Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
67 Kebelet


__ADS_3

Freya berjalan mengendap-ngendap menuruni tangga. Setelah sampai di lantai bawah, dirinya berlari kecil lalu ke luar rumah dan langsung tancap gas.


Empat puluh lima menit kemudian dia tiba di rumah sakit. Sama seperti sebelumnya, dia berjalan dengan tergesa-gesa, melirik kanan kiri, lalu sedikit berlari.


Tiba-tiba saja, ada yang memegang pundaknya.


"Sudah aku bilang, kamu salah dengar!" ucap Freya dengan cepat.


"Apanya yang salah dengar?"


"Eh, Nuna?"


"Kamu kenapa, sih? Terus kenapa pakai masker gitu?"


"Oh, enggak apa-apa. Aku buru-buru nih, mau ada operasi."


Freya langsung menuju ruangannya sebelum setengah jam lagi melakukan operasi.


"Kenapa dia?" tanya Nuna pada dirinya sendiri.


Kurang lebih lima jam Freya dan timnya melakukan operasi, karena operasi kali ini termasuk operasi besar. Mereka mengucap syukur setelah operasi selesai dan berjalan dengan lancar.


Freya kembali ke ruangannya, dan mengecek ponselnya. Tidak ada pesan atau pun panggilan tak terjawab dari Arby.


Kalau dipikir-pikir, kenapa juga aku begini. Dianya saja santai, kok aku yang ribet. Oya, dia mau menikah dengan Jasmine? Berarti aku harus nyiapin gaun yang bagus dan tampil cantik. Jangan sampai nanti orang-orang mikir aku gagal move on dan galau. Cih, gak sudi!


Freya lalu pergi, karena jadwalnya hari ini di rumah sakit memang hanya operasi saja, karena jadwal yang sebenarnya adalah bekerja di perusahaan.


Freya tiba di mall terbesar, lalu menuju cafe untuk makan siang. Tak lupa dia memotret dirinya dan mempostingnya di sosial media. Setelah itu dia memuaskan dirinya dengan melakukan perawatan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah seluruh tubuhnya melakukan perawatan, dia kembali memposting wajahnya yang terlihat lebih fresh.


Kini Freya ada di salah satu butik terkenal, ELF.


"Halo, Freya. Bagaimana kabarmu?" tanya seorang perempuan berwajah cantik. Freya merasa seperti sering melihat wajah perempuan itu.


"Kamu siapa?"


"Oya, aku lupa kalau kamu tidak ingat apa pun. Aku Lexa, Alexa Elora William.


" Oh, iya."


Freya ingat, bukan karena ingatannya yang kembali. Tapi Freya mengenali Lexa karena perempuan itu sering muncul di tv-tv dan berbagai majalah, terutama majalah bisnis. Kata orang-orang juga dia sangat kejam dengan lawan-lawannya. Dan setelah diingat-ingat, dia juga pernah membesuk Freya di rumah sakit setelah sadar dari koma namun tak lama.


"Kamu lagi mencari gaun?"


"Iya."


"Ya sudah, ayo aku temani. Kamu bisa memilih yang mana saja dan tak perlu membayar."


"Tapi ...."


"Enggak ada tapi-tapian."


Mereka berdua memilih beberapa gaun yang cocok untuk Freya.


"Ke mana Nuna, Nania, Aruna dan Kirei."


"Anda kenal dengan mereka?"


"Panggil saja Lexa. Tentu saja kenal, kita kan berteman."


Lexa lalu memceritakan beberapa hal pada Freya, juga mengirimnya video saat Lexa mengadakan acara pendirian ELF di Bali dan mereka menjadi sebagian dari bintang tamunya.


Tak lupa mereka berfoto dan mengunggahnya di sosial media, yang langsung mendapat ribuan komen.


.


.


.


Arby melihat postingan-postingan Freya yang terlihat sangat cantik. Seperti orang yang sedang mempersiapkan sebuah pesta dengan membeli banyak gaun dan melakukan perawatan.

__ADS_1


"Mungkin mommy mau menikah dengan uncle Mico," gumam Chiro sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh Arby.


Enak saja, setelah kemaren melamar aku, dia malah mau nikah sama orang lain.


💕💕💕


Hari ini hari Sabtu, Freya bermalas-malasan di kamarnya, menikmati hari setelah lima hari dia lewati dengan sangat sibuk.


"Freya, kamu siap-siap sana!"


"Memang mau ke mana, Ma?"


"Kita ada acara makan malam keluarga besar."


"Ko dadakan?"


"Enggak dadakan, sih. Memang sudah direncanakan jauh-jauh hari, tapi karena kamu sangat sibuk, mama jadi tidak sempat memberi tahu kamu."


"Oh. Ya sudah, aku siap-siap dulu."


"Ini gaun untuk kamu pakai. Mama juga sudah menyiapkan gaun untuk Anya dan Vanya."


Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian, Freta telah selesai bersiap-siap. Dia memakai riasan sederhana, namun tetap memukau.


"Ayo kita berangkat, yang lain juga sudah tiba."


Mereka menggunakan tiga mobil.


Mereka tiba di pantai Ancol. Freya melihat sepupu-sepupu, juga om tantenya sudah tiba di sana. Namun yang aneh, dia juga melihat Arby dan keluarganya, juga sahabat-sahabat mereka.


"Kenapa ada Arby sama keluarganya juga?"


"Hari ini kan ulang tahun Arby, jadi mereka merayakannya di sini dan kita di undang.


Dih, sudah tua juga, masih saja ulang tahun dirayakan. Tenang Chiro, nanti Mommy akan merayakan ulang tahunmu dengan sangat meriah.


Perayaan ulang tahun Arby dirayakan secara out door.


Tuh, kan, benar. Ngapain coba, ngundang keluarga besar aku segala. Mau pamer?


"Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin mengatakan bahwa aku menyayanginya, aku mencintainya, dan aku sangat menginginkan dirinya. Aku ingin selalu melihat wajahnya sebelum aku menutup mata dan mengakhiri hari. Aku ingin melihat wajahnya saat aku membuka mata dan mengawali hari. Dia adalah cinta pertamaku, juga cinta terakhirku. Bahkan dia adalah satu-satunya cintaku. Dia membuat hidupku berarti. Meski aku harus berkali-kali terjatuh untuk bisa bersamanya, aku tak akan pernah menyerah. Ini, untuk yang pertama kalinya aku melamar dia, meski kami pernah bersama sebelumnya."


Orang-orang mendengar dengan takjub. Arby menyiapkan semua ini seorang diri. Dia ingin memberikan semua orang kejutan, terutama untuk Freya dan Chiro. Yang diundang juga hanya kerabat besar dan para sahabat.


Arby hanya mengatakan kalau ingin merayakan ulang tahun tapi jangan bilang-bilang sama Freya, biar dia mau datang.


"Freya, kapan kita mulai bikin anak?"


Hening


Hening


Hening


"Huuu ...."


"Itu mau ngelamar atau ngajak perang, woy?"


"Tolak tolak tolak ...." ucap Mico mengompori namun tertawa lucu.


"Yang ngiri diam saja!" ucap Arby sambil menatap para kaum jomblo.


"Ayo, Frey. Aku sudah kebelet banget, ini."


"Kebelet pipis ... kebelet pipis


Kebelet pipis papa


Kepengen pipis kepengen pipis


Kepengen pipis papa ...."

__ADS_1


Marcell, Vian, Ikmal, Marva, Mico dan Evan serempak menyanyikan potongan lagu anak-anak itu.


"Kebelet kawin ... kebelet kawin, kebelet kawin, Mommy. Kepengen kawin, kepengen kawin, kepengen kawin, Mommy ...."


Dengan tak tahu malunya, Arby ikut menyambung dengan mengubah liriknya, apalagi dia menggunakan microfon, tentu saja suaranya kedengaran ke mana-mana, apalagi itu out door.


Vanya menutup kuping keponakannya itu. Suara riuh dan sorakan ditujukan untuk penyanyi amatiran itu.


Sedangkan Freya, dia masih loading meski wajah juga memerah karena nyanyian Arby.


Suasana yang tadinya, dan seharusnya romatis dan mengharukan, mendadak ambyar karena tingkah sang pemilik acara sendiri.


Arby mendekati Freya.


"Ayo kita sambung tali yang terputus itu. Jangan lagi membahas masa lalu, karena yang terpenting adalah masa depan. Seburuk apa pun aku dan dirimu, namun kita akan saling melengkapi."


"Kamu bukannya mau menikah sama Jasmine?" tanya Freya setelah sadar kembali.


"Dih, ngapain aku nikah sama Jasmine?"


"Jangan bohong!"


"Ngapain aku bohong. Memangnya siapa yang bilang kalau aku mau nikah sama Jasmine?"


"Chiro!"


Semua orang langsung memandang Chiro.


"Chiro, Sayang. Kamu bilang seperti itu sama Mommy?"


"Iya. Kan Daddy bilang mau ngasih aku adik yang banyak, dan mau menikah lagi."


"Iya, tapi bukan sama orang lain, tapi sama mommy, Chiro," ucap Arby dengan sabar.


"Benarkah?"


"Iya, dong."


"Tapi ... memangnya mommy mau, menikah sama Daddy?"


Perkataan Chiro itu mengundang tawa sahabat-sahabat Arby yang merasa senang dengan pertanyaan Chiro.


"Iya, tuh."


"Memangnya Freya mau?"


"Awas, entar ditolak malah kejang-kejang."


Ish, enggak sahabat, enggak anak, sama saja. Doyan banget ngebully aku.


"Mau, lah," ucap Arby yakin.


"Jangan pura-pura nolak, kamu kan yang melamar aku duluan," bisik Arby di telinga Freya.


"Kapan? Kamu salah dengar kali, atau lagi mimpi."


Arby hanya mengulum senyum.


"Tenang saja, ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua lagi."


"Lagi? Memang sebelumnya kita punya rahasia berdua saja?"


Mereka malah sibuk bisik-bisik.


"Sudah, jangan dipikirkan. Yang penting kita kawin!"


Freya langsung menoyor Arby yang dibalas dengan kecupan di bibir perempuan itu.


"Belum diterima, woy. Main nyosor aja!" teriak para keluarga dan sahabat.


"Namanya juga kebelet," jawabnya cuek.

__ADS_1


__ADS_2