Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
57 PHK


__ADS_3

"Kalian habis shoping?" tanya Vanya saat Freya, Arby dan Chiro masuk ke dalam rumah.


"Iya."


"Banyak banget belanjaannya, ada buat aku, enggak?"


"Ada tuh, cari saja."


Vanya lalu membongkar belanjaan itu.


"What, serius nih?"


Vanya memamerkan apa yang dia pegang ke orang-orang yang ada di hadapannya. Mereka memasang wajah cengo, lalu tak lama kemudian tertawa kecuali Arby dan Freya yang menahan malu.


Vanya menunjukkan CD laki-laki berwarna pink.


Kenapa aku bisa kuoa kalau tadi membeli pakaian dalam kembaran sama Freya. Tapi seingatku, aku tidak pernah mengambil warna itu.


"Tadi Chiro yang masukin warna itu ke dalam keranjang belanjaan Daddy, karena hanya earna itu yang Daddy lupa mengambilnya."


"Bukannya lupa Chiro, tapi memang tidak mau," ceplos Arby yang membuat orang-orang semakin tertawa geli.


"Kalian beli pakaian dalam kembaran? Kak Freya juga beli lingerie?"


Freya langsung merampas lingerie-lingerie yang dipamerkan Vanya, lalu masuk ke kamar.


"Kamu sudah enggak sabar nyobain ya, Frey?" teriak Arby.


Mendengar perkataan Arby, Freya lalu melempar pakaian terdzolomi itu (karena kekurangan bahan) ke arah Arby yang ditangkap dengan sigap.


...💕💕💕...


"Kenapa, Pa, Ma?"


"Papa lagi pusing mikirin perusahaan. Opamu sudah tua untuk mengurus perusahaan. Papa juga sudah tua, ingin segera pensiun atau minimal mengurangi pekerjaan, tapi nanti siapa yang mengurus?"


"Kan ada kak Anya."


"Itu bukan bidangnya, Vanya juga gitu. Mereka berdua memang tak ada bakat bisnis."


Freya mengangguk paham.


"Bagaimana kalau aku saja yang membantu opa dan Papa?"


"Apa?"


"Maksudku ... hm, kalau papa mama dan opa oma keberatan, aku juga tak masalah."


"Kamu serius, ingin membantu opa dan papa?"


"Iya, kalau kalian juga kak Anya dan Vanya tidak keberatan."


"Tentu saja kami sangat senang."


Hal itu disambut baik oleh keluarga besar Zanuar.

__ADS_1


"Kalau begitu, besok kamu akan rapat dengan Arby di perusahaan milik daddynya."


Hah, kenapa aku harus rapat dengan duda mesum itu.


"Tidak masalah, kan?"


"Ya."


Lain di hati lain di mulut.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai dokter? Nanti kamu kelelahan."


"Oh, aku ditawarkan untuk menjadi narasumber di acara kesehatan, yang disiarkan Senin sampai Jumat, tapi karena bukan suaran langsung, jadi bisa sekaligus syuting. Aku juga menjadi salah satu dokter di konsultasi kesehatan online dan offline. Aku bisa membagi waktuku untuk menjadi dokter, pengusaha, juga bersama Chiro. Apalagi ini hal yang aku suka."


💕💕💕


Freya turun dari mobil mewahnya setelah sopir pribadinya membukakan pintu.


Orang-orang terpana melihat penampilan Freya dengan pakaian formal wanita karir.


"Selamat pagi, saya mau bertemu dengan Arby."


Resepsionis tak langsung merespon, selain karena kagum dengan kecantikan Freya yang ternyata lebih cantik ketika dilihat secara langsung, aura pemimpinnya terpancar, juga karena panggilan Freya adalah Arby, bukan Erlangga dan tanpa kata tuan.


Sudah menjadi buah bibir bahwa tuan Erlangga tidak suka dipanggil Arby, walau tidak ada yang tahu kalau itu efek dari patah hati karena ditinggal istri.


"Mbak?"


"Eh, iya maaf, Nona. Beliau ada di lantai 17."


"Terima kasih."


Memang belum masuk jam kantor, karena Freya memang datang lebih cepat, sehingga di loby masih banyak pars karyawan dan para petinggi perusahaan.


Freya memasuki lift yang ada karyawan, manager bahkan direktur. Ini adalah perusahaan milik orang tua Arby yang nantinya pasti akan menjadi milik Arby juga.


Wah Chiro, ternyata daddymu sangat kaya. Apalagi nanti FJ juga akan diwariskan padamu, kan.


Dari info yang Freya dapatkan, keluarga Abraham memang memiliki banyak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, sama seperti keluarga Zanuar.


Satu persatu orang-orang keluar dari lift setekah memberikan hormat pada Freya, yang membuat wanita itu cukup bingung.


Akhirnya lift berhenti di lantai 17.


Ruangan di lantai ini sangat besar tanpa banyak sekat.


Yang Freya lihat, ada ruang tunggu yang jendela dan lintunya terbuat dsri kaca, meja sekretaris, ruangan asisten pribadi CEO, toilet juga pantry.


Satu pintu besar yang bertuliskan CEO.


Freya mengetuk pintu, setelah dipersilahkan masuk, Freya membuka pintu itu.


"Selamat pagi."


Empat orang yang terdiri dari Arby, Ecan, seorang pria yang Freya tidak tahu siapa, juga seorang wanita.

__ADS_1


"Freya, kamu ngapain di sini?"


"Aku menggantikan papa untuk rapat denganmu. Hm, sekretaris papa akan menyusul, aku memang datang lebih cepat."


Ingin sekali Arby jingkrak-jingkrak, kan dia jadi punya alasan tambahan untuk bertemu mommy Chiro itu.


"Enggak perlu pakai asisten atau sekretaris, cukup kita berdua saja yang rapat," ucap Arby dengan wajah serius.


Dasar modus, batin Evan.


Meeting kali ini berjalan alot. Bukannya karena banyak kendala, tapi apalagi alasannya kalau bukan si duda mesum yang memperpanjang waktu.


"Aku ada praktek satu jam lagi, bagaimana kalau pembahasannya kita lanjutkan besok?"


"Oke."


Arby lalu keluar berdampingan dengan Freya. Dia menyematkan jari-jarinya di jari-jari Freya.


"Jangan gandeng-gandeng mulu. Ini truk solo, bukan truk gandeng."


"Nyangkut, Frey!"


"Nyangkut, nyangkut."


Namun perhatian Freya tertuju pada jari manis Arby yang terpasang cincin.


Apa dia sudah punya tunangan?


Arby melihat wajah Freya dari kaca lift. Ingin sekali dia memeluk wanita yang ada di sampingnya, mengungkapkan berjuta kata cinta. Namun dia tidak ingin tergesa-gesa, biarlah dia dan Freya menjalani tahap pedekate, yang tidak pernah terjadi di masa lalu. Biarlah Freya merasakan perjuangannya, merasakan cintanya dan ketulusannya.


Namun masalahnya, dulu Freya bukanlah orang yang peka akan hal-hal yang berhubungan dengan hal seperti ini, dan entah saat ini.


Kalau tiba-tiba aku lamar, nanti dia jantungan. Kasihan banget Arjun, baru dua kali kerja udah kena PHK.


"Tumben kalem, lagi mikir mesum, ya?" celetuk Freya.


"Iya, kok tahu?"


Freya mendengkus mendengar jawaban Arby yang kelewat jujur itu.


Lift terbuka, dan kini mereka tiba di loby. Para karyaean memandang kagum pasangan itu. Terlihat sekali wajah binar Arby saat jalan bersisian dengan Freya.


Tuan Erlangga sepertinya gagal move on. Tapi sudah beneran cerai apa belum, sih?


"Biar aku yang antar kamu ke rumah sakit."


"Kerjaan kamu sebagai dokter gimana?"


"Aku praktek dari Senin sampai Rabu jam delapan sampai jam dua belas. Setelah itu ke perusahaan. Kamis aku syuting, Jumat macem-macem, Sabtu dan Minggu sama Chiro."


"Syuting?"


"Iya, aku jadi narasumber untuk acara kesehatan di TV juga di situs kesehatan."


"Jangan sampai kelelahan. Kamu juga harus rutin check up. Kamu suka sakit kepala?"

__ADS_1


"Enggak. Aku jiga ngerasa baik-baik saja."


Arby bernafas lega, karena tidak ingin merasakan hal yang sama untuk yang kesekian kalinya.


__ADS_2