Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
203 Tanda Syukur


__ADS_3

Arby membeli lahan di daerah pantai itu untuk membuat vila. Dia juga memberikan banyak fasilitas sosial agar kampung itu lebih berkembang. Mendirikan sekolah, pasar bersih, dan memperbaiki jalan-jalan yang masih berupa tanah.


Anak-anak yang putus sekolah diminta untuk tetap melanjutkan pendidikan mereka. Beberapa hasil dari nelayan juga dipasok ke kafe dan restoran Freya.


Freya juga sebenarnya cukup trauma dengan pantai, tapi karena dia juga seorang psikiater, jadi bisa lebih cepat menangani masalahnya sendiri, berkonsultasi dengan sesama psikiater juga.


Ti J benar-benar bersyukur bisa kenal dengan orang-orang seperti Freya, Arby dan dan yang lain.


"Kalian bisa melanjutkan kuliah. Saya lihat nilai-nilai kalian bagus."


"Kamu belum ada biayanya."


"Enggak perlu pikiran biaya. Itu jadi urusan kami, belajar saja yang rajin. Kalian masih muda, jangan sia-siakan kemampuan. Ambil jurusan yang kalian mau."


Ti J menangis haru.


"Om, Om, jangan nangis. Nanti ingucan."


Ti J langsung mendengus, si bocil ini merusak suasana saja. Dalam hati mereka berjanji akan menjaga anak-anak Freya dan Arby sampai kapan pun. Tidak ada yang boleh menyakiti keempat anak itu, juga calon adik mereka, dan kedua orang tua mereka. Bahkan semua orang-orang yang dekat dengan mereka.


Arby sudah menyiapkan banyak buku untuk mereka baca sebelum mulai kuliah.


"Jadwal kuliah dan bekerja bisa diatur. Kalian juga tidak full 24 jam menjaga anak-anak, karena kalau hanya kami tidak bisa membawa mereka saja, baru mereka akan tinggal di rumah atau ke sekolah."


"Terima kasih banyak Tuan, Nona."

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


Tentu saja banyak yang iri mendengar bertiga tentang Ti J, siapa lagi kalau bukan orang-orang dari kampung mereka. Kok bisa, tukang copet dan pemalak itu mendapat keberuntungan seperti itu?


Ada juga yang berpikiran kalau Ti J malah membawa keberuntungan untuk kampung mereka.


"Kita harus cari tahu nih, di mana mereka sekarang. Jangan mereka saja dong yang bisa dapat enaknya."


"Benar, kita bisa memanfaatkan mereka. Katanya sepasang suami istri itu punya empat orang anak yang masih kecil-kecil."


"Mereka bertiga itu bodoh, makanya enggak berhasil menculik anak-anak itu."


Obrolan orang-orang itu terus saja berlanjut. Membayangkan kalau mereka yang sejatinya bisa mendapatkan banyak keuntungan.


Di tempat Freya


Chiro senang karena dia sudah punya tiga adik laki-laki, jadi dia Sidah tidak pernah Oro lagi sama teman-temannya yang punya adik. Malah sekarang dia yang pamer, karena adiknya mau nambah lagi.


"Kan adik kamu laki-laki semua, enggak ada perempuan."


"Biarin, yang penting aku punya adik." Begitu kata Chiro kalau diledek sama teman-temannya.


...🌼🌼🌼...


Arby sedang sibuk menyiapkan acara syukuran atas kehamilan Freya saat ini. Usia kandungan Freya sudah memasuki empat bulan, itu juga yang melatar belakangi dia mengembangkan perekonomian di kampung itu, sebagai tanda syukur.

__ADS_1


Ti J ikut membantu dalam banyak hal. Mereka yang masih muda, dan gampang dimintai tolong oleh siapa pun, menjadikan mereka mudah berbaur dengan siapa pun.


Entah itu menyapu, mengepel, memotong sayur atau hal lainnya. Mereka yang sebelumnya memang pintar bela diri, juga ikut berlatih bela diri dengan anak buah Mico dan yang lain.


Anak-anak Arby juga sudah diajari ilmu bela diri, meski masih kecil. Ya walaupun akhirnya tetap saja rusuh, karena anak-anak itu bukannya melakukan gerakan bela diri malah joget-joget.


"Guk angguk angguk angguk angguk angguk angguk ...."


"Leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng ...."


"Pucing ... pucing ...."


Mereka yang melihat aksi anak-anak itu lebih pusing lagi. Enggak tahu apa, mereka!


.


.


.


.


Aku punya cerita baru. Baca, ya. Babnya udah banyak, jadi bisa maraton.


Bacaan ada warningnya, ya😅 21+

__ADS_1



__ADS_2