
Setelah Mata Satu berhasil mendarat mendekati kedua gurunya, ia merasakan bahwa keduanya energinya semakin besar.
Rupanya Mata Satu mengajak gurunya untuk menggabungkan kekuatan jurus api inti matahari yang memiliki panas hampir setara dengan panas kawah gunung berapi.
Jaka dan Dewi nampak mulai cemas ketika mulai merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Mata Satu dan kedua gurunya.
Jaka segera berseru kepada Gajah Laya agar pasukanya mundur dan lari sejauh mungkin, karena mereka tidak akan tahan dengan hawa panas yang semakin terasa menyengat di kulit.
Para pasukan yang dinpimpin senopati kerajaan semingkir juga menarik semua pasukan untuk menjauhi area pertarungan.
Jaka Kelana dan Dewi juga mulai merasakan hawa panas mulai terasa menyengat kulitnya.
Jaka segera kembali menggunakan pedang suci dan mengerahkan semua tenaga dalamnya, untuk melindungi tubuhnya dari suhu panas yang mulai menyebar ke segala arah.
Di saat bersamaan Dewi mencoba menggunakan tehnik mengubah suhu hingga kembali mengeluarkan butiran kristal salju, tetapi karena tidak maksimal menyerap energi tumbuhan yang kering hingga kekuatanya tak mampu untuk mendinginkan suhu.
Jaka Kelana juga mulai panik ketika suhu semakin bertambah panas, saat kondisi fisiknya mulai terasa lemas, ia teringat saat pertemuanya dengan raden kian santang, saat itu raden Kian Santang pernah mengajarkan ajian banyu maruta yang dapat menurunkan hujan yang sangat deras.
Jaka mencoba kembali mengingat gerakan gerakan yang di ajarkan raden Kian Santang padanya, namun ia merasa tenaga dalamnya sudah banyak terkuras.
" Dinda mendekatlah padaku dan segera hentikan jurus mengubah suhu, karena tidak akan mampu untuk mendinginkan suhu!? Teriak Jaka.
__ADS_1
Dewi pun segera menutup jurus mengubah suhu dan melompat di belakang Jaka Kelana.
" Lalu apa yang harus aku lakukan Kanda? Tanya Dewi.
Jaka menyuruh Dewi untuk menyalurkan tenaga dalamnya agar Jaka mampu menggunakan ajian banyu maruta dengan sempurna.
Sementara Mata satu dan kedua gurunya tertawa melihat kedua musuhnya mulai kewalahan karena tak tahan dengan hawa panas dari ajian api inti matahari yang mereka gunakan.
Ha ha ha ha ha ha, sekarang mampuslah kalian berdua, kalian akan mati terpanggang oleh panas ajian api inti matahari, ha ha ha ha!!" Ucap Mata Satu sambil terus meningkatkan energi panas dari ajian inti matahari.
Sementara itu Gajah Laya dan Matoa serta para penduduk terus berusaha untuk berlari dengan kencang, terlihat di antara mereka mulai kehabisan tenaga dan akhirnya jatuh terkulai di tanah dan tak sadarkan diri.
Hal yang sama juga terjadi kepada para prajurit Hulu Semingkir, mereka sungguh tak menduga bahwa Raja Mata Satu juga berniat menghabisi para prajuritnya sendiri...
Sementara pelan pelan Jaka mulai merasa aliran tenaga yang di alirkan Dewi mulai memasuki urat nadinya dan menjalar ke semua sendi tubuhnya.
Jaka mulai mengingat gerakan yang di ajarkan Raden Kian Santang.
Langit yang terang benderang tiba tiba berubah menjadi gelap, agin berhembus kencang, dalam sekejap muncul kembali kilatan petir yang menyambar nyambar dengan hembusan angin yang bertambah kencang.
Semakin lama awan hitam semakin pekat memebuhi langit hingga mulai lah terlihat awan tersebut mengeluarkan tetesan air yang mula mula hanya rintik rintik dan berubah menjadi hujan yang sangat besar.
__ADS_1
Raja Api dan Raja Matahari terkejut bukan kepalang karena tiba tiba hujan turun dengan sangat deras, Mata Satu juga masih tak percaya bahwa pemuda yang ia hadapi mempunyai ajian banyu maruta yang dapat mendatangkan hujan yang sangat lebat.
Suhu panas berangsur angsur mulai dingin.
Tiba tiba Raja Api dan Matahari merasa kesakitan saat hawa panas mulai hilang dan tubuh mereka terkena air hujan.
Hingga tubuh keduanya nampak berasap, semakin lama asap semakin besar keluar dari tubuh mereka, kemudian tersengar suara teriakan yang sangat memekikan telinga sebelum kedua tubuh tersebut akhirnya meledak.
Mata Satu tak menyangka kedua guru yang sangat di agungkanya kalah oleh ajian banyu maruta, kini nyalinya mulai ciut dan tak lagi jumawa.
" Kurang ajar kedua guruku telah tewas, kini walaupun aku memiliki ajian pancasona tetap saja aku tak akan mampu melawan sepasang pendekar yang menjadi musuhku, lebih baik aku pergi, selagi masih ada kesempatan."
"Baiklah kali ini aku mengaku kalah,tapi aku akan kembali membalas kekalahanku kepada kalian" Ucap Mata Satu sambil melompat terbang meninggalkan pertarungan.
Sementara itu para penduduk menyambut gembira ketika hujan turun dengan sangat lebat, suhu yang panas mulai terasa dingin.
Sementara orang orang yang pingsan karena kehabisan tenaga terbangun, ketika tetesan air hujan mengguyur di tubuh mereka.
Jaka sungguh tak menyangka ia berhasil mendatangkan hujan lebat dengan ajian banyu maruta yang di ajarkan Raden Kian Santang.
Dewi pun sangat kagum dengan kemampuan yang di miliki suaminya.
__ADS_1
Ia bahkan langsung memeluk tubuh Jaka dengan erat, air hujan mereka biarkan terus mengguyur tubuh. Keduanya pun nampak larut dalam kebahagiaan karena telah mengalahkan Mata Satu dan kedua gurunya.
Namun masih ada satu misi lagi yaitu Jaka harus mampu mengembalikan tanah yang tandus menjadi subur hingga pepohonan kembali hijau, dan mengembalikan wujud normal pada semua penduduk yang menjadi kerdil dengan menggunakan Batu Kalimaya.