
Setelah berhasil menyembuhkan bibi Pay, Jaka dan Dewi tinggal dan menginap beberapa hari di tempat paman Tang.
Jaka dan Dewi juga mau memastikan keamanan para warga setelah kemarin, Jaka bertarung dengan siluman ular dan juga jin yang bersarang di tubuh bibi Pay.
Selama tinggal di desa tersebut rupanya tidak ada lagi kejadian yang membuat warga takut.
Bibi Pay juga sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Kesembuhan bibi Pay menyebar ke pelosik desa dan Jaka semakin terkenal. Bahkan banyak orang orang berdatangan dan minta supaya Jaka dan Dewi mau mengobati mereka.
Bahkan kini rumah bibi Pay selalu di penuhi para warga yang hendak berobat. Jaka dan Dewi tak mau mengecewakan para penduduk, jadi berbekal pengalaman selama malang melintang di dunia persilatan Jaka dan Dewi mampu menyebuhkan para warga.
Namun karena hasrat keduanya yang sudah rindu dengan kampung halaman, akhirnya hari yang di tunggu datang juga.
Jaka dan Dewi berpamitan dengan bibi Pay,paman Tang dan Wutan serta para warga.
Para warga dan juga Wutan merasa bersedih karena harus di tinggal oleh kedua orang yang memiliki banyak jasa di desa tersebut.
Dewi Kumalasari terkejut ketika mendengar salah seorang warga menyuruhnya untuk merubah wujud menjadi elang, para warga yang lain juga berteriak dan menyerukan hal yang sama.
Mereka berkeinginan agar dapat mengingat bahwa ada orang hebat yang sangat berjasa di negaranya dan singgah cukup lama di desa mereka.
Suasana menjadi riuh ketika Dewi mulai di liputi kabut dan nampak tumbuh sayap di kedua ketiaknya.
Para warga takjub dan bertepuk tangan, Dewi telah sempurna merubah wujudnya dan mengepakan sayapnya dan membuat beberapa warga menjauh, karena takut terkena sayap yang bergerak.
Jaka segera naik ke punggung Dewi dan melambaikan tanganya kepada keluarga Tang dan warga.
Semua warga juga melambaikan tangan ketika elang raksasa mulai terbang, suara khasnya pun terdengar membahana, bahkan beberapa warga sampe menutup telinga.
Elang raksasa semakin terbang tinggi dan melesat terbang meninggalkan daratan cina, mereka melintasi samudra hingga akhirnya mulai terlihat deretan pulau pulau yang membentang di Nusantara.
Jaka nampak mengarahkan pandanganya ke sebuah tempat yang terlihat mengering, hampir semua pohon tak berdaun dan terlihat banyak asap yang mengepul dari sisa kebakaran.
Dewi merendahkan laju terbangnya ketika Jaka menyuruhnya untuk singgah di tempat tersebut.
__ADS_1
Hamparan tanah mengering dan tandus, Jaka berpikir bahwa mungkin wilayah ini sedang mengalami masalah yang serius, karena daerah yang lain sudah menghijau.
Dewi segera merubah wujud menjadi manusia, mereka berjalan mengarah ke sebuah gubuk yang terletak di tengah tengah hutan yang gersang. Hanya terlihat pepohonan masih menjulang tapi tanpa daun hanya ranting ranting yang masih menghiasi pohon tersebut.
Jaka mengetuk pintu.
"Sampurasun, kulonuwun"
Tapi tak ada jawaban dan rumah nampak tak berpenghuni.
Jaka dan Dewi kembali berjalan untuk mencari orang yang bisa di ajak ngobrol untuk mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di wilayah tersebut.
Cukup lama keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang seperti tiada ujungnya, hingga akhirnya Jaka dan Dewi melihat sesosok manusia bertubuh kerdil tengah berjalan seorang diri sambil membawa kendi berisi air.
" Maaf tuan, bolehkah saya bertanya?" ucap Jaka kepada orang tersebut.
Manusia kerdil menatap Jaka dengan sedikit ketakutan. Kendi yang di bawanya terlihat bergetar.
Melihat seorang wanita yang cantik dan terlihat sopan, manusia kerdil meletakan kendi yang berisi air.
" Maaf tuan dan nona, aku takut jika kalian adalah orang suruhan dari Raja Mata Satu yang akan menangkapku!" jawab si manusia kerdil.
Setelah mulai sedikit akrab si manusia kerdil mengajak Jaka dan Dewi ke sebuh rumah yang cukup tersembunyi di tengah tengah padang ilalang yang mengering.
Jaka dan Dewi harus jongkok untuk masuk ke dalam rumah tersebut karena memang ukuranya yang mini.
" Baiklah tuan silahkan minum dan makan seadanya, nanti setelah itu aku akan bercerita kepada kalian, mengenai kejadian yang menimpa di wilayah kami" ucap si manusia kerdil sambil menyuguhkan hidangan.
" Terimakasih tuan, perkenalkan namaku Jaka Kelana dan ini istriku Dewi Kumalasari" ucap Jaka memperkenalkan diri.
" Oh ya tuan Jaka dan nona Dewi, perkenalkan namaku, Matoa!" jawab manusia kerdil.
Matoa segera bercerita bahwa wilayah ini masih merupakan wilayah dari kerajaan Hulu Semingkir yang di pimpin oleh Raja yang bernama Arya Semingkir, Raja menyuruh kami untuk menyembah Dewa matahari dan Dewa Api.
__ADS_1
Wilayah kami dulu adalah tempat yang subur seperti wilayah lain, namun setiap tahun kami harus mengorbankan seorang anak perawan untuk di bakar hidup hidup untuk persembahan kepada Dewa Matahari dan Dewa Api.
Hingga akhirnya datanglah seorang resi dari tanah pasundan, resi tersebut sangat bijaksana hingga akhirnya banyak warga yang bersimpati dan lama kelamaan Resi Ramadipa banyak memiliki pengikut.
Setelah semakin lama semakin banyak penduduk yang menjadi pengikut Resi Ramadipa, mereka mulai berpikir bahwa mengorbankan seorang manusia yang di bakar hidup hidup adalah cara yang sangat bertentangan dengan kepercayaan yang di bawa Resi Ramadipa.
Hingga lambat laun upacara tumbal di tiadakan, Raja semingkir marah besar dan berusaha menangkap Resi Ramadipa.
Ia langsung turun tangan untuk menangkap beliau, Resi Ramadipa tak mau ada penduduk yang menjadi korban karena membelanya.Hingga ia pun di bawa ke kerajaan Hulu Semingkir untuk di hukum.
Di depan kedua patung Dewa Matahari dan Dewa Api Resi Ramadipa akan di bakar hidup hidup.
Singkat cerita kali ini Resi Ramadipa tak mau menunjukan bahwa dirinya lemah hingga nanti para muridnya akan mudah beralih kepercayaan.
Pada saat Arya Semingkir menyuruh anak buahnya membakar Resi Ramadipa, tiba tiba munculah angin dan hujan yang lebat dan memadamkan api yang hendak membakar Ramadipa.
Arya Semingkir segera menyuruh melakukan pemujaan dan meminta bantuan kepada kedua patung yang menjulang tinggi di pelataran istana.
Tiba tiba kedua patung tersebut dapat berbicara dan dari mulut serta matanya keluar api.
Tiba tiba hujan dan angin berhenti dan yang terlihat hanya api yang berkobar dan menghanguskan semua bangunan kerajaan.
Raja Arya Semingkir marah karena justru kedua patung tersebut ikut membakar istana kesayanganya, hingga akhirnya ia menyuruh anak buahnya menghancurkan patung tersebut.
Namun kedua patung tersebut tiba tiba dapat bergerak ketika sang raja berniat menghancurkanya, kobaran api makin menjadi dan membumi hanguskan istana Hulu Semingkir.
Raja berusaha melawan kedua patung tersebut di bantu Resi Ramadipa dan para prajurit.
Namun akhirnya mereka terbunuh.
Para penduduk panik dan berlarian melihat api yang terus menjalar kemana mana.
Tiba tiba terdengar suara dari kedua patung tersebut bahwa mereka akan menjadikan wilayah Kerajaan Semingkir menjadi tanah yang gersang dan akan mengubah semua warganya menjadi kerdil sebagai hukuman.
__ADS_1