Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
225 Tidak Rewel


__ADS_3

Arby memandang para kesayangannya yang sedang terlelap dengan nyenyak dibuai mimpi. Dia tersenyum, merasa benar-benar bahagia akan pencapaiannya selama ini.


Bukan pencapaian dalam pekerjaan, tapi dalam berkeluarga. Memiliki istri cantik dan cerdas plus galak. Juga anak-anak yang lucu dan menggemaskan, plus rusuh. Apalagi sebentar lagi akan ditambah anggota baru.


Dia menoel-noel pelan pipi para kesayangannya itu. Kamarnya memang akan menjadi teman ternyaman untuk anak-anaknya, walaupun sudah punya kamar terpisah dari kedua orang tuanya, tetap saja mereka menjajah kasurnya.


Dan kalau sudah begini, maka Arby bisa berjam-jam memandang mereka sepuas mungkin.


Dia kemudian mengusap perut Freya, merasakan ketenangan di perut itu. Anak yang dikandung Freya kali ini tidak rewel, tidak banyak maunya. Justru Arby yang khawatir, dia ingin anaknya itu meminta banyak hal padanya, misalnya saja ingin makan bubur sumsum tengah malam, bubur merah putih, atau minta ditengok juga boleh.


Kalau tangan Arby lebar dan panjang, ingin sekali dia merengkuh semuanya dalam satu pelukan hangat.


Melihat mereka yang seperti ini, membuat pria banyak anak itu selalu baperan. Pria itu akhirnya menguap juga, ingin segera bergabung dengan mereka, tapi melihat ke kasur, Arby malah menghela nafas.


Aku tidur di mana?


Posisi tidur si kembar sudah menyerupai huruf X, ngabis-ngabisin tempat.


Arby sedikit menggeser tubuh Freya, membuat istrinya itu bergumam pelan. Dia akhirnya bisa juga tidur di sebelah Freya, tanpa halangan dan bisa memeluk sepuasnya.


Arby mengeluh pelan, rasanya baru saja dia memejamkan mata, tapi tubuhnya terasa berat. Di usianya matanya sedikit, dan melihat ketiga bocil sudah duduk di atas perutnya.


"Kalian bertiga berat, tahu!" katanya pelan.

__ADS_1


Cup


Arby tersenyum saat ketiga bocil itu mengecup pipinya.


"Pasti ada maunya. Mau apa kalian pagi-pagi begini?"


"Mau naci goleng."


Arby lalu bangun perlahan, melihat Freya yang masih tidur.


"Abang mana?"


"Abang lagi buat susu."


Tapi tidak lama kemudian Freya ikut bangun, dia ada jadwal ke rumah sakit hati ini.


Arby membuatkan sarapan untuk mereka, meskipun ada banyak koki di rumah itu.


"Duduk yang anteng, jangan ngerocikin, nanti rasanya awur-awuran lagi!"


Freya sendiri menyiapkan bekal yang lucu-lucu untuk mereka semua, termasuk Arby. Pasti lucu kalau orang-orang melihat seorang Presdir seperti Arby membawa bekal ala anak-anak.


Freya jadi tertawa sendiri. Dia sudah memasukkan bekal-bekal iri ke dalam kantong kecil berserta susu kotak berbagai rasa. Satu rasa saja memang tidak akan cukup untuk anak-anaknya.

__ADS_1


Mereka makan bersama, menikmati nasi goreng seafood buatan Arby.


"Nanti di sekolah main sama teman-teman ya, jangan tidur lagi. Nurut apa yang ibu guru bilang," kata Freya.


"Iya, mommy."


Freya mengusap kepala anak-anaknya.


Setelah semua siap, Arby mengantar anak-anaknya dulu. Untung saja anak-anaknya ada di lingkungan sekolah yang sama, jadi bisa sekalian dan tidak membuang waktu.


"Nanti selesai di rumah sakit jam berapa?"


"Cuma sampai jam sebelas."


"Nanti aku jemput."


"Memangnya kamu enggak sibuk?"


"Ya tinggal suruh aja Steven dan Didi. Jemput kamu lebih penting."


Mereka tiba di rumah sakit, dan di loby mereka bertemu dengan yang lainnya.


"Jagain Freya, ya!"

__ADS_1


"Iya, kapan sih kamu enggak jagain Freya," ucap Marcell.


__ADS_2