.
" Menyerahlah kalian berdua,atau aku akan menghabisi kalian. Sudah banyak hal yang kalian perbuat kepadaku,kali ini aku tak akan segan lagi"
Mahisa dan Mayang melihat wajah Tirta yang kali ini nampak begitu bengis,bahkan otot di keningnya begitu jelas kelihatan,tandanya bahwa Tirta tak main main lagi.
Mahisa pun segera melempar pedangnya ke tanah sebagai tanda ia menyerah." Baiklah pendekar kami mengaku kalah,aku tak mau mati konyol. Tapi ada satu permintaanku tuan pendekar ,tolong bantulah kami keluar dari lembah ini. Kami sudah beberapa kali mencoba tapi kami selalu kehabisan tenaga sebelum sampai ke atas puncak Arjuna"
" Jangan ampuni dia Kang,mungkin mereka lagi menyusun rencana buat mengelabui kita lagi?".
Mendengar ucapan pendekar wanita di hadapannya Mayang segera menyambut" Maafkan perlakuan kami nona selama ini,kami di butakan oleh kekuasaan untuk menjadi orang terkuat di Jawadwipa. Tuhan tak berpihak kepada kami. Aku janji setelah keluar dari lembah ini akan bertobat dan menjadi orang yang baik. Aku masih punya anak kecil yang butuh kasih sayang. Mohon ampuni kami Nona?".
Mendengar pengakuan Mayang wajah Nilam menjadi sedih ia pun mengingat masa kecilny a bersama nenek Andung. Dia juga dapat merasakan jikalau seorang anak berpisah dengan orang tuanya.
" Baiklah itu terserah,Kang Tirta mau mengampuni kalian atau tidak"
Mahisa juga sekali lagi minta maaf kepada Tirta.
" Baiklah,tidak ada manusia yang tidak berbuat khilaf,yang penting kalian mau berubah".
Kini mereka pun saling berkenalan satu sama lain dan mulai berpikir bagaimana cara untuk keluar dari lembah Arjuna.
" Hanya ada satu cara untuk keluar dari lembah ini yaitu harus ada salah satu wanita di antara kau Nilam dan Mayang untuk bisa menguasai kitab Elang Sakti tingkat pamungkas. Dimana di situ terdapat mantera berubah wujud menjadi Elang Raksasa. Aku sudah mencoba berkali kali tapi gagal. Karena mantera itu hanya berlaku untuk wanita saja".
Mahisa,Nilam,Mayang menyimak penjelasan Tirta yang begitu detail. Tirta yang sudah percaya kepada Mahisa dan Mayang menyerahkan kitab Elang Sakti untuk di bacanya. Namun Mahisa dan Mayang kaget melihat Kitab Elang Sakti yang hanya berisi lembaran lembaran kosong tak ada isinya.
" Kitab apaan ini Tirta,bahkan tak ada satu tulisan pun yang tertera"
" Ia Tirta mungkin kitab ini palsu,aku juga tak menemukan apapun di dalamnya"
Tirta dan Nilam yang tak percaya segera mengambil dan membukanya.
" Ah ngacau kalian berdua lihatlah begitu jelas keterangan dalam kitab ini" Mendengar perkataan Nilam,Mayang dan Mahisa tak percaya keduanya mendekat dan mengucek bola matanya ,namun untuk kesekian kali mereka tak dapat melihat isi dari kitab Elang Sakti..
" Nampaknya Tuhan telah memilih kalian sebagai penerus Kitab Elang Sakti ,mungkin perempuan yang kau maksud Tirta,adalah Nilam,buktinya ia bisa melihat kandungan dari isi kitab Elang Sakti" Celetuk Mayang.
__ADS_1
Tirta mengamati Nilam seolah tak percaya ,namun ia juga pernah di beritahu oleh Artaloka bahwa Nilam bukan gadis kampung biasa.
Nilam mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ah tak mungkin Kang Tirta,aku hanya gadis kampung biasa"
Tirta berusaha mendesak Nilam dan menunjukan lembaran Kitab Elang Sakti yang berisi mantera agar dapat berubah jadi Elang Raksasa.
" Baiklah aku akan jujur padamu sekarang. Kemarin pas kamu pergi meninggalkanku,secara tak sengaja kitab itu terbuka hingga aku pun membacanya . Sekarang aku akan menunjukan kepada kalian sesuatu!".
Tirta,Mayang dan Mahisa menjadi antusias.
Nilam segera maju ke tempat yang lapang,ia kembali merapal mantera yang membuat ketiga temanya terkejut,bahkan Tirta sampai badanya membentur pohon karena kaget,melihat Nilam tiba tiba menjelma menjadi Elang Raksasa. Mahisa dan Mayang saling pandang sekaligus kegirangan.
Mereka berpelukan tanda bahagia.
" Kanda akhirnya kita bisa kembali".
Mahisa dan Mayang berlutut di bawah ekor elang raksasa.
" Ayo cepat kalian naik ke punggungku"
Mahisa dan Mayang segera melompat ke atas punggung Elang Raksasa,sementara Tirta masih terdiam seakan tak percaya bahwa Nilam dengan mudah dapat menguasai Mantera Elang Raksasa.
" Ayo naiklah Kang,apa kamu masih betah disini!"
"Tirta cepat naiklah" seru Mahisa sambil melambaikan tanganya.
" Oh ia ia,aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi" Tirta segera melompat ke atas punggung Elang,Nilam menyuruh mereka berpegangan pada bulu punggungnya karena akan segera terbang.
Ketiga orang itu awalnya menutup mata karena sedikit takut ketika sayap elang raksasa mulai mengepak. Nilam segera membawa terbang dan akhirnya sampai di pencak Arjuna.
" Buka mata kalian,rupanya pendekar sakti juga masih ada rasa takut,He he"
Tirta ,Mahisa dan Mayang segera membuka matanya. Kegembiraan jelas terlihat di mata mereka setelah berhasil keluar dari lembah Arjuna yang sangat dalam. Nilam pun segera membaca mantera penutup agar dirinya kembali menjadi manusia.
Namun ia belum bisa mengontrol tenaganya hingga ia kembali terhuyung karena kehabisan tenaga.
Bersambung.
__ADS_1