
Arby berlari sepanjang lorong rumah sakit sambil menggendong Freya.
"Dokter, cepat periksa istri saya. Saya mau dia di USG, rontgen, CT Scan dan semua pemeriksaan menyeluruh," teriak Arby.
"Aku enggak apa-apa," ucap Freya tapi Arby tetap kekeh untuk memeriksa istrinya itu.
Di belakang mereka, semua keluarga datang. Entah siapa yang lebih marah karena keadaan ini.
"Kenapa hal ini bisa sampai terjadi? Memangnya tidak ada jalan lain selain perkelahian, hah?" bentak Frans.
Bukan hanya Frans saja yang marah, tapi semua orang dewasa itu juga. Orang tua, kakek, nenek, om, tante. Semuanya ...!
Mereka melihat satu persatu para anak muda yang bertampang berantakan itu.
Wajah para pria yang bonyok, kusut dan tak karuan lagi. Para perempuan yang sudut bibirnya juga berdarah, bekas cakaran, rambut yang awut-awutan.
"Awas saja kalau terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anakku!" ucap Arby. Pria itu juga tidak kalah berantakannya. Bajunya sobek, noda darah, muka bonyok.
Tangisan juga tidak berhenti.
Mereka semua berantakan. Semua keluarga yang berusia muda menunduk dalam, tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka. Kakak adik Freya, sepupu juga diam saja.
Orang tua Freya juga sangat syok, bagaimana bisa ketiga putri mereka juga terlibat dalam perkelahian ini?
Dokter dan perawat yang lain datang. Meringis melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka, lalu mengobati mereka satu persatu.
__ADS_1
"Kalian ini kan seorang dokter, kenapa bisa berkelahi seperti preman seperti ini?" tunjuk Arlan pada Nuna, Nania, Aruna, Rei, Marcell dan Agam.
"Dan kalian juga, kalian ini pengusaha, kenapa tidak bisa mengendalikan diri?"
"Dan kamu Mico, kamu ini pengacara, seharusnya yang paling mengerti!"
Rasanya kepala para orang tua itu mau pecah.
"Cepat urus semuanya. Tutup mulut para media, juga para saksi. Jangan sampai ada berita yang tersebar!" ucap Carles.
"Sudah aku lakukan sejak tadi!" ucap Mico angkuh.
Dia menyeka sudut bibirnya.
"Ibu dan janinnya baik-baik saja. Tidak ada masalah apa pun."
"Tidak ada patah tulang, kepalanya juga baik-baik saja, kan? Tidak ada luka dalam, kan?" tanya Arby beruntun.
"Tidak ada. Semuanya masih aman."
Arby bernafas lega, dia lalu duduk begitu saja di lantai. Dia tidak peduli dengan ocehan yang mereka berikan.
"Jangan marah-marah terus, Eyang. Pokoknya Eyang enggak boleh marahi mommy Chiro."
"Enggak, eyang enggak marah sama mommy Chiro."
__ADS_1
Para perempuan muda itu duduk merapat. Mereka ikut lega mendengar Freya baik-baik saja. Kalau terjadi sesuatu, salah mereka lah!
Arby mengepalkan tangannya. Rasa dendamnya membara, meski tidak terjadi hal buruk pada Freya, tapi dia tidak terima Freya diperlakukan seperti itu.
Para perempuan saling bisik, sibuk dengan rencana mereka. Nuna sendiri diam bagai patung, seolah tak bernyawa.
Para pria juga saling pandang, memberikan pengertian satu sama lain. Ikmal mengepalkan tangannya saat melihat Nuna yang air matanya tidak berhenti mengalir.
Ini bukan hanya penghinaan bagi mereka. Hati yang tersakiti harus dibayar lunas.
"Jangan bertindak gegabah!" ucap Arlan, yang mengerti jalan pikiran mereka.
Pintu ruangan UGD terbuka. Perawat mendorong brankar Freya. Wajah perempuan itu juga masih terlihat sembab. Sudut bibirnya memar, ada bekas cakaran di wajah dan lengannya. Hati Arby teriris melihat itu, sedangkan Chiro menangis dalam diam melihat mommynya yang kembali masuk rumah sakit.
.
.
.
.
Bingung ya, kok gini ceritanya? Emangnya ada apa? Ini bagian dari cerita 💧 JODOH UNTUKNYA 💧
Jadi cari tahu apa yang terjadi di cerita itu. Tapi nanti, bukan sekarang karena bab tentang ini masih lama kayanya, kecuali aku rajin up🤣
__ADS_1