Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
29 Taman Bermain


__ADS_3

Hari ini hari yang spesial bagi Erlang. Betapa tidak, hari ini dia, Chiro dan Naya akan jalan-jalan seharian.


"Kita ke mana dulu?"


"Kita ke mall dulu, Daddy."


"Chiro mau shopping?"


"Iya, Chiro mau mommy memilihkan baju, sepatu dan tas buat Chiro."


Mata anak itu berbinar cerah, ini untuk yang pertama kalinya mereka jalan bersama, bagai keluarga utuh yang sebenarnya.


Di mall


"Mommy, ayo kita beli baju couple."


"Daddy juga mau baju couple kaya mommy dan Chiro."


Mereka memasuki toko demi toko. Sebenarnya Erlang ingin memesan baju couple di butik saja, agar tidak ada yang menyamakan, tapi inilah seninya shopping, berburu dan memilih baju, toko demi toko.


Nanti saja, saat aku melamar Freya, baru kita memakai baju couple yang dipesan dari butik.


Pede sekali, memangnya sudah pasti Naya mau menerimanya?


Sepatu, baju, dan tas sekolah untuk Chiro sudah dibeli. Sebenarnya perlengkapan sekolah tak terlalu penting bagi Chiro, karena anak itu sejak dulu memang malas sekolah, bukan karena pemalas atau bodoh. Justru Chiro sangat cerdas, sama seperti Naya, hanya saja anak itu memang susah bersosialisasi dengan orang-orang baru.


Selain itu juga Chiro selalu perpindah tempat, mengikuti daddynya yang sering pergi ke berbagai negara untuk urusan bisnis. Namun berkat kehadiran Naya kembali, sedikit demi sedikit Chiro mau sekolah, dan berbicara dengan orang lain.


"Ada tas dan sepatu sekolah yang baru, Ecan harus rajin sekolah, ya!" ucap Naya.


Naya memang mengatakan harus rajin sekolah, bukan belajar, karena walau tak sekolah, Chiro selalu belajar sendiri di rumah.


"Ecan mau rajin sekolah, tapi kalau Ecan tinggal sama Mommy."


Good Chiro, bujuk mommymu agar mau tinggal lagi bersama kita.


"Kan Ecan sudah tinggal sama daddy."


"Biarkan saja daddy tinggal sendiri."


Eh? Maksudnya, aku ditinggalkan sendiri, gitu? Enak saja! Enggak bisa, enggak boleh!


"Ayo kita beli es krim."


Naya langsung mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah Erlang yang terlihat kesal. Dirinya cukup sadar diri bahwa hak asuh Chiro ada pada Erlang dan dia tidak boleh merebut Chiro begitu saja.


"Aku ke toilet dulu."


Tidak jauh dari mereka, ada seseorang yang diam-diam memperhatikan dan mengambil foto. Dia lalu berjalan mendekati Erlang.


"Daddy, Chiro ...."


Daddy? Apa itu anaknya?


"Halo? Baiklah, aku segera datang."


Orang itu langsung pergi setelah mendapatkan telepon dari seseorang.


Erlang, Chiro dan Naya menikmati es krim mereka. Setelah itu, mereka pergi ke taman bermain. Selain Chiro, tentu saja yang paling senang adalah Naya. Seumur hidupnya dia baru satu kali saja pergi ke taman bermain untuk memenuhi janji dengan Monic (Nuna), setelah itu tak pernah lagi.


Naya dan Chiro saling menunjuk permainan. Erlang seperti membawa dua anak kecil yang kesenangan melihat berbagai macam permainan dan jajanan.

__ADS_1


Kalau dulu kita tak berpisah, pasti kita bertiga akan selalu merasakan kesenangan ini. Tapi aku tak akan pernah menyalahkan kepergianmu saat itu.


"Ayo Daddy, kita naik itu."


Naya menggandeng tangan kanan Chiro, sedangkan Erlang menggandeng tangan kiri Chiro.


Mereka naik komedi putar sebagai pembuka. Chiro memilih kuda, sedangkan Naya duduk di belakangnya. Erlang sendiri lebih memilih berdiri di belakang Naya sambil membelai rambut Naya.


Sekarang ngelus-ngelus rambut dulu, nanti baru ngelus yang lain.


Erlang cekikikan sendiri.


Pasti lagi mikir mesum, deh, batin Naya.


Cup


Erlang langsung mengecup puncak kepala Naya.


"Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan, terus," cibir Naya.


"Kan nostalgia, Yang."


"Nostalgia, mbahmu!"


Bukannya tersinggung, Erlang kembali cekikikan. Memang benar, selama dulu mereka menikah, tak ada hal indah yang mereka jalani, selalu diisi dengan pertengkaran. Mungkin karena usia yang masih terlalu muda. Erlang yang egois, sedangkan Naya yang memiliki sifat keras, yang Erlang sadari, mungkin karena pengaruh didikan opa dan oma Freya.


Erlang sadar tak akan mudah meluluhkan hati Naya, meski kini mereka berdua sama-sama telah dewasa.


Setelah naik komedi putar, mereka melanjutkan menaiki permainan yang lain. Memang tidak bisa menaiki semua permainan, karena Chiro yang masih kecil, jadi tidak memungkinkan menaiki permainan yang ekstreme, walaupun Naya sebenarnya sangat ingin menaikinya.


"Tuan Erlang!"


"Ya?"


"Anda dan Chiro di sini juga?"


"Hm."


Jasmine kini melihat ke arah Naya, lalu tersenyum tipis.


"Kalau begitu kami pergi dulu."


Jasmine melihat kepergian Erlang.


Apa aku punya kesempatan untuk menjadi istrinya tuan Erlang, ya?


"Jasmine!"


"Ngapain sih, Jas?"


"Oh, enggak, aku tadi habis ketemu sama seseorang."


"Oh, ya sudah. Sekarang kita naik apa lagi, ya?"


Mereka lalu kembali memilih permainan.


Erlang membeli tiga topi untuk dirinya, Naya dan Chiro. Juga kaca mata hitam.


"Daddy, enggak sekalian, beli tiga tongkat?"


Erlang langsung menyentil pelan kening Chiro, sedangkan Naya tertawa.

__ADS_1


Menjelang makan siang, mereka memasuki restoran yang menyajikan masakan Jepang. Chiro makan dengan lahap. Dia menyuapi mommy dan daddynya secara bergantian. Begitu juga dengan Naya, yang menyuapi Chiro. Erlang tak ingin kalah, dia memang sudah sering menyuapi Chiro, bahkan sejak Chiro bayi, tapi kali ini modus, dia ingin menyuapi Naya dengan alasan nyenengin hati Chiro.


Dasar!


Lalu dia mengusap sudut bibir Naya, padahal enggak ada apa-apa juga di ujung bibir Naya. Kalau bukan karena ada Chiro di hadapan mereka, pasti sudah dibejek-bejek tuh, si Erlang.


"Aku juga mau dong, Frey, disuapin."


"Makan sendiri!"


"Tangan aku pegel."


"Mommy, suapin daddy. Kasihan daddy kelaparan, kaya orang enggak makan setahun."


Erlang yang tadinya tersenyum dan merasa bangga dengan sang anak, karena mengerti dan bisa diajak kerja sama, kini memberengut.


Enggak makan setahun? Iya, enggak makan, bahkan bertahun-tahun. Tapi si Arjun yang enggak makan. Hiks hiks hiks ....


Karena melihat binar mata Chiro yang mengerjap-ngerjap menggemaskan, akhirnya Naya menyuapi Erlang.


"Suapin pake mulut napa, Frey."


"Dikasih hati, minta jantung."


Erlang yang merasa gemas dengan Naya, menyalurkannya dengan cara meremas paha Naya, membuat Naya terpekik kaget.


"Mommy kenapa?"


"Enggak apa, Ecan."


Naya mencubit paha Erlang.


"Aw, jangan di situ, Frey. Atasan dikit, diremes-remes juga boleh."


Wajah Naya memerah.


"Mommy sakit? Kenapa wajah Mommy merah?"


"Kamu sakit, Yang?"


Sekali lagi Erlang mengambil kesempatan. Dia mengelus-ngelus wajah Naya.


"Ecan, cepat habiskan makananmu. Di sini ada jinnya."


Jin mesum.


Mereka melanjutkan menaiki permainan setelah makan siang dan beristirahat sejenak menurunkan makanan yang ada di dalam perut.


Erlang melihat foto-foto dan video-video sepanjang hari ini. Hatinya menghangat melihat tawa bahagia Chiro dan Freya.


Waktu berlalu, terasa cepat bagi Erlang. Di akhir permainan, mereka menaiki biang lala. Menikmati keindahan kota di malam hari, yang dihiasi oleh lampu kota.


Erlang, Chiro dan Naya duduk bersisian.


Cup


Cekrek


Erlang mengambil foto terakhir perjalanan hari ini dengan dirinya yang mengecup Naya dan Chiro duduk di tengah mereka.


Kembalilah bersamaku dan Chiro, Freya. Aku akan membahagiakan dirimu dan anak-anak kita, hingga maut memisahkan.

__ADS_1


__ADS_2