JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA

JAKA KELANA DAN ELANG RAKSASA
Membebaskan Kutukan bagian 11


__ADS_3

Semua warga menyambut sukacita ketika hujan deras mengguyur dan menghilangkan suhu panas yang hampir saja membuat tubuh mereka terpanggang.


Terlebih lagi ketika senopati Lingga yang memimpin pasukan Hulu Semingkir, datang mendekat dan menyerah kepada Gajah Laya.


Suara teriakan kemenangan terdengar memecah keheningan.


Kini kedua pasukan bergabung dan kembali ke desa, untuk melihat Jaka dan Dewi yang tengah bertarung melawan Mata Satu dan kedua gurunya.


Wajah bahagia jelas tergambar ketika melihat Jaka dan Dewi sedang berpelukan dengan mesra di bawah guyuran hujan yang mulai reda.


" Hidup Jaka, hidup Dewi, hidup sang pahlawan" Teriak Matoa yang akhirnya di tirukan oleh semua penduduk.


Jaka dan Dewi yang kaget langsung melepaskan pelukanya dan melambaikan tangan kepada seluruh warga dan para prajurit Hulu Semingkir.


Gajah Laya segera mendekati Jaka, ia tiba tiba saja bersujud di hadapan Jaka sambil terus mengucapkan terimakasih dengan air mata yang terus bercucuran.


Jaka segera mengangkat tubuh Gajah Laya dan memeluknya. Semua mata yang menyaksikan ikut menangis haru.


" Terimakasih Jaka, terimakasih, hanya Dewata yang bisa membalas semua jasa jasamu!" ucap Gajah Laya yang menangis tersedu dalam pelukan Jaka.


Untuk kesekian kalinya Dewi juga merasakan keharuan air matanya membasahi pipi dan semakin menambah kecantikanya terlihat mempesona.


Bahkan para penduduk dan para prajurit matanya seakan tak berkedip melihat pesona Dewi Kumalasari saat di guyur air hujan.


Namun mereka merasa tak enak hati karena Jaka dan Dewi adalah sosok sangat di hormati.


Setelah hujan reda, Jaka dan Dewi memerintahkan semua pasukan untuk membubarkan diri dan beristirahat.


Ia juga menyuruh senopati lingga kembali ke kerajaan bersama para prajurit.


ketika malam tiba api unggun nampak menghiasi setiap rumah untuk menghangatkan diri, beberapa warga juga terlihat menari nari menyambut kemenangan.

__ADS_1


Ada satu hal yang masih mengganjal di hati Jaka, ia masih bingung bagaimana menggunakan batu Kalimaya untuk mengembalikan kerajaan Hulu Semingkir seperti semula.


Ki Gajah Laya sendiri juga tak mengetahui seluk beluk batu tersebut, lalu ia menyuruh Jaka dan istrinya bertanya kepada Matoa.


Matoa juga terlihat bingung ketika di tanya soal cara menggunakan batu Kalimaya, namun ia tak sengaja pernah melihat Raja Arya Semingkir ketika sedang membaca sebuah kitab yang berada di ruang pusaka.


Mungkin saja di dalam kitab tersebut juga berisi tentang cara menggunakan batu kalimaya.


Keesokan harinya Gajah Laya menyuruh semua warga berkumpul dan berdoa, supaya Jaka segera menemukan cara untuk membebaskan kutukan yang telah membelenggu kerajaan Hulu Semingkir, selama bertahun tahun.


Setelah selesai berdoa Jaka dan Dewi, serta Matoa,Gajah Laya beserta semua warga berbondong bondong berjalan menuju istana Hulu Semingkir.


Setelah setengah hari berjalan, akhirnya tibalah rombongan di istana Hulu Semingkir.


Senopati Lingga menerima dengan senang hati, dan mempersilahkan Jaka serta istrinya dengan di temani Matoa bersama Ki Gajah Laya menuju ruang pusaka.


Mereka mencoba mencari buku yang di maksud Matoa.


Dewi terus membuka lembar demi lembar, tak satu kata pun yang luput dari perhatian matanya, hingga akhirnya kedua mata Dewi berhenti pada sebuah kalimat yang berisi petunjuk tentang kegunaan batu kalimaya.


" Batu kalimaya adalah pusaka leluhur hulu semingkir dan hanya keturunan raja kerajaan semingkir yang dapat menggunakanya'"


Semuanya terdiam setelah Dewi membaca dengan keras kalimat tersebut.


Namun Senopati Lingga tersenyum semringah dan membuat semua orang merasa aneh melihat kejadian tersebut.


"Maaf tuan Jaka, Dewi,Ki Gajah Laya dan kau Matoa. Aku sebenarnya adalah anak dari Arya semingkir, namaku sebenarnya adalah Lingga Semingkir. Aku tinggal di wilayah kerajaan Hilir Saberang.Dulu ketika ayahku Arya Semingkir sering mengembara hingga akhirnya bertemu dengan ibuku hingga akhirnya mereka menikah.


Namun setelah ibu mengandung,Arya semingkir kembali ke kerajaanya, hingga aku dewasa, ayah tak pernah menengok.Akhirnya aku putuskan untuk mencari ke istana Semingkir, namun naas setelah diriku tiba di istana, terlihat api berkobar di mana mana hingga menghancurkan bangunan istana, menurut kabar yang beredar bahwa ayah tewas.


Cukup lama aku mencari tahu sebab sebab kematian ayahku, yang ternyata akan mengeksekusi mati seorang Resi yang bernama Resi Ramadipa.

__ADS_1


Namun semua itu rupanya terjadi lantaran, ucapan mata satu yang mengadu domba dengan sang resi.


Ternyata Mata Satu adalah saudara tiri, yang diam diam menginginkan kedudukan raja, hingga ia bersekutu dengan iblis, yang mengaku sebagai Dewa Matahari dan juga Dewa Api.


Singkat cerita aku menyamar menjadi prajurit, hingga akhirnya menjabat sebagai senopati, sudah berkali kali aku berusaha membunuh Mata Satu untuk membalaskan dendam sang ayah, namun selalu gagal karena ia memiliki ajian pancasona.


Namun aku berterimakasih kepada tuan Jaka dan nona Dewi yang telah mewujudkan cita citaku, Jadi biarkan aku yang menjalankan tugas untuk mengembalikan kerajaan Hulu Semingkir seperti semula"Pungkas Lingga sambil meminta batu Kalimaya.


Jaka segera menyodorkan batu tersebut.


Mereka segera keluar menuju halaman istana.


Lingga segera berjalan ke tengah halaman dengan membawa batu kalimaya.


Lingga," Dewata kumohon kembalikan kerajaan Hulu Semingkir seperti semula dengan lantaran batu Kalimaya!"


Semua mata tertuju kepada lingga dan batu kalimaya yang tiba tiba memancarkan cahaya berwarna kehijauan dan memancar ke langit hingga berubah menjadi hijau, Lingga juga pelan pelan mulai melayang.


Langit yang di penuhi awan warna hijau, pelan pelan mulai turun asapnya memenuhi semua penjuru istana dan wilayah Hulu Semingkir.


Dalam sekejap daun daun tumbuh di pucuk pucuk ranting, rumput hijau juga muncul dari dalam tanah dan menyebar memenuhi daratan Hulu Semingkir.


Tubuh semua penduduk juga kejang kejang, ketika asap bergerak menyentuh tubuh mereka.


Rasa bahagia semakin memuncak ketika tubuh yang kerdil pelan pelan menjadi besar hingga membentuk ukuran manusia normal, pohon pohon pun sudah menghijau dengan di penuhi dedaunan yang rimbun.


Semua orang bersorak sekaligus bersyukur kepada sang pencipta karena melihat kerajaan Hulu semingkir telah kembali.


Gajah Laya yang di tuakan di wilayah tersebut segera mengangkat Lingga Semingkir menjadi Raja, sedang dirinya di angkat menjadi penasehat setelah Lingga di nobatkan menjadi Raja.


Sementara Matoa yang dulunya hanya seorang abdi di angkat sebagai, Patih untuk mendampingi Lingga memerintah di kerajaan Hulu Semingkir.

__ADS_1


__ADS_2