
Arby langsung membuka kotak berukuran mini itu, dan ternyata isinya adalah ....
.
.
.
.
.
.
.
Empeng
"Empeng, Yang?" tanya Freya.
"Cuma satu?" tanya Arby.
"Ngirit banget dia, ngasih kita cuma satu."
"Benar kata orang, jangan menilai sesuatu dari covernya. Bungkusnya sih gede, eh isinya gak ada setelapak tangan."
"Siapa yang ngasih?"
"CEO?"
"Dokter?"
"Artis?"
__ADS_1
"Karyawan kamu?"
"Jangan-jangan karyawan kamu?"
"Keluarga kamu?"
"Keluarga kamu, kali!"
Setelah tadi perdebatan tentang mana yang harus dipilih, sekarang mereka malah berdiskusi dan tebak-tebakan siapa yang ngasih.
"Kapok aku kalau kalian ngadain acara baby shower lagi!" ucap Vian.
"Acara baby shower lagi? Berati aku dan Freya bakalan punya anak lagi, dong?"
"Asyik asyik asyik ... Chiro mau punya adik lagi. Yang nanti cowok ya, Mom, Dad. Ayo kita siapain kamar baru untuk adik kedua Chiro."
"Vian! Jangan sembarang bicara! Ingat, ucapan adalah doa. Kamu mau kita sengsara lagi? Yang ini aja belum brojol, kenapa sudah menyiapkan bibit kecebong baru, hah!" geram Marcell.
"Ah, Ayah Acel mah ngiri, tuh. Tenang saja Ayah, jangan takut enggak diaku sama adik-adik Chiro, ya! Mungkin nanti ayah harus belajar dari kucing!" ucap Chiro polos tapi menyebalkan bagi Marcell.
"Iya, kan kucing sekalinya melahirkan langsung kembar banyak. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tapi kan ayah belum ada calon istri, ya? Ck ck ck, kacian!"
Wajah Marcell langsung merah padam. Bisa-bisanya dia diledek oleh anak kecil berwajah polos berotak songong ini!
Ini namanya boomerang.
Dia yang kesal dan asal bicara, malah sekarang menjadi korban mulut emak-emak berwujud anak lelaki, dan apesnya, adalah keponakan tersayangnya.
"Ayah bukannya enggak laku, tapi ...."
__ADS_1
"Tapi enggak ada peminatnya! Wkwkwk!" ucap Chiro.
Pengen banget aku pites ni bocah!
"Anak mommy semakin pintar ya, bicaranya," puji Freya dengan mata berbinar dan rasa bangga yang tidak pada tempatnya.
"Iya dong, Mom. Kan nanti aku bakalan jadi CEO. Kata daddy, kalau jadi CEO itu harus keren kaya daddy. Kata Daddy, seharusnya ayah Acell itu training pada Daddy, kiat-kiat mendapatkan cewek cantik anti gagal."
"Apa?" Wajah Freya kini merah, tapi tak semerah Arby.
"Mommy kan enggak tahu, gimana Daddy bisa ngedapetin Mommy ...."
Arby langsung memasukkan empeng yang tadi dia pegang ke mulut Chiro.
"Chiro Sayang, jangan jadi musuh dalam selimut, ya!" ucap Arby.
"Komporin saja Chiro, emak dan bapakmu!" ucap Marcell senang.
Para tamu gemes sekali dengan Chiro. Mereka tahu, saat dewasa nanti, anak laki-laki itu pasti akan seperti Arby yang bermulut pedas.
Semoga nanti dia menjadi menantu aku, batin mereka.
Acara selanjutnya adalah potong kue. Bukan kue sembarang kue. Di potongan kue itu, ada beberapa kertas yang dimasukkan ke dalam kue itu. Siapa yang mendapatkan kue itu, akan mendapatkan hadiah yang tertulis di dalamnya.
Kue yang berwarna pink dan biru itu dibagikan ke para tamu. Ada yang memilih warna biru, ada juga yang memilih warna pink.
"Kita juga makan?" tanya Ikmal cemas.
Mereka melihat para sahabat dan kakak adik Freya sudah makan yang berwarna pink.
"Kita makan yang warna pink saja," ucap Agam nyari aman.
Padahal enggak mungkin juga itu racun, kan. Memang, sejak akrab dengan keluarga dan lingkungan itu, Agam sudah belajar banyak hal.
__ADS_1
Mereka adalah kumpulan orang iseng yang bisa melakukan apa saja untuk membuat suatu kejutan.