
"Namanya Sachio Arcana Zanuar Abraham."
"Wah, bagus ya namanya."
Mereka lalu melihat Chiro dan Sachi yang sama-sama memiliki nama bagus itu.
Kalau Chiro nama panjangnya adalah Kichiro Ercan Zanuar Abraham.
Kichiro (putra yang beruntung)
Ercan (Pemberani, hidup, ekspansif, visioner, petualang, dll), selain itu Ercan juga singkatan dari Erlangga dan Canaya.
Sedangkan Sachio (lahir dengan keberuntungan)
Arcana (percaya diri, memimpin dengan berwibawa, mandiri dll) selain itu juga singkatan dari Arby dan Canaya.
"Iya dong, nama anak aku mah semuanya keren-keren, daddy-nya saja keren."
Arby kini menggendong anaknya itu.
"Hai Sachi, ini Daddy kamu yang ganteng."
Tiba-tiba saja air mengalir dari tangan Arby.
"Tuh, Ar. Sachi masih ngambek sama kamu gara-gara dikira perempuan."
Arby mendelik kesal, lalu mengusapkan tangannya yang bekas kena ompol Sachi itu ke jas mahal milik Ikmal.
Ikmal yang jasnya basah, lalu memeluk Marcell, membuat baju dokter yang berwarna putih ikut ikut basah. Ya, begitu terus mereka main meper-meperan.
__ADS_1
"Anggap saja ompolnya Sachi itu jimat, kali kalian bisa cepat punya anak."
"Ho'oh. Punya anak dulu, istri mah belakangan saja, ya."
Telinga Marcell langsung dijewer oleh Frans, pria tua galak dan pemilih.
Arby terus saja memandang wajah Sachi. Wajah Sachi lebih mirip dengannya dari pada Freya.
"Sayang, kamu kok mirip banget sama Daddy, apa takut enggak diakui, ya?"
Bruuttt
Jika tadi Arby diompoli, sekarang dia diberikan minyak wangi alami no abal-abal oleh Sachi.
"Sayang, sepertinya anak kita yang ini sensi banget sama aku," ucap Arby manyun.
"Enggak nyangka, ya, ternyata yang lahir cowok lagi," ucap sang dokter.
"Berarti habis ini bikin lagi kita, Yang."
"No!"
Bukan Freya yang menjawab, tapi kumpulan pria tampan tapi belum sold out.
"Sachi ganteng banget, sih. Aku jadi pengen cepat-cepat punya anak," ucap Nania.
Marcell mulai mengkhayal, gimana nanti nasibnya saat Nania hamil. Apa akan serusuh Freya dan Arby? Pria itu lalu senyum-senyum sendiri.
"Ayah Acell, kenapa senyum-senyum sendiri?"
__ADS_1
"Enggak Chiro, ayah hanya lagi mikiran nanti punya anak sama bunda Nania pasti adiknya bayinya lucu juga, ya."
"Mimpi ayah terlalu tinggi," celetuk Chiro yang sangat mengena di hati dan pikiran.
Marcell berdecak kesal. Dalam hati dia berdoa, jangan sampai nanti Sachi seperti orang tua dan kakaknya.
Sachi sekarang seperti piala bergilir yang dioper dari tangan satu ke tangan yang lain.
Arby kembali memandang wajah Sachi, lalu Chiro. Ingatan-ingatan masa lalu kembali membayangi dirinya. Dia lalu menghampiri brankar Freya, memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, seolah takut kehilangan ... lagi.
Tanpa terasa air matanya menetes.
"Kenapa nangis?" tanya Freya.
"Aku hanya terlalu bahagia."
Bahagia, tapi juga takut. Kenapa semua kenangan buruk itu selalu menghantui diriku? Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah bersamaku apa pun yang terjadi, sampai rambut memutih dan ajal menjemput.
"Kamu kecewa ya, yang lahir laki-laki, bukan. perempuan?"
"Enggak lah, kenapa harus kecewa. Lagian bagus juga sih kalau laki-laki, kan berarti Arjun bisa lebih giat lagi dalam bekerja."
Freya lalu menarik hidung Arby sampai pria itu merintih.
"Jangan tarik yang itu, Yang. Yang bawah aja, nih."
"Dasar!"
"Hehehe."
__ADS_1