
Sepanjang jalan, mereka selalu bergandeng tangan. Menikmati liburan dan menyenangkan hati keluarga kecil ini. Sudah beberapa hari mereka ada di negara ini, rasanya Arby jadi enggak mau pulang.
"Biasanya kalau kita habis pulang liburan, pasti ditanya oleh-oleh, Yang, sama keluarga kita," kata Arby.
"Ini kan udah kita belikan untuk mereka."
"Bukan, biasanya kita ditodong dengan pertanyaan, kapan kasih adik biar Chiro?"
Pluk
"Aw, apaan sih, Yang? Ngode, ya? Pengen, ya?"
"Chiro bukannya sudah punya adik lagi, tapi udah kaya punya pasukan dia, yang ini juga nih, di dalam perut."
"Hehehe."
Mereka saat ini bisa leluasa mengobrol, karena anak-anak mereka sudah tidur akibat kelelahan dan kekenyangan.
Arby mengusap-usap perut Freya, tidak sabar menunggu kelahiran anaknya ini.
Dia juga sudah membelikan beberapa kebutuhan bayi untuk anaknya.
"Dede kangen ya sama Daddy? Mau ditengokin?"
"Mau Daddy, mau banget!"
"Beneran?"
"Iya, Dadd."
Dia yang nanya, dia sendiri yang jawab.
Freya memicingkan matanya, modusnya gak ketulungan.
"Tuh, Yang. Denger sendiri, kan? Dede mau ditengokin. Dia iri masa, dari tadi Abang-abangnya terus yang diperhatikan."
__ADS_1
Ingin sekali Freya menggetok suaminya ini.
"Minta digetok?"
"Digetok pake cinta?"
"Pake palu."
"Palu asmara."
"Aku serius."
"Aku tahu, i love you too."
Sabar, sabar!
"Daddy ...."
"Daddy ...."
Ichi dan Ishi datang memisahkan Arby dan Freya. Bari saja Ichi ingin minta dipangku oleh Freya, Arby langsung menggendongnya.
Ar y menggendong keduanya, yang masih mengantuk. Setelah itu Chiro dan Sachi juga bangun.
"Kalian mandi, habis itu kita jalan-jalan lagi."
Chiro langsung memandikan Sachi, sedangkan si kembar masih nyaman dalam gendongan pria itu.
"Kamu aku saja yang mandiin, Yang."
Mulai lagi, deh.
Arby lalu mengajak si kembar mandi, berendam dengan balon bebek.
Freya memakaikan baju Sachi dan Chiro, tetap harus bersikap adil pada Chiro, meski anak itu memang sejak dulu sudah mandiri.
__ADS_1
"Makasih, Mommy." Chiro mengecup pipi Freya, begitu juga Sachi.
"Daddy juga mau."
Chiro dan Sachi mengecup pipi Arby, lalu Arby mengecup pipi Freya. So kembar juga tidak mau kalah.
Arby dan Freya terkekeh pelan, merasa senang memiliki keluarga yang kompak. Tidak ada yang merasa iri.
Mereka keluar hotel, mencari makanan yang hangat untuk malam ini. Meski sudah memiliki empat anak, Freya dan Arby tetap saja terlihat mesra, seperti orang yang baru berkencan.
Mereka masuk ke restoran khas Jepang dan mencari tempat duduk.
Berbagai jenis makanan Jepang dipesan. Arby meletakkan daging ke atas mangkuk Freya dan anak-anaknya.
"Ayo, kalian harus makan yang banyak."
Chiro juga mengambilkan makan untuk adik-adiknya.
Arby menuangkan teh yang ada di dalam teko. Tidak jauh dari mereka, para bodyguard juga makan dengan tenang, sambil tetap mengawasi sekitar.
Selama di hotel, Ti J selalu latihan menggunakan sumpit, jadi sekarang sudah mulai terbiasa.
"Kalau begini terus, lama-lama kita gendut," bisik Jan pada Jon dan Jun.
"Ho'oh. Kalau enggak dimakan juga sayang, enak-enak banget."
Yang lain menggelengkan kepalanya mendengar percakapan mereka. Bodyguard kok, enggak ada jaim-jaimnya.
"Mimpi apa kita ya, bisa jalan-jalan ke luar negeri dan makan enak terus tiap hari?"
"Ini namanya rejeki anak soleh."
"Anak soleh apaan, mantan preman begini."
"Preman apa?"
__ADS_1
"Preman pensiun."
Ketiganya tertawa sendiri karena percakapan mereka.