Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
102 Saksi Biksu


__ADS_3

Di sinilah mereka berada sekarang, di dalam jet pribadi Arby.


Mereka akan ke Jepang lebih dulu, sesuai rencana Arby, lalu ke Yunani. Arby tidak melepaskan Freya dalam pelukannya, membuat Chiro kesal.


Tidak lama kemudian mereka tiba di Jepang, dan Arby langsung menuju apartemen yang dulu dia tempati bersama Chiro dan yang lain.


Bukan tanpa alasan Arby mengajak Freya ke Jepang. Dan bukan karena tidak punya uang, maka dia tidak bisa tidur di kamar hotel yang mewah dengan fasilitas lengkap.


Dia hanya ingin, mengisi kekosongan yang dulu, selama bertahun-tahun, dia rasakan hanya berdua saja dengan Chiro.


Arby meminta mereka tidur satu kamar. Bukan tanpa alasan juga. Dulu, dia hanya tidur saja dengan Chiro, bayi kecilnya, hingga Chiro semakin besar. Menyisakan satu sisi yang seharusnya diisi oleh Freya.

__ADS_1


Arby tidak pernah membiarkan perempuan mana pun, selain keluarga mereka, yang masuk ke apartemen itu, apalagi masuk ke dalam kamarnya.


Entah itu perempuan yang mendekati Ikmal, Marcell, atau Vian, juga dirinya.


Tidak pernah, tidak boleh, dan tidak akan.


Arby, tidak pernah membiarkan celah sekecil apa pun, untuk perempuan lain hadir dalam hidupnya. Dia sudah cukup banyak belajar dari masa lalunya, kedekatan dia dengan Nuna, yang sebenarnya sudah terjalin sejak kecil, karena Freya sendiri. Dia sudah belajar dari itu, tidak akan ada lagi sahabat perempuan, selain Nuna dan Freya.


Bukan berarti Arby jadi membenci Nuna. Arby tahu, Freya sangat menyayangi Nuna, seperti saudara sendiri. Jika kecelakaan naas saat Freya SD dulu tidak terjadi, mungkin ceritanya akan berbeda? Arby tidak tahu, dan tidak mau berandai-andai.


Arby memeluk dia orang terkasihnya itu. Inilah dulu, saat di apartemen ini, yang menjadi keinginan Arby. Dulu selama di Jepang, hal ini yang sangat dia impikan. Memeluk Freya dan Chiro.

__ADS_1


Dia ingin Freya tahu, di mana dulu dia dan Chiro menghabiskan hari-hari bersama. Tidur di tempat tidur yang sama. Arby mengusap air matanya yang keluar, dan menahan isak tangisnya, agar tidak membangunkan Freya dan Chiro.


Dia tidak malu untuk menangis. Laki-laki bukan berarti tidak boleh menangis. Bahkan pemimpin di setiap negara pasti pernah menangis, pemuka agama pasti pernah menangis, apa pun pekerjaan seorang pria, siapa pun dia, pasti pernah menangis.


Selama di Jepang ini, dia akan mengajak Freya melakukan hal-hal yang dulu dia lakukan berdua saja dengan Chiro, pergi ke tempat-tempat yang dulu dia pernah datangi bersama Chiro.


Dia ingin menggantikan saat-saat kesepian dan merana dulu, dengan Freya sekarang. Menunjukkan pada saksi-saksi biksu itu, bahwa dia bisa ke sana lagi bersama orang terkasihnya. Menunjukkan pada tempat-tempat itu, kalau dia bukan lagi pria kesepian yang harus dikasihani.


Arby sudah me-list semua tempat yang harus dia datangi. Dia juga akan memasak di sini, untuk Freya. Memasak makanan yang dulu sering dia buatkan untuk anak mereka.


Hanya dengan membayangkan itu saja sudah membuat Arby sangat senang. Ini adalah impiannya dulu, di kamar yang penuh dengan kenangan seorang ayah berdua saja dengan bayi laki-laki yang semakin besar.

__ADS_1


Kini kamar itu telah menjadi hangat, dengan kehadiran Freya di sisi dia dan Chiro.


__ADS_2