
Tak selang berapa lama setelah kedatangan Mahisa, Janjang dan Ujang juga telah kembali dengan membawa Tumbak Kayangan. Ki Cadas Putih juga keluar dari ruanganya setelah mengetahui kepulangan Mahisa. Dia tak sabar untuk melihat pedang Naga dan juga Kitab Elang Sakti.
Rupanya di pelataran sendiri Jajang dan Ujang sengaja memamerkan Tumbak Kayangan di hadapan Mahisa .
" Dimana
pedang Naga Emas Mahisa kenapa kau tak membawanya. Apa di bawa Mayang?"Jajang berkata sambil menenenteng Tumbak Kayangan.
Mahisa terdiam sejenak mengatur nafas" Maaf kang misiku gagal,aku tak berhasil mendapatkanya"
" Ha ha ha,itu berarti kamu harus bersiap untuk menjadi pelayanku kalau aku sudah menjadi ketua perguruan " Ujang ikut meledek Mahisa.
" Ia aku sudah tak berambisi menjadi ketua lagi,aku rela jika jabatan ketua menjadi milik kalian berdua".
" Mahisa mana Pedang Sakti dan Kitab Elang Sakti,aku sudah tak sabar ingin melihatnya?
Ki Cadas Putih berjalan mendekati Mahisa. Mahisa seketika membungkuk memberi hormat" Maaf guru saya dan Mayang belum berhasil,mendapatkan Pedang Naga dan Kitab Elang Sakti. Mohon ampuni kami Guru?"
" Apa ilmu Kawah Murka ada yang mampu mengalahkannya ?"
" Ternyata benar omonganmu guru bahwa pedang naga dan Kitab Elang Sakti memang sudah memilih jodohnya,yang pastinya bukan diriku dan Mayang ?"
" Tapi aku juga tak percaya Mahisa,itu cuma saya anggap sebagai dongeng belaka. Kamu telah membikin malu nama perguruan ,aku akan menghukum dirimu dan juga Mayang. Dimana Mayang ?"Ki Cadas Putih membentak Mahisa.
Mahisa hanya tertunduk di marahi gurunya. Sementara Mayang juga sudah sampai di tempat gurunya ia langsung berlari dan berlutut di hadapan Ki Cadas Putih.
" Maafkan Kami Guru yang telah gagal dalam mengemban tugas,aku siap menerima hukuman apapun dari Guru!".
Ki Cadas Putih seperti mengacuhkan sikap Mayang,ia malah berjalan mendekati Jajang dan Ujang yang sengaja mempertontonkan Tumbak Kayangan.
" Bagus,bagus kalian berdua memang layak untuk memimpin Perguruan Kelabang Hitam. Sekarang ayo serahkan Tumbak Kayangan itu kepadaku!"
Jajang segera memberikan Tumbak Kayangan kepada Ki Cadas Putih. Ki Cadas Putih memperhatikan pusaka itu dengan seksama ,dia juga menyuruh semua orang yang berada di tempat itu menjauh,karena akan mencoba kekuatan Tumbak Kayangan yang katanya bisa untuk membelah gunung.
__ADS_1
Ki Cadas Putih segera mengalirkan tenaga dalamnya mengangkat Tumbak Kayangan. Semua orang nampak tercengang tiba tiba dari ujung mata Tumbak keluar cahaya kebiru biruan yang menyembur ke langit,tanah di sekitar juga ikut berguncang.
Ki Cadas Putih segera menarik tenaga dalamnya dan kembali menurunkan Tumbak Kayangan dan membutelnya dengan Kain Hitam." Ha ha ha ,perguruan Kelabang Hitam akan menjadi yang terkuat di mukabumi,bahkan Jaka Kelana dan juga permaisurinya belum tentu bisa menandingi perguruan Kita, ha ha ha "
Ki Cadas Putih semakin besar kepala." Janjang,Ujang kalian beristirahatlah. Kamu Mayang dan Mahisa sebagai hukuman kalian berdua harus mengurus kuda dan ternak bersama pegawai yang lain di belakang . Aku juga sudah mengeluarkan kalian berdua dari daftar calon ketua perguruan "
" Baiklah guru kami siap mendapatkan hukuman apapun"
Mahisa dan Mayang yang semula di segani oleh para murid yang lain kini justru jadi bahan tertawaan ,setelah di suruh sebagai pelayan untuk mengurus ternak. Mahisa memegang tangan Mayang yang tertunduk malu keduanya berjalan menuju belakang ke kandang kuda dan ternak.
" Loh kenapa kalian kesini?""
" Aku di suruh guru untuk membantumu Sarto?"
" Walah walah,ngga nggga,aku tak mau aku juga masih sanggup mengurusi mereka semua. Kalian mendapat hukuman . Guru Memang sewenang wenang. Kalian istirahat saja biar aku yang mengurus kuda kuda ini"!
" Tidak To,aku seorang ksatria. Pantang bagiku untuk tidak melakukan perintah guruku ini adalah pengabdian "
Sarto yang sangat paham segera meyuruh keduanya untuk beristirahat. Di saat yang bersamaan Jajang dan Ujang datang dan mendekati Mayang.
Rupanya Jajang dari dulu sangat menyukainya,namun Mayang lebih memilih Mahisa yang tipenya lebih setia. Sebab Jajang sendiri sering menghabiskan waktunya di kedai bersama para wanita penghibur.
" Mayang bagaimana kabarmu. Lebih baik kau tinggalkan saja Mahisa dan menikahlah denganku. Karena sebentar lagi Guru akan mengangkatku menjadi ketua. Apa yang bisa kau harapkan kepada si pekatik pengurus kuda"
Mendengar hinaan terhadap dirinya Mahisa naik pitam dan segera menendang Jajang.
Jajang terjatuh dan kepalanya membentur kotoran Kuda. Sarto spontan tertawa terbahak bahak melihat Jajang bangun dengan muka. penuh kotoran.
" Ujang kamu urus Mahisa biar aku urus mukaku dulu!" Jajang berlari ke sumur untuk mencuci mukanya. Mayang juga tertawa melihat tingkah Jajang. Ujang dengan nada menantang mendatangi Mahisa. Mereka segera adu kekuatan .
Keributanpun tak dapat terelakan lagi hingga terdengar sampai ke kediaman Ki Cadas Putih.
Mahisa dan Ujang bahkan menjadi tontonan di saksikan oleh koleganya sesama murid Kelabang Hitam.
__ADS_1
Jajang setelah berhasil membersikan mukanya juga sudah tak bisa membendung amarahnya ia segera melompat melepaskan tinjunya ke arah Mahisa. Mayang yang sudah siaga menghadang laju Jajang dan menangkis seranganya.
" Mayang aku tak mau bertarung denganmu"
" Tidak Kang Jajang,Mahisa adalah suamiku dan aku wajib membelanya"
Keduanya saling mengeluarkan jurus masing masing hingga terjadi perkelahian sengit.
Ki Cadas Putih merasa geram melihat kelakuan muridnya yang akan saling bunuh. Dia mencoba iseng dengan Tumbak Kayangan dan mengarahkan mata tumbaknya ke arah pertarungan . Energi Tumbak Kayangan meluncur dan berhasil membuat muridnya yang sedang bertarung terpental.
" Berhenti kataku,aku tak ingin kalian saling bunuh"
Mahisa serta Ujang segera bangkit dan berlutut memohon ampun kepada Gurunya. Mayang dan Jajang yang terlempar juga segera mendarat dengan menghentakan kakinya ke dahan pohon . Mereka segera melompat ke depan Ki Cadas Putih dan berlutut.
Semua mata terdiam,melihat mata Ki Cadas Putih melotot menahan amarahnya..
Jajang segera bangun dan berbisik kepada gurunya. Ki Cadas Putih mengangguk dan menepuk pundak Jajang.
" Mahisa ,aku akan mencabut hukumanmu. Asal kau mau menuruti keinginanku?"
" Maaf guru,aku sudah tak berambisi jadi ketua perguruan,jadi jadi pekatik pun aku rela"
Tentunya Ki Cadas Putih terkejut,karena dia sangat tahu akan sifat Mahisa yang sangat berambisi untuk menjadi ketua. Bahkan perangainya jauh berubah setelah pengembaraannya ke Gunung Arjuna.
" Apa yang terjadi dengan dirimu Mahisa"
"Maafkan aku guru,aku sudah tak seperti dulu,bahkan aku ingin mengajak anak dan istriku pergi keluar dari perguruan. Aku ingin hidup menjadi orang biasa ,hidup damai bersama keluargaku"!.
" Dasar murid kurang ajar. Kamu mau menggurui gurumu. Terima ini." Ki Cadas Putih yang sudah emosi tak kuat mengontrol kekuatanya hingga terbuka level tenaga dalamnya yang bisa mengeluarkan jurus tertinggi ilmu Banyu Ireng..
Tubuh Mahisa segera terbujur Kaku dan mengeras layaknya batu.
Bersambung
__ADS_1