Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
159 Makan Banyak


__ADS_3

"Kamu belum selesai juga baca novelnya?" tanya Arby.


"Belum. Lagian aku masih punya banyak yang harus aku baca."


Arby saat ini mengajak Freya ke kantornya, karena ibu hamil itu mengeluh bosan kalau harus di rumah terus, sedangkan Arby ada meeting yang akan diadakan sebentar lagi. Selain itu dia juga takut meninggalkan Freya di rumah saja.


"Sayang, kuda aku harus ke Bali. Kamu sama Chiro ikut, ya."


"Kamu tumben ngajak aku. Biasanya posesif banget enggak boleh aku lelah."


"Aku trauma kalau ke luar kota sendiri. Gimana nanti kalau di kamar aku tiba-tiba ada kuntilanak atau wewe gombel?"


Evan yang saat itu ada di ruangan Arby, meringis sambil mengusap tengkuknya. Entah dia harus merasa lucu atau malah serem sendiri. Kenapa harus mengibaratkannya dengan makhluk halus?


"Iya deh. Aku juga ngajak yang lainnya, ya."


Arby menghela nafas. Kalau sudah begini, pasti para perempuan itu mau ke pantai dan cuci mata.


"Mereka kan kerja, Yang."

__ADS_1


"Sekali-sekali libur. Mereka sudah lama tidak cuti dan sudah mengembangkan klinik sampai seperti ini."


Memang yang lainnya sudah sedikit praktek di rumah sakit milik Arby, karena lebih suka bekerja di klinik. Dan karena sudah banyak dokter yang bekerja di klinik, mereka jadi punya waktu untuk membantu perusahaan keluarga. Ya, sekarang mereka jadi seperti Freya juga. Rei sendiri juga karena berkat Freya, jadi lebih memahami tentang bisnis.


"Kita bertiga saja, ya."


Wajah Freya langsung cemberut.


"Iya deh, kita bertiga saja. Eh, tapi Evan ikut?"


"Iya, kan dia harus menemani aku saat meeting nanti. Kalau kamu dan Chiro mau ikut meeting juga enggak apa."


Mereka masuk dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya.


"Sayang, kamu belum kenyang?" tanya Arby.


"Belum, kan aku hanya makan satu sendok saja."


Iya, setiap jenis makana hanya makan satu sendok. Sisanya aku dan Evan yang harus menghabiskannya.

__ADS_1


Ibu hamil itu benar-benar ingin mencicipi berbagai makanan khas Bali. Dia dan Chiro jalan bergandengan tangan, dan Arby juga menggandeng tangan Chiro. Sedangkan Evan berjalan di belakang mereka sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


Banyak para bule yang melirik ibu hamil itu. Wajah ibu hamil itu memang bersinar, semakin memancarkan auranya. Arby tentu saja tahu itu, dan dia memeluk mendengus kesal.


Kalau nanti anakku perempuan, dia pasti akan digoda oleh banyak pria. Aku harus selalu memasang mata untuk menjaga mereka.


Untung saja Freya enggak mau jalan-jalan ke tempat wisata.


Evan yang tahu bagaimana posesifnya Arby, jadi ikut sibuk juga. Arby menyuruh Evan menjaga dari belakang. Jangan sampai ada yang menyenggol Freya atau mencolek istrinya itu.


Sesampainya di hotel, Freya lalu merebahkan dirinya. Kakinya terasa pegal karena seharian ini terus keluar masuk tempat makan. Di kamar itu juga sudah banyak oleh-oleh untuk yang lain. Arby mendekati Freya dan memijat kaki Freya dengan minyak yang dia bawa dari Jakarta. Kaki itu terlihat bengkak.


"Kamu sudah puas belum, makannya?"


"Memangnya kalau aku belum puas, kamu mau ajak aku makan lagi?"


Arby langsung menggeleng. Dia saja sudah kekenyangan begini.


"Terus ngapain nanya?"

__ADS_1


"Kan basa-basi saja, Yang," ucapnya sambil nyengir.


__ADS_2