Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
21 Duda Mesum Kurang Belaian


__ADS_3

Naya melirik kesal pada Erlang, yang kini statusnya adalah tetangganya namun beda satu lantai. Para pria kurang kerjaan itu telah memborong satu lantai untuk mereka. Siapa lagi kalau bukan sang pemimpin yang bernama Arby Erlangga Abraham dan kroni-kroninya, Ikmal, Vian, Marcell, Evan dan Marva. Meskipun yang ada di London saat ini hanya Erlang, Chiro dan Evan saja.


Saat ini, duda jablay alias jarang dibelai -- oh salah, sepertinya bukan jarang dibelai, tapi memang tidak pernah dibelai selain belaian kasihan dari Chiro itu -- datang ke unit Naya untuk diperiksa


"Gejala apa yang kamu rasakan?" tanya Naya sambil mengambil stetoskopnya.


"Tubuhku merasakan sensasi dingin dan menggigil, demam, aku juga sakit kepala, mual dan muntah. Kejang, tubuhku berkeringat dan merasa kelelahan, juga nyeri pada tubuh."


Naya mengeryitkan alisnya.


"Coba besok kamu tes darah ke rumah sakit. Itu seperti gelaja malaria ringan. Apa belum lama ini kamu pergi ke suatu tempat?"


"Sepertinya kamu belum ahli ya, menjadi dokter."


Naya melotot pada Erlang. Bisa-bisanya dia dicela oleh orang yang tidak tahu ala-apa soal medis. Kalau perkataan itu diucapkan oleh profesornya, dia akan maklum karena ilmunya memang belum seberapa jika dibandingkan oleh sang profesor.


"Itu bukan malaria."


"Terus?"


"Tapi malarindu," ucap Erlang sambil mengedipkan matanya. Membuat Naya ingin menoyor kepala Erlang jika saja tidak ada Chiro di situ.


"Lagian bukan tes darah yang seharusnya aku lakukan?"


"Lalu?"


"Tes sp*rma, untuk mengetahui sudah berapa banyak tabungan sp*rma di juniorku selama empat tahunan ini yang siap diluncurkan secara masal."


Tok


Naya langsung menggetok kening Erlang dengan stetoskopnya, membuat Erlang meringis dan mendelik padanya.


Bodo amat lah, toh dia enggak bakal juga laporin aku ke polisi dengan alasan dokter melakukan kekerasan terhadap pasien. Pasiennya juga abal-abal, kok. Lagian bisa diamuk Ecan, dia, kalau sampai nakal sama aku.


Naya jadi ikut-ikutan menggunakan kata nakal seperti Chiro.


"Mommy, Ecan mau susu."


"Mommy bikin dulu, ya."


"Aku juga dong, Frey, mau susu," ucap Erlang namun matanya mengarah pada dada Naya.


Naya spontan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangannya.


"Santai dong Frey, enggak usah buru-buru. Nanti juga ada saatnya aku minta ASI ke kamu."


"Kyaaaa, dasar mesum!"


Erlang hanya tertawa renyah.


"Mommy, apa daddy nakal pada Mommy?"


"Iya," jawab Naya.


"Enggak!" ucap Erlang.


Naya dan Erlang berkata bersamaan.

__ADS_1


Cih, di depan orang-orang, muka sok datar, namun pikiran mesum. Dasar tukang tipu.


"Frey, kamu kan dokter, kamu tahu gak tren infus mayones."


"Hah? Infus mayones? Mana ada infus mayones."


"Ada loh, Frey."


"Mana ada!"


"Ada Frey, ada."


"Rumah sakit mana yang melakukan infus mayones?"


"Rumah sakit cinta dengan kamar VIP penuh taburan bunga ... aku dokternya ... kamu pasiennya ... nih suntikannya, gede banget, mayonesnya juga banyak," ucap Erlang sambil mengarahkan mata dan telunjuknya pada sang pusaka yang koma selama empat tahun lebih, dan dengan bodohnya Naya memperhatikan cacing raksasa yang terbungkus kain itu.


Dia langsung menggelengkan kepalanya dan memejamkan mata, tangannya mengepal.


Ya Tuhan, kalau seperti ini ... bisa-bisa aku jadi gila sebelum benar-benar jadi psikiater. Sepertinya aku juga harus cepat-cepat menjadi dokter bedah, untuk membedah otaknya yang konslet.


Lain kali kalau dia ngomong, enggak usah aku sahutin dan tanya, bisa ribet urusannya.


Marcell, kamu jadi dokter dan sahabat enggak becus amat, punya sahabat gangguan saraf kaya gini, enggak mau diurus!


Sedangkan di Jakarta, Marcell langsung bersin-bersin.


Kenapa sih jadi bersin-bersin gini. Untung enggak lagi nyuntik pasien!


Kembali lagi ke mantan suami istri itu.


Sebelum Erlang menjawab, pintu apartemen Naya terbuka dan masuklah Monic, Zilda, Letta dan Kirei.


"Eh, ada Chiro," sapa Kirei.


"Chiro mau tidur sama mommy atau daddy?" tanya Naya.


Sama mommy and daddy, Chiro, batin Erlang penuh harap.


"Sama daddy, Mommy."


Erlang langsung memberengut saat anaknya itu tak bisa diajak kerja sama.


"Good night, Mommy. Have a nice dream."


Chiro langsung mengecup kedua pipi Naya.


Ayo Chiro, minta mommy kasih kiss ke daddy.


Lagi-lagi Erlang berharap, namun Chiro langsung menarik tangan Erlang.


"Ayo, Daddy, kasihan mommy mau tidur."


Ck, giliran ngomporin mommy dan daddy, kamu jago banget. Tapi kenapa sekarang malah tidak pengertian.


Cup


Erlang langsung mengecup bibir Naya begitu saja di hadapan Monic, Letta, Zilda dan Kirei, membuat keempat gadis itu melongo.

__ADS_1


"Biar kamu mimpi indah, Frey. Kalau mimpi basah, kamu bisa langsung menghubungiku. Awas, yang lain jangan pada mupeng!"


Erlang langsung menggendong dan membawa Chiro ke luar dan terdengarlah suara tawa Erlang.


"Astaga, aku merinding melihat Arby seperti itu," ucap Letta.


Kelima dokter itu memang tetap memanggil Erlang dengan nama Arby. Apalagi Naya, dia tidak peduli kenapa sekarang Arby dipanggil Erlang, dan dia juga enggak mau ikut-ikutan memanggil nama Erlang, karena sudah terbiasa dengan memanggil Aby atau By.


Arby, Ikmal, Vian dan Mercell juga begitu, tetap memanggil Freya, Nuna, Nania dan Aruna.


Memang tidak mudah mengubah kebiasaan, kan.


Monic hanya cekikikan melihat aksi sahabat lamanya itu, sedangkan Kirei, wajahnya sudah bersemu malu.


"Ahhh, aku kan juga pengen jadinya!" seru Zilda yang memang dari dulu menjadi yang paling centil di antara mereka berempat (sekarang berlima dengan Kirei).


"Suruh Marcell ke sini, lah!" kata Letta.


Di Jakarta, lagi-lagi Marcell bersin-bersin.


Kenapa sih aku, ini?


Ngomong-ngomong, Erlang sekarang sudah tinggal di London. Aku harus bisa membujuk ayah bunda agar aku bisa bekerja di London, juga mempengaruhi Ikmal dan Vian agar mau tinggal di sana juga.


Balik lagi ke Naya


Mommy Chiro itu benar-benar tak habis pikir dengan sikap Arby.


Gimana sih rasanya, orang yang sudah dikenal sejak SMP (dalam ingatan Freya), yang sering diajak bertengkar dan bermuka datar, tiba-tiba menjadi suami lalu bercerai, kini malah menjadi mesum ke mantan istri sendiri? Sedangkan dulu saat masih menjadi suami istri, jangankan ngomong mesum, akur saja susah.


Ponsel Naya berbunyi, ada pesan masuk.


📩From: Pasien Gadungan [💏]


Balasan dari Naya


📩From: My Wife [🔪]


Erlang cekikikan melihat balasan dari Naya, dia juga senyum-senyum sendiri yang dengan pede-nya nomor ponsel Naya diberi nama My Wife.


Ponsel Naya kembali berdering, pesan dari sang mantan.


[Mommy Chiro]


[Honey]


[Sweety]


[Darling]


[My Wife]


Lima menit


Sepuluh menit


Namun tidak juga mendapatkan balasan dari Naya, yang sebenarnya sudah tidur dan berharap tidak akan mimpi basah seperti yang dikatakan oleh Arby, sang mantan yang ternyata belum bisa move on.

__ADS_1


__ADS_2