
Mobil melaju ke rumah sakit. Selain harus memeriksakan kondisi kesehatan anak-anak itu, para perempuan juga ada di sana karena Freya dilarikan ke rumah sakit.
Arby menatap anak-anaknya yang terlihat sangat lemah. Dehidrasi dan kurang makan. Makanan yang tidak seberapa itu harus dibagi-bagi untuk beberapa orang dan dalam waktu berjam-jam. Di sini, tentu saja Chiro yang harus mengalah kepada adik-adiknya, juga ada Radhi yang juga harus mengalah pada adik-adik yang lain.
"Apa yang harus kita katakan pada mereka?"
"Ck, yang harus kita lebih takutkan, Freya."
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Beberapa bodyguard sudah menunggu dan memberi tahu kamar rawat Freya.
"Sayang."
"Mommy."
"Mommy."
"Mommy."
"Mommy."
Mereka memanggil Freya seperti sedang mengabsen diri mereka sendiri.
"Katakan, siapa penjahat yang sudah berani menculik anak-anak mommy, hah?"
"Mommy, maafkan Chiro yang tidak bisa menjaga adik-adik."
"Bukan salah Chiro. Terima kasih Sidah menjaga adik-adik." Freya memeluk Chiro, mengecup seluruh area wajah anak itu.
Dia merasa kesal saat melihat anak-anaknya dan semua keponakannya yang terluka. Lalu dia mendelik kesal pada Mico.
"Iya, maaf." Lebih baik pria itu minta maaf lebih dulu, sebelum kena semprot lebih banyak lagi.
__ADS_1
Kita istirahat di sana saja semuanya. Sidah terlalu malam.
Ya, kamar ini memang berukuran sangat luas. Mengingat masa lalu, di mana Freya pernah terbaring sakit selama berbulan-bulan, membuat kamar ini seperti rumah mereka sendiri.
Dokter sudah memeriksa semua anak itu. Memberikan vitamin. Arby juga Sidah memesankan makanan untuk mereka dan membuat susu untuk anak-anaknya dan keponakan-keponakannya.
Rei dan yang lain ikut mengambil bagian, dan dalam hati bersyukur tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi. Bagaimana kalau salah satu dari mereka kembali tanpa nyawa?
Membayangkan saja, mereka sudah ketakutan dan ingin menangis. Jika mereka yang hamil saat ini, mungkin bukan hanya pendarahan saja, tapi sudah keguguran karena terlalu syok.
"Untung saja Freya sangat kuat."
...🌺🌺🌺...
Para bodyguard yang terluka sudah diobati di rumah sakit.
Ti J sedang berbaring berjejer, sedangkan para bodyguard yang lain ada yang duduk, ada juga yang berbaring.
Jan, Jon dan Jun sedang menerawang, kamu tiba-tiba cekikikan sendiri, membuat suasana sedikit horor di dalam kamar rumah sakit ini.
Bukannya menjawab, Ti J malah semakin tertawa.
"Jangan-jangan mereka kesurupan jin rumah sakit."
"Atau bisa saja mereka kesurupan jin pelabuhan," ucap yang lainnya.
Byur
"Sialan!"
"Brengsek!"
__ADS_1
"Kamvret!"
Senior berbadan besar itu menyiram Ti J dengan air. Jangan sampai tubuh mereka yang sudah lelah dan luka-luka ini, harus dipaksa bertarung lagi dengan jin yang melakukan kudeta di tubuh si Ti J.
"Hei Jin, keluarlah dari tubuh Jan Jon dan Jun ... Jin!"
"Jangan sampai bos tahu ini, ini memalukan kita sebagai para bodyguard profesional."
"Apaan sih, Bang."
"Kita ini kembar tiga, bukan kembar empat dengan si Jin Jin enggak jelas itu."
"Ngapain kalian cengar-cengir gitu?"
"Kita kaya lagi main film ya, Bang?"
"Ho'oh. Bikin deg-degan."
"Sayang tadi enggak direkam, terus kirim ke mommy."
"Heleh, mommy. Biasanya juga manggil emak."
Dug
"Wadowww!"
Kepala mereka dijedotkan oleh senior mereka.
"Tidur kalian!" perintah sang senior.
"Peluk!"
__ADS_1
Senior mereka melotot.
"Iya, Bang, iya. Hep e nes dlim (Have a nice dream) ...."