Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
38 Kegelisahan Chiro


__ADS_3

Sesekali Naya mengusap keringatnya, dia berjalan ke sana sini untuk memeriksa pasien yang keracunan. Marcell juga menyempatkan diri datang ke klinik sebelum nanti siang harus kembali ke Jakarta.


Untung saja klinik ini memiliki fasilitas yang lengkap, jadi mereka bisa melakukan tes. Setelah makan sianv bersama Marcell yangvdilakukan dengan terburu-buru itu, Naya kembali ke klinik dan Marcell ke Jakarta.


Sementara itu, Erlang terus memikirkan pembicaraannya dengan Naya soal Naya yang tidak ingin menikah lagi dan takut untuk memiliki anak.


Apa aku harus melepaskannya dan membiarkannya bebas? Meskipun kami tak lagi bersama, aku yakin Chiro tidak akan kekurangan kasih sayang Freya, meskipun tetap saja ada yang kurang karena tidak memiliki keluarga yang utuh.


Tapi tidak bisa, Chiro memang tidak akan kekurangan kasih sayang Freya, tapi Arjun lah yang kehilangan kasih sayang. Masa sepanjang hidupnya hanya dua kali melakukan tugas mulia.


Tetap saja, ujung-ujungnya mesum, yang mendengar curhatan hatinya jadi batal terharu.


Jadi harus bagaimana lagi aku membujuknya, dan meyakinkan dia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apa aku harus pura-pura sekarat dan meminta dia menikah denganku? Atau launching adiknya Chiro dulu, baru meminta pertanggung jawaban darinya agar menikah denganku.


"Daddy, kapan mommy datang?"


Pertanyaan Chiro membuyarkan rencana setengah matang Erlang.


"Ini masih siang, Chiro. Mungkin nanti sore mommy baru datang. Chiro doakan saja semoga pekerjaan mommy lancar dan mommy cepat datang."


Chiro memang terlihat murung sepanjang pagi ini. Entah kenapa dia sedikit lebih manja dan sangat bersikeras untuk bersama mommynya.


Waktu semakin sore, Chiro semakin gelisah menuggu Naya. Bahkan anak itu sudah mandi dan berpakaian sendiri. Anak itu ingin jalan-jalan bersama mommy dan daddynya dengan memakai baju couple.


.


.


.


Jam tujuh malam, Chiro mulai menangis terisak.


"Daddy, mommy bohong pada Chiro."


"Enggak Chiro Sayang, mungkin mommy masih sibuk."


Sementara Naya sendiri juga sangat gelisah di sana. Sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya. Korban yang mengalami keracunan tidak hanya sedikit.


Ecan, sabar ya. Maafkan mommy yang terlambat menemuimu.


Jam sembilan malam


"Daddy, jangan-jamgan mommy pergi lagi meninggalkan Chiro. Mommy tidak boleh pergi lagi, daddy."


"Mommy hanya lagi bekerja, Sayang."


Erlang tadi sudah menghubungi Marcell. Kata Marcell di klinik memang sangat sibuk, jangankan untuk memegang ponsel, untuk makan siang saja harus buru-buru.


Erlang juga sudah melihat berita di televisi, yang memberitakan tentang keracunan masal tersebut dan dalam proses penyelidikan pihak kepolisian.


Dor


Dor


Dor


Suara kembang api menghiasi langit malam yang cerah. Chiro menunduk lesu di depan jendela apartemen.


Suara kembang api itu menandakan bahwa tahin telah berganti, namun mommy Chiro belum datang. Anak itu menangis dalam pelukan daddynya.


"Chiro bobo dulu, ya."


"No, Chiro mau mommy. Chiro takut mommy pergi."


Erlang terus membujuk Chiro agar berhenti menangis dan mau tidur.


Jam satu, Naya menghubungi Erlang, namun tidak diangkat-angkat.

__ADS_1


Chiro pasti marah padaku, dan Arby juga ikut marah karena aku pasti sudah membuat Chiro menangis.


Jam dua


Naya merenggangkan otot-ototnya, dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Aku pulang dulu, ya," ucap Naya.


"Enggak istirahat dulu di sini, Nay? Tunggu pagi baru pulang," ucap salah satu dokter.


"Aku pulang sekarang saja."


"Ya sudah, hati-hati ya di jalan. Kalau ngantuk istirahat dulu di tempat yang ramai."


"Oke, makasih. Bye."


"Bye Naya."


Naya memilih jalan pintas yang cukup sepi. Masih terdengar suara petasan di kejauhan dan kembang api. Karena suasana malam yang sangat sepi dan jalannan lenggang, Naya mengemudikan mobilnya lebih cepat namun dengan kecepatan yang masih terbilang normal.


Sesekali dirinya menguap. Dia mencoba menghubungi Erlang kembali, namun tidak diangkat.


Ecan, jangan marah pada mommy, ya. Mommy janji nanti akan mengajak Ecan jalan-jalan seharian.


.


.


.


Membacakan buku cerita sudah, menonton film kartun sudah, menina bobokan Chiro sudah, namun anak itu tetap tidak mau tidur kalau Naya belum datang.


"Daddy buatin susu ya, buat Chiro."


Anak itu diam saja.


"Hiks, mommy, Daddy. Chiro mau mommy."


.


.


.


Mobil berjalan dengan tenang, namun tiba-tiba saja terdengar suara letusan. Bukan ban mobil yang tiba-tiba pecah, melainkan suara petasan bertubi-tubi yang entah terlempar ke mobil Naya, atau bagaimana.


Tentu saja Naya kaget dan membanting stir. Mobil tersebut menabrak pembatas jembatan dengan kencang.


"Aaaa ...."


Brak


"Aaaa ...."


Brak


"Aaaa ...."


Bugh


"Aaaa ...."


Mobil itu jatuh ke sungai di tengah gelapnya malam yang sunyi.


Mommy, harus cepat pulang. Ingat, ada Ecan yang menunggu mommy. Mommy tidak boleh meninggalkan Ecan lagi.


Maafkan mommy, Ecan, yang tidak bisa menepati janji dan mengajakmu bermain seharian.

__ADS_1


Opa, oma, maafkan Freya yang melupakan kalian.


.


.


.


Erlang melihat ponselnya yang terdapat beberapa panggilan masuk dari Naya. Jam terakhir Naya menghubunginya lima belas menit yang lalu. Dia mencoba menghubungi Naya, namun tidak diangkat-angkat.


Chiro masih ada dalam gendongannya. Anak itu masih menangis, bahkan badannya kini panas. Merasa bingung karena Chiro tidak oernah seoerti ini sebelumnya, akhirnya Erlang menghubungi Marcell, Ikmal, Vian, Marva dan Evan untuk ke apartemennya.


"Jangan lama-lama datangnya!" perintah Erlang lalu mematikan sambungan.


Ada apa ini, kenapa perasaanku jadi enggak enak seperti ini?


Lalu Erlang mencoba menghubungi Nuna untuk menanyakan keberadaan Freya.


"Freya enggak ada menghubungi kami dari kemaren pagi. Kami juga ada di rumah sakit Jakarta sampai tadi jam delapan malam, terus tidur karena kelelahan. Biar aku telp ke klinik, nanti aku hubungi kamu."


Monic yang rasa kantuknya mendadak hilang, langung menghubungi klinik, karena ponsel Naya memang tidak bisa dihubungi.


"Halo, ini dokter Monic. Dokter Naya masih di sana?"


"Dokter Naya sudah pulang dari jam dua tadi, Dok."


"Sendiri?"


"Iya, sendiri."


"Ya sudah, terima kasih, ya."


Setelah itu Minic menghubungi Erlang.


"Gimana?"


"Freya sudah pulang dari jam dua."


"Jam dua malam?"


"Iya."


"Ya sudah, nanti kalau Freya sudah sampai, kamu hubungi aku langsung."


"Iya, tenang saja."


Ikmal dan yang lain datang di waktu yang hampir bersmaan.


"Cell, kamu periksa Chiro, badannya jadi panas karena kebanyakan menangis."


"Nangis kenapa?"


"Freya belum pulang juga sampai sekarang."


"Mungkin masih sibuk di klinik."


"Dia sudah pulang dari jam dua malam, tadi Nuna menghubungi klinik. Freya juga enggak bisa dihubungi."


"Malam-malam pulang sendiri?" tanya Ikmal


"Mungkin macet karena banyak yang merayakan tahun baru di luar," Marva yang menjawab


"Lagian kamu kenapa enggak di klinik sama Freya saja sih, Cell?" tanya Erlang.


"Aku di rumah sakit Jakarta juga ada kerjaan. Bukannya main-main."


"Sudah, sekarang periksa Chiro, Cell. Kamu juga Ar, jangan panik dulu. Mungkin ponselnya lowbat dan jalanan macet."

__ADS_1


__ADS_2