JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Dendam lampir


__ADS_3

Lampir terus saja meneror para penduduk yang berdiam di sekitar padaepokan puncak bukit mulyo.


Ia begitu dendam terhadap Kiai Agung Prawoto yang merupakan keturunan generasi terakhir dari Kiai Prayogo .


Lampir berusaha memasuki padaepokan bukit mulyo namun ia selalu gagal di karenakan ada kekuatan yang melemparnya setiap kali dia akan memasuki gerbang.!


Sudah berbagai cara ia lakukan dengan memperdaya murid padaepokan namun setiap kali ia hendak memasuki gerbang badanya merasa kepanasan.


Kiai Agung Prawoto juga cukup kaget ketika beberapa muridnya menceritakan kejadian yang sama, rata rata mereka bercerita bahwa ada seorang gadis belia yang hendak belajar mengaji di padaepokan Bukit Mulyo,namun ketika ia mulai menginjakan kaki di pintu gerbang ia seakan kepanasan dan berlari ketakutan.


Tentunya Kiai Agung menjadi curiga dan menyuruh para muridnya untuk mencari sosok gadis tersebut.


Lebih lebih akhir akhir ini banyak laporan dari masyarakat,banyak warga yang mati mendadak dengan luka seperti binatang buas di lehernya. Darah mereka seakan habis terhisap.


Atas dasar laporan tersebut Kiai Agung menyuruh para santri membantu para warga meronda di waktu malam.


Purnama telah bersinar para warga di bukit mulyo di bantu para santri membawa obor dan pedang berkeliling kampung.


Tak selang berapa lama terdengar suara jeritan dari salah seorang warga yang anaknya di bawa terbang oleh sesosok nenek tua yang berwajah seram. Kentongan pun di pukul sebagai tanda bahaya.


Para warga yang meronda berlari mengejar sosok nenek tua yang melayang membawa tubuh seorang gadis yang tergolek lemas.


Beberapa santri juga melempar anak panah yang mereka bawa,panah yang sudah di lapisi mantera oleh kiai agung.


Panah tersebut berhasil menancap di punggung lampir hingga membuatnya jatuh tersyungkur.


" Akan ku habisi kalian semua ,he he he he! teriak lampir yang langsung menggunakan tongkatnya hingga tanah meledak dan mengenai para penduduk. Para santri segera membentuk formasi mereka mengepung lampir sambil melepaskan panah..


""Wush, wush wushh""


Anak panah meluncur namun dengan mudah lampir mengembalikan dengan menggunakan tongkatnya,bahkan beberpa panah berbalik dan justru mengenai tubuh penduduk.


Lampir terus membombardir para santri dan warga dengan kekuatan tenaga dalamnya.


" Dor dor dor"


Mayat mayat bergelimpangan dan tubuhnya menghitam.


Tiba tiba.


" Hentikan Lampir, akulah orang yang kau cari!"


Kiai Prawoto berdiri di depan lampir dengan membawa sebuah tombak di tanganya.

__ADS_1


" He he he he, rupanya kamu keturunan Prayogo, kali ini akan ku tuntaskan dendam kesumatku,he he he he!"


Lampir mengarahkan tongkatnya, tanah di hadapan Kiai Agung meledak, untunglah beliau segera melompat tinggi ke udara.


Tangan Kiai Agung menggenggam tumbak dengan erat dan mulai menyerang lampir.


Ledakan demi ledakan terdengar memekik telinga, membuat para warga yang terlelap kaget dan bangun serta berlari menuju suara ledakan.


Para santri dan warga menjauhi pertarungan karena akan sangat berbahaya.


Beberapa warga juga terlihat menggotong warga yang tewas terkena serangan Lampir.


Kiai Agung segera melesat menjauhi pemukiman, lampir pun tak membiarkan Kiai Agung Pergi.


"Mau lari kemana cucu Prayogo"


Kiai Agung: " aku tidak akan melarikan diri dan hanya menjauhi pemukiman biar tidak ada korban lagi!"


" He he h he, bagus,kali ini akan ku tuntaskan dendamku"


Lampir terus saja mengarahkan tongkat saktinya yang terus menyemburkan api yang menyala nyala.


Kiai Agung sengaja terbang meliuk liuk untuk menghindari serangan Lampir.


Kini keduanya telah berada di puncak bukit mulyo.


Kedua kekuatan yang keluar dari senjata keduanya bertemu di tengah dan kembali menimbulkan ledakan keras.


Bahkan binatang malam dan burung burung yang berada di hutan ketakutan dan memilih pergi.


Sementara itu Jaka dan Dewi sudah mulai memasuki kawasan Bukit Mulyo.


Jaka mulai dapat merasakan kedua gelombang kekuatan besar yang sedang adu kekuatan.


" Dinda aku merasa ada dua kekuatan besar yang sedang bertarung. Maukah dinda menuju puncak mulyo?"


Elang raksasa mengeluarkan suara tanda setuju dan langsung meluncur ke puncak bukit.


Pertarungan masih berlangsung, keduanya masih berimbang.


Lampir yang merupakan ratu kegelapan tiba tiba saja menghentakan kakinya ke tanah dan membuat para siluman yang menghuni bukit keluar untuk membantunya.


Kiai Agung mulai ngos ngosan menghadapi gempuran dari puluhan siluman yang datang membantu Lampir.

__ADS_1


Sementara Lampir terus saja mengamati dan akan menyerang di saat Kiai Agung lengah.


Setelah meliahat ada celah Lampir meluncur dan berhasil mendaratkan tongkatnya di dada Kiai Agung hingga membuat sang Kiai terpental jauh.


Melihat tubuh Kiai Agung terpental Lampir kembali melesat dan menghujani tubuh Kiai Agung dengan pukulan beruntun.


Darah hitam kental keluar dari mulut sang Kiai.


Kiai Agung terus saja memegangi dadanya.


" He he he he,kali ini akan menjadi akhir hidupmu Agung!"


" Tidak Lampir hidup dan matiku hanya milik Allah!" teriak Kiai Agung.


"He he he he, ayo mintalah pertolongan kepada tuhanmu!"


Lampir kembali bersiap membaca mantera dan melempar tongkatnya ke arah Kiai Agung.


Sementara Kiai Agung yang lukanya cukup parah mencoba menggunakan sisa tenaga dalamnya sambil memasrahkan diri kepada Allah, ia sudah ikhlas jikalau saat ini merupakan akhir dari hidupnya.


Tongkat Lampir semakin dekat dengan tubuh Kiai Agung, dan hanya hitungan menit tongkat itu akan meleburkan tubuh Kiai Agung.


Kiai Agung mulai merasakan kekuatan maha dasyat yang berasal dari tongkat Lampir. Badanya mulai terasa berat.


" Dor dor dor"


Ledakan besar kembali terjadi api menyala nyala membakar pohon yang terkena tongkat lampir.


Lampir terbelalak melihat Kiai Agung tiba tiba lenyap, dan justru sayup sayup terlihat seorang pemuda yang keluar dari kobaran api.


Ia naampak begitu kaget melihat sosok pemuda yang tak lain adalah Jaka kelana yang pernah beberapa kali berhadapan denganya.


"Kau , kau, sial kenapa kamu tiba tiba muncul bedebah!" teriak Lampir.


" He ketahuilah nenek peot, keriput, Kiai Agung adalah guruku. Jadi tak akan ku biarkan dirimu melukainya. Akan ku pastikan pula bahwa malam ini adalah akhir dari hidupmu!"


" He he he he, jangan sombong kau Jaka, he he he he dasar Jaka gemblung!""


Lampir justru mengolok olok Jaka.


Sementara itu Dewi terlihat sibuk mengobati gurunya Kiai Agung.


Setelah memastikan darah yang keluar dari mulut gurunya berwarna merah segar, Dewi lantas menyuruh Kiai Agung meminum air keabadian yang di bawanya dengan menggunakan guci yang terselip di pinggangnya.

__ADS_1


Kini air keabadian mulai bereaksi, Kiai Agung pun mulai merasakan dadanya kembali longgar.


Beluau pun segera bersila untuk mengatur hawa murni untuk menyetabilkan aliran darahnya dan juga mengembalikan tenaga dalamnya.


__ADS_2