
Chiro menatap aneh pada daddynya. Sejak tadi Erlang senyum-senyum sendiri, lalu terlihat kesal, senyum-senyum lagi, lalu kesal lagi.
Itu karena dia ingat kejadian tadi siang, di mana Naya memeluk dan mencium bibirnya, yang membuatnya tersenyum, tapi juga mengingat Angel yang menyakiti Naya, membuatnya kesal.
"Daddy, are you crazy?"
"Yes, i'm crazy because love," ucap Erlang tanpa sadar.
Chiro langsung mengambil ponselnya.
"Mommy, Mommy, daddy crazy."
Sontak perkataan Chiro itu menyadarkan Erlang dari lamunannya. Erlang langsung menyambar ponsel dari tangan Chiro, dan melihat kontak yang dihubungi oleh anaknya itu.
"Kenapa, Ecan?"
Erlang langsung mengatur suaranya.
"Frey, aku sakit. Bisakah kamu ke sini?"
"Sakit apa?"
"Aku meriang."
"Meriang?"
"Iya, meriang."
Merindukan kasih sayang.
"Tolong kamu ke sini, kasihan Chiro sejak tadi."
Erlang langsung mengedip-ngedipkan matanya pada Chiro saat anak itu menatapnya, agar mau di ajak bersekongkol.
"Kenapa tidak panggil Marcell saja?"
"Marcell tadi sore ke Bandung."
Tapi bohong.
"Lalu dokter keluargamu?"
"Lagi ada operasi."
Mana aku tahu mereka lagi apa.
"Ya sudah, aku ke sana."
__ADS_1
Yes, berhasil.
Naya langsung memutuskan panggilan itu.
"Chiro, nanti kalau mommy tanya, bilang saja daddy sudah sakit sejak tadi sore. Muntah-muntah dan tidak nafsu makan, ya."
"Daddy hamil?" tanyanga polos.
Rasanya Erlang ingin pingsan beneran mendengar pertanyaan Chiro itu.
"Enggak, Chiro."
"Berarti Chiro enggak punya dede bayi, dong."
"Chiro mau punya dede bayi?"
"Iya, Daddy."
"Berarti Chiro harus bujuk mommy buat nginap di sini."
"Kalau mommy nginap di sini, Chiro akan punya adik?"
"Sudah, Chiro jangan banyak nanya, ya."
Takut juga dia, kalau salah jawab.
Berdasarkan pengalaman, Naya tidak percaya begitu saja kalau Erlang beneran sakit. Erlang kan pasien gadungan.
"Ayo, aku periksa dulu."
Setelah memeriksa Erlang, Naya lalu mengeluarkan jarum suntik, membuat wajah Erlang pucat beneran.
"Buat apa, itu?"
"Buat nyuntik kamu, lah. Ini buat anti biotik."
Melihat jarum suntik yang panjang dan runcing itu, Erlang langsung panas dingin.
Ya jelas, lah. Sakitnya bohongan, suntiknya kok beneran.
"Jangan!"
"Kenapa jangan?"
Dalam hati, Naya menahan tawa. Dia memang sudah tahu bahwa Erlang memang pura-pura sakit.
"Ada cara lain biar aku cepat sembuh?"
__ADS_1
Naya menyipitkan matanya.
"Apa? Skin to skin?"
"Nah, itu tahu. Kamu memang dokter jenius."
"Ayo Ecan, tinggalkan saja daddymu, itu."
"Ayo, Mommy main saja Ecan. Ecan enggak nakal kaya daddy."
Erlang memberengut, tadi sebelum Naya datang, katanya mau nurut sama daddynya, sekarang mommynya datang, langsung berubah haluan.
Erlang langsung ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi tidak sempat dia selesaikan, sedangkan Chiro dan Naya di ruang tv.
Naya dan Chiro menonton film animasi. Bersama Chiro, membuat hati Naya senang. Dia seperti kembali ke masa kecilnya yang monoton. Dulu dia tidak pernah nonton film anak-anak.
Tiba-tiba pandangan mata Naya meredup. Dia mengusap ujung matanya yang basah. Dia memeluk Chiro dengan sangat posesif, seolah takut tidak dapat merasakan kehangatan pelukan itu lagi.
"Mommy, Mommy nangis?"
"Enggak, mommy hanya mengantuk."
Chiro memeluk Naya, pelukan yang sangat dia sukai dibandingkan apapun di dunia ini.
Erlang ke luar dari ruangan kerjanya dua jam kemudian, dan melihat Naya dan Chiro yang ketiduran di sofa sambil berpelukan.
Alhamdulillah, mereka ketiduran.
Bersyukur karena rencana liciknya bisa dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan.
Dia lalu memindahkan Chiro ke kamarnya, lalu memindahkan Naya ke kamarnya juga. Erlang mengusap-ngusap dagunya, memikirkan posisi yang paling tepat agar terbebas dari tuduhan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Di gesernya tubuh kecil Chiro.
Untung saja kasurnya sudah aku ganti dengan yang lebih besar.
Lalu Erlang menyusup ke tengah antara Naya dan Chiro. Tidak hanya sampai di situ, Erlang juga menarik tangan Naya dan meletakannya di atas perut Erlang, seolah Naya lah yang memeluknya.
Ya ampun, cerdas banget aku.
Erlang terkekeh, dia malah jadi tidak bisa tidur, takut kalau semua ini hanya mimpi. Ada di tengah-tengah orang yang sangat berarti dalam hidupnya, tentu saja membuatnya bahagia, meski pun harus dilakukan dengan cara licik.
Biarlah dia egois, karena sejak dulu dia.memang egois, melakukan apa saja demi bisa bersama orang yang dicintainya, termasuk menikah muda.
Tubuh Naya menggeliat pelan dalam satu dekapan Erlang. Sedangkan Chiro, kaki kecilnya mengait ke paha Erlang.
Perlahan mata Erlang terpejam, mulai pergi ke alam mimpi, tanpa memikirkan besok di amuk Naya atau tidak.
__ADS_1
Besok ya, besok. Yang penting sekarang tidurnya hangat.