JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Menjadi Orang Baik


__ADS_3

Ki Cadas Putih sudah tak kuasa menahan rasa sakit di tubuhnya hingga akhirnya pingsan. Tirta segera membawa Ki Cadas Putih menuju bukit di mana Sarto dan juga Nyi Rus di tinggal.


Dalam tiga kali lompatan Tirta sudah sampai di atas bukit. Sementara Nilam berusaha mencari Mayang dan mengajaknya berkumpul di atas bukit.


Sarto nampak sedih melihat kondisi gurunya yang terkulai. Dia pun buru buru menyiapkan tempat untuk meletakan tubuh Ki Cadas Putih.


Sementara itu Nilam masih mencari keberadaan Mayang yang membawa Mahisa. Setelah mencari cukup lama,akhirnya dia menemukan Mayang bersama Mahisa ..Mayang sedang mencoba menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengobati Mahisa yang belum juga sadar.


Nilam segera membantu menyalurkan hawa murninya supaya Mahisa bisa di sembuhkan. Namun setelah cukup lama belum ada tanda tanda bahwa Mahisa akan segera tersadar..


Nilam pun mengajak Mayang membawa Mahisa ke pondok di atas bukit untuk beristirahat sekaligus memulihkan tenaga dan bertemu dengan ibu dan juga anaknya.


Lilis menangis ketika Mayang datang membopong ayahnya ,Sarto segera membopong tubuh Mahisa dan ia letakan berjejer dengan Guru Ki Cadas Putih.


" Apa yang terjadi dengan Ayah ,Bu?"


" Ayahmu terluka,nak. Tapi ngga usah kawatir nanti juga pasti akan sembuh"


Lilis segera menghampiri ayahnya yang masih pingsan dan memeluknya.


Sementara itu Nilam dan Tirta masuk kembali ke dalam hutan untuk mencari daun daunan obat..


Sarto dan Mayang ikut membantu membuat ramuan obat dengan cara menumbuk,Nyi Rus juga menyiapkan kuali untuk merebus air dan kemudian memasukan dedaunan yang sudah di tumbuk.


Nilam juga mengambil ramuan obat dari balik bajunya yang selalu ia bawa,dan mencampurnya dengan memasukan ke dalam kuali.. Rupanya Ki Cadas Putih mengalami luka yang sangat parah urat uratnya banyak yang putus bahkan kemungkinan ia akan pulih dalam jangka waktu yang cukup lama.


Sementara itu setelah meminum obat dan di bantu Tirta mengalirkan murni Mahisa mulai bisa membuka matanya. Ia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya.


Mukanya seketika terkejut ketika melihat Ki Cadas Putih terbaring di sebelahnya dengan luka di sekujur tubuhnya. Mahisa mencoba bangkit untuk mengambil pedang dan kemarahanya segera memuncak mengingat kejadian saat Ki Cadas Putih melayangkan pukulan Kawah Murka kepadanya .


Namun Tirta segera mencegahnya.


" Jangan Mahisa itu bukan tindakan seorang ksatria!"


Mayang yang sedang bercengkrama dengan Lilis segera masuk saat suasana di dalam kamar terdengar gaduh.


Ia melihat Mahisa tengah di jegal Tirta tanganya gemetaran sambil memegang pedang.


Rupanya efek obat yang di minum Ki Cadas Putih bereaksi hingga ia tersadar dari pingsanya . Matanya mulai terbuka dan menyaksikan Mahisa yang sedang mengangkat pedang tepat di atas kepalanya .

__ADS_1


" Silahkan kalau kamu ingin membunuhku Mahisa,aku memang bukan guru yang baik. Perilakuku juga tak patut untuk di maafkan. Ayu hujamkan pedang itu di dadaku".


Mendengar ucapan Ki Cadas Putih Tirta lantas melepaskan tanganya dan membiarkan Mahisa. Dia yakin Mahisa hanya terbawa emosi sesaat.


Semua orang terdiam melihat Mahisa mengayunkan pedangnya ke tubuh Ki Cadas Putih. Bahkan Ki Cadas Putih sudah memejamkan mata. Ia sudah pasrah jika harus mati oleh murid kesayanganya.


Begitu pedang hampir menyentuh tubuh Ki Cadas tangan Mahisa gemetaran hingga pedang di tanganya lepas. Dia segera berlutut dan memeluk gurunya yang masih terbaring.


" Maafkan kesalahanku juga guru. Tak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Aku sudah memaafkanmu"


Mayang juga segera menghampiri gurunya yang memanggilnya untuk meminta maaf.


Nilam dan Tirta segera keluar karena tak kuasa menahan haru. Sarto matanya juga berkaca kaca begitu pula dengan Nyi Rus.


Hampir sepekan telah berlalu Mahisa sudah mulai berlatih Kanuragan ,sementara Ki Cadas Putih sudah mulai bisa berjalan walaupun masih menggunakan tongkat. Bahkan dia sedang asyik bermain dengan Lilis. Nampak jelas raut muka bahagia terpancar dari muka Ki Cadas Putih,dia belum pernah merasakan hal itu sebelumnya karena dulu yang ada di pikiranya hanya ingin memenuhi ambisi pribadinya.


Dulu jangankan untuk bermain dengan anak anak,tak ada satu muridpun yang berani menatap matanya. Semua orang takut dengan kekejamannya..


Mayang juga nampak bahagia melihat Ki Cadas Putih akrab dengan Lilis,ia bahkan tak pernah membayangkan seorang pendekar Cadas Putih yang sangat di segani bermain dengan anak anak. Mayang tersenyum melihat Ki Cadas Putih berlari mengejar Lilis dengan kaki yang pincang.


" Kenapa kamu Mayang,kau meledek guru,karena bermain dengan anak kecil"


Mayang pun kaget atas perkataan gurunya yang mengetahui isi hatinya.


" Maaf guru habisnya seumur umur,baru kali ini aku melihat guru bermain dengan anak anak layaknya kakek bermain sama cucunya ?"


" Memang tak boleh aku dekat dengan anakmu?"


";Bukan begitu guru,aku justru senang guru sudah jauh berubah"


" Ia memang akan ada hikmah di sebuah kejadian. Aku berterimakasih kepada Sang Pencipta ,Dia masih memberiku kesempatan untuk hidup. Aku tak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Aku akan berubah menjadi orang yang baik"


Mayang tak kuasa mendengar perkataan gurunya ia lantas berlari dan memeluk gurunya,Mayang sudah menganggap Ki Cadas Putih seperti ayah kandungnya sendiri,karena sejak kecil ia sudah dalam bimbingan dan kasih sayang sang guru.


Tak terasa sudah satu purnama Tirta dan Nilam berada di wilayah Kalajengking Hitam.


Ki Cadas Putih juga sudah mulai pulih . Dia pun menyuruh Mahisa untuk mengumpulkan murid murid perguruan yang masih hidup dan membangun kembali padaepokan yang telah hancur . Setelah sekian lama akhirnya satu persatu rumah mulai berdiri dan perguruan Kalajengking Hitam kembali ramai.


Ki Cadas Putih mengangkat Mahisa menjadi ketua sedangkan dirinya memutuskan untuk menepi ,bertapa untuk menenangkan diri sekaligus untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta .

__ADS_1


Setelah semua kembali baik seperti semula,kini saatnya Tirta dan Nilam untuk pergi, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Hutan Kayu untuk mencari jati diri Nilam yang sebenarnya. Ki Cadas Putih nampak berat melepas kepergian Tirta, bagaimana pun dia sangat berjasa atas semua yang kini terjadi .


Bahkan ia berlutut dan memberi hormat kepada Jaka Satria. Namun Jaka segera menariknya untuk bangkit .


" Ki apa yang kamu lakukan,bangunlah Ki. Aku tak mau di anggap lancang,lihat semua muridmu. Pandanganya jadi tertuju padaku"?


" Tidak Jaka,aku sangat menaruh hormat kepadamu. Ketahuilah aku juga dulu pernah di kalahkan oleh ayahmu dia juga menyuruhku untuk bertobat . Namun aku masih di kuasai oleh gemerlap dunia. Dan sekarang aku kembali di kalahkan oleh anaknya yaitu kamu"


"Ah sudah Ki.Ayo bangun. Jangan terlalu mengagungkan diriku,bisa bisa aku nanti jadi besar kepala"


Ki Cadas pun bangun dan memeluk Tirta dengan erat.


" Nanti aku akan menatangmu beradu tanding lagi Jaka"


" Ia siap Ki,tapi pulihkan dulu kekuatanmu,dan engkau harus menciptakan jurus baru agar bisa mengalahkan Ki,ha ha ha ".


Mayang dan Mahisa serta Nilam jadi tertawa melihat Ki Cadas dan Jaka saling ledek seperti anak kecil.


Namun suasana ceria kembali jadi Melo saat Nilam dan Jaka bersiap meninggalkan padaepokan. Lilis juga berlari dan minta di gendong sama Nilam. Dia juga ada satu permintaan sebelum pergi ia harus berubah dulu menjadi Elang Raksasa.


Rupanya Mayang pernah bercerita bahwa Nilam bisa merubah wujud menjadi Elang .


Mahisa dan Mayang juga berteriak supaya Nilam mengabulkan permintaan Lilis.


Sarto beserta teman temanya juga meneriaki Nilam agar segera mengabulkan permohonan Lilis.


Ki Cadas Putih juga meminta Jaka agar menyuruh Nilam segera berubah wujud. Ia juga terdiam dan pikiranya menerawang ke masa lalu saat dimana ia bertarung dengan Jaka Kelana yang saat itu naik Elang Raksasa .


" Ayo Tirta,suruh Nilam berubah,aku juga ingin nostalgia melihat Kamu Naik Elang Raksasa "


Nilam tak dapat lagi mengelak,ia segera menurunkan Lilis dari dekapanya. Gadis itu berlari ke arah Mahisa dan Mayang.


Nilam segera membaca mantera dalam seketika nampaklah Elang Raksasa muncul di tengah tengah kerumunan. Semua orang berdejak kagum mereka tak membayangkan sebelumnya akan melihat Elang Raksasa yang di anggap hanya dongeng belaka.


Tirta segera naik ke punggungnya.


Nilam mulai mengenakan sayapnya.


Lilis melambaikan tanganya dan di balas oleh Nilam dengan suara pekikan khas dari elang Raksasa.

__ADS_1


Elang Raksasa mulai terbang tinggi dan kemudian hilang masuk ke dalam awan.


Bersambung.


__ADS_2