Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
118 Ngumpet-ngumpet


__ADS_3

"Kamu lucu banget sih, kalau lagi cemburu gitu."


"Aku enggak cemburu ya! Buat apa aku cemburu dengan perempuan enggak jelas begitu. Dasar cewek centil!"


"Dia enggak centil, Feya."


"Tuh kan, kamu manggil aku Feya. Pasti lagi terkenang dia, kan!"


Arby menghela nafas.


"Feya itu, ya kamu, Freya."


"Nih, lihat!" Arby langsung membuka dompetnya, menunjukkan foto gadis kecil berkuncir kuda dengan baju warna merah.


Loh, ini kan aku.


Tentu saja Freya tahu itu dirinya, dari foto-foto yang ada di rumah orang tuanya.


"Masih cemburu?" Arby menaik turunkan alisnya.


"Kamu enggak boleh loh, menjelek-jelekkan bidadari kecilku, yang imut, ngegemesin, cantik."


Wajah Freya memerah. Dia menoleh ke samping, melihat orang-orang yang sedang menahan tawa. Freya memicingkan matanya, mereka langsung mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Ingat, hilang ingatan bukan berati galaknya juga ikut hilang.


"Aku minta pertanggung jawaban kamu," ucap Arby.


"Tanggung jawab apaan?"


"Kamu kan selama satu minggu ini sudah salah paham sama aku. Mendiamkan aku, enggak meluk dan nyium aku. Aku minta ganti rugi, lah."


"Ganti rugi apaan?"


Bukannya menjawab, Arby langsung menggendong Freya seperti karung beras.


"Aaa, kamu mau apa? Turunin!"


Chiro yang melihat itu, lalu mengikuti daddynya dengan wajah kesal.


Mendengar kata-kata bikin baby, membuat Chiro menghentikan langkahnya. Dia lalu berbalik arah, lalu duduk di sofa dan melanjutkan kembali membaca buku Harry Potter. Dia sedang membayangkan, kalau dia punya tongkat sihir, kutukan apa yang bisa dia layangkan untuk daddynya kalau membuat mommyny marah dan menangis.


"Jangan macam-macam, Arby, di sini banyak orang," protes Freya sambil memukul punggung Arby.


"Ya kita bikin babynya ngumpet-ngumpet lah, di kamar," jawabannya santai dan sangat tidak tahu malu.


"Woy Arby, ini bukan rumah kamu. Jangan berbuat sembarangan!" teriak Marva.

__ADS_1


Arby tentu saja pura-pura tidak mendengar.


"Yang belum pernah merasakan, jangan pada kepo!" teriaknya.


Brak


Pintu kamar ditutup dengan kencang. Tentu saja wajah yang lain langsung merah. Kenapa jadi mereka yang malu? Dan kenapa mereka punya saudara yang memalukan seperti itu.


Di dalam kamar, Arby menciumi seluruh wajah Freya dengan gemas.


"Aw, sakit! Kamu mah digigit!" keluh Freya.


"Aw, jorok! Kamu mah dijilat!" Sekali lagi Freya mengeluh.


Arby hanya terkekeh. Dia lalu memeluk Freya dengan kencang, benar-benar gemas dengan istrinya itu.


Untung saja Freya cemburu pada dirinya sendiri. Coba kalau cemburu sama perempuan lain, bisa lebih gawat lagi, nasibku.


Arby juga jadi teringat lagi kedekatannya dengan Nuna dulu, yang benar-benar semakin merusak hubungan antara mereka. Lalu kehadiran Angel, yang semakin memperparah keadaan.


Tidak, jangan sampai lagi hubungan aku dengan Freya kacau karena perempuan lain, atau pria lain. Aku hanya milik Freya, dan Freya hanya milikku. Si gadis berkuncir kuda pemikat hati. Bidadari hatiku.


Di luar, yang lain sedang ber-travelling pikiran. Mereka berpikir, akan berapa ronde yang sanggup Arby lakukan untuk ganti rugi waktu satu minggu ini. Nania terkikik sendiri, membayangkan nasib sahabatnya itu.

__ADS_1


Gempor, gempor deh, tuh!


Nuna sendiri wajahnya memerah, lalu menggelengkan kepalanya. Si Arby itu memang suka merusak pikiran polos seseorang. Mereka lalu melihat Chiro yang menggumamkan beberapa kutukan yang dia baca dari buku itu.


__ADS_2