
Raja Darma Wisnu beserta bala tentaranya sudah berhasil menguasai hampir separuh dari kerajaan di pulau Jawa.
Pasukan yang di pimpin Dewi Kalinggi sudah semakin dekat dengan wilayah Karang Cendana.
Hampir semua penduduk juga sudah pergi menyelamatkan diri,mereka pergi ke dalam hutan dan ke bukit bukit yang letaknya sangat jauh dari wilayah kerajaan.
Pasukan Kalinggi di perjalanan juga tak henti hentinya membuat ulah,mereka pun membantai beberapa orang yang masih mereka jumpai,rumah rumah penduduk yang di tinggal penghuninya mereka bakar.
Api berkobar di mana mana dan menyisakan puing puing yang berserakan.
Abu dari sisa pembakaran tertiup angin dan membuat jarak padang terhalangi.
Raja Jaya Wijaya menyuruh para senopati untuk bersiap di posnya bersiap menyambut pasukan musuh yang mulai terdengar langkah derap kuda yang semakin mendekat .
Dewi Kalinggi sesekali melepaskan tenaga dalamnya mengenai pepohonan hingga membuatnya tumbang.
Raja Jaya Wijaya segera memerintahkan pasukan bergerak mengepung ,musuh.
Puluhan ribu orang melepaskan anak panahnya dan berhasil menumbangkan prajurit musuh.
Melihat anak buahnya berjatuhan di tanah Dewi Kalinggi terlihat marah ia pun segera terbang di atas puluhan ribu panah yang berterbangan .
Dengan menggunakan separuh kekuatanya ia pun menghujani pasukan panah Prajurit Karang Cendana dengan pukulan tenaga dalamnya.
Ratusan orang meregang nyawa terkena pukulan tenaga dalam yang besar,tanah meledak dan berlubang akibat pukulan Dewi Kalinggi.
__ADS_1
Sementara Resi Somala bersama Patih Rangga Abang segera terbang di atas medan tempur dan menyerang Dewi Kalinggi yang terus berusaha melumpuhkan pasukan pemanah.
Rupanya gerakan keduanya di lihat oleh Arya Wisapati dan Kumambang yang langsung menghadang keduanya.
Sementara itu Raja Jaya Wijaya bersama Dewi Ambarwati Juga terbang mendekat untuk menghentikan serangan Kalinggi.
Raja Jaya Wijaya dan Istrinya kompak menggunakan Ajian Pukulan Matahari dan langsung berusaha memukul tubuh Kalinggi.
Dewi Kalinggi yang asyik menghujani pasukan pemanah tidak memperhatikan kedatangan Raja Jaya Wijaya dan Amabarwati hingga pukulan yang di lepaskan langsung mengenai tubuh Kalinggi.
Dewi Kalinggi terpental dadanya seketika merasakan panas yang luar biasa.
Sementara itu kedua pasukan masih terlibat pertempuran sengit,namun karena jumlah pasukan yang tidak seimbang membuat pasukan Karang Cendana beserta sekutu mampu memberikan perlawanan dan hampir memenangkan peperangan.
Sementara itu Raja Darma Wisnu beserta bala tentaranya terbang menggunakan gumpalan awan ,dari ketinggian mereka melepaskan panah api yang di taruh bubuk mesiu .Ribuan panah meluncur dan terjadi ledakan di mana mana,dalam hitungan menit ribuan orang meregang nyawa terkena ledakan dari panah panah yang di lepaskan pasukan Atas Awan.
Raja Jaya Wijaya yang mendengar ucapan Darma Wisnu dengan lantang berteriak agar para prajurit tetap bertempur sampe titik darah penghabisan.
Tentu saja seruan Raja Jaya Wijaya menambah mental prajuritnya semakin kuat,mereka terlihat semakin bersemangat dan terus mengayunkan senjatanya untuk membuat musuh tak berdaya.
Raja Darma Wisnu mulai kesal ia kemudian mengangkat kedua tanganya ke atas ,pohon pohon tercabut beserta akarnya dengan sekali gerakan pohon pohon besar berterbangan dan menimpa para prajurit Karang Cendana.
Dewi Kalinggi tertawa melihat mental pasukan Karang Cendana mulai goyah.
Mayat mayat pun bergelimpangan tertimpa pohon besar ,sementara ribuan anak panah terus melesat dari atas awan dan membuat prajurit Karang Cendana kocar kacir.
__ADS_1
Di saat Raja Jaya Wijaya sedang kalut melihat pasukanya mulai kewalahan Dewi Kalinggi dengan liciknya melepaskan pukulan tenaga dalamnya dan tepat mendarat di dada Raja Jaya Wijaya.
Tubuh sang raja terpental dan menimpa beberapa prajurit yang sedang bertarung .
Dewi Ambarwati terkejut dan langsung mengejar tubuh sang raja.
Raja Jaya Wijaya merasakan dadanya sakit yang luar biasa bahkan darah berwarna hitam kental terlihat keluar dari mulutnya.
Dewi Ambarwati terlihat begitu cemas,namun sang Raja Jaya Wijaya menyuruhnya agar tidak memperdulikanya dan menyuruhya kembali ke pertarungan melawan Dewi Kalinggi.
Malam mulai menggelayut pertempuran masih terus berlangsung,kali ini pasukan Karang Cendana mulai sedikit kewalahan,karena hampir sepertiga dari jumlah pasukanya telah tewas.
Dewi Ambarwati segera membawa Raja Jaya Wijaya sedikit menjauh dari arena pertempuran,ia pun segera melesat kembali ke dalam pertempuran.
Dewi Kalinggi masih terus tertawa melihat pasukan Karang Cendana menjadi bulan bulanan anak panah yang di lepaskan dari pasukan Atas Awan.
Dewi Ambarwati melesat sambil membaca mantera ,ia menggunakan ajian halimun hingga tubuhnya pun lenyap dari pandangan mata.
Dewi Kalinggi yang sedang tertawa lepas terkejut ,ia merasa tiba tiba dadanya seperti ada yang memukul dengan keras dan membuatnya mundur beberapa jengkal.
"Sialan,ajian halimun",pikir Dewi Kalinggi.
Dewi Kalinggi yang merasa jengkel segera menggunakan ajian penyerap jiwa,ia pun mengarahkan ajian itu kepada para prajurit yang berada di dekatnya ,asap hitam tebal keluar dan langsung menyedot beberapa orang prajurit lalu menghilang.
Awan hitam semakin lama semakin membesar akibat kekuatan ajian penyerap jiwa yang berhasil menelan banyak korban.
__ADS_1
Sementara itu Dewi Ambarwati juga merasakan tubuhnya tiba tiba terasa berat ,awan hitampun semakin mendekat dan hampir saja menutup seluruh tubuhnya ,namun sesosok bayangan hitam tiba tiba munjul dan menariknya terbang menjauh.