Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
206 Ngungsi


__ADS_3

Arby bersorak gembira sambil joget-joget. Dia baru saja mengirim paketan ke rumah kedua orang tuanya. Paketan itu adalah anak-anaknya, jadi dia sekarang bebas meluk-meluk Freya.


"Senangnya hatiku, uye ... uye ...."


Sementara di jalan, ketiga anaknya sedang komat-kamit, seolah sedang membacakan paketan dalam tanda kutip, biar nanti malam Daddy-nya enggak bisa bobo. Enak saja mengungsikan mereka ke rumah kakek neneknya tanpa mommy.


Sesampainya di rumah kedua orang tua Arby, Sachi dan si kembar langsung menangis.


"Opa, Oma, Daddy ucil kita ...."


"Ayo kita gucul Daddy, Opa."


"Mommy dicabotace cama daddy."


Chiro hanya bisa menghela nafas. Sepanjang jalan, dia sudah mendengarkan curahan hati ketiga adiknya, yang langsung merasa menjadi anak terlantar.


"Cup cup cup, sayang-sayangnya opa dan Oma."


"Daddy cudah dulhaka cama kita, opa."


"Nanti jadi pilal (viral) ya, ceolang daddy tega megucil anak-anaknya tanpa bekal makan dan minum."


Bukannya kasihan, kedua orang tua Arby malah tertawa kencang.


Ngidam apa sih Freya saat mengandung mereka?


Tanpa bekal makan dan minum, tapi kok mulutnya belepotan makanan?


Elya langsung membawa keempat anak itu ke kamar atas. Menyiapkan baju ganti untuk mereka.


Arlan sidah menyiapkan banyak mobil-mobilan dan robot-robotan di ruang bermain. Dia sangat senang keempat cucunya itu mau menginap di sini, yang bagi Sachi dan si kembar, kalau mereka itu diusir.


"Kalian sudah makan?"

__ADS_1


"Belum."


Maksudnya belum tiga kali.


Berbagai macam hidangan, juga kue-kue sudah dibuatkan. Tentu saja keturunan mereka harus makan makanan yang sehat. Padahal mereka sudah gembul-gembul.


Mereka makan dengan banyak, Meksi Sachi dan si kembar makannya berantakan, tapi mereka tidak mau disuapi kalau bukan oleh Freya atau Arby.


"Kita PHK saja Daddy, nih."


Di rumahnya, kuping Arby terus saja berdengung, tapi tetep saja dia tidak mau berhenti memeluk Freya. Jarang-jarang dia bisa seperti ini.


"Sesak, By."


"Tapi tak sesesak hatiku tanpa dirimu."


Freya menahan senyumnya, bersama Arby membuat hari-harinya selalu berwarna.


"Anak-anak gimana, ya?"


Merantau?


Akhirnya Arby dan Freya cekikikan, sedangkan anak-anaknya sedang fokus dengan pikiran mereka. Seolah itu akan memberi sinyal kegaduhan dari jarak jauh untuk Arby.


"Pidio call aja."


"Puyang aja yuk, nanti mommy nangis gak ada kita."


Sachi lalu melirik ponsel kakeknya yang tergeletak di meja.


"Halo?"


"Papi, diculuh Daddy ke lumah cekalang. Ajak papi papa ayah cama cemuanya."

__ADS_1


"Kalian di mana?"


"Di lumah opa. Lagi ngungsi."


"Enggak usah telepon Daddy cama mommy, ya."


Arby masih saja memeluk Freya. Usia kandungan Freya sudah semakin membesar. Perempuan itu semakin menggemaskan juga di mata Arby, tapi menyebalkan di mata sahabat Arby, karena banyak maunya.


Arby mulai sudah membayangkan seharian ini dia akan terus bersama Freya, tanpa ada yang merusuh. Baru membayangkannya saja, dia sudah senang.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu."


"Masih pagi, By."


"Ya mumpung masih pagi, biar puas sekalian."


Dikecupnya seluruh area wajah Freya. Terasa sangat lembut dan mulus, juga pastinya wangi. Dia selalu bersyukur bisa bersama kembali dengan Freya, bahkan anak mereka sekarang mau lima.


Bari saja Arby ingin melepaskan kaosnya, terdengar suara gaduh.


"Arby ... Freya ... kami datang. Katanya kalian berdua lagi kena firus, ya? Makanya anak-anak pada ngungsi," teriak Marcell dari ruang tamu dengan teriakan yang sangat nyaring.


Arby menggeram kesal.


"Siapa yang bikin rencanaku gagal, woyyy!"


.


.


.


Yang masih ada vote, kasih ke sini ya. Kasih ke cerita terbaruku juga boleh 🤗

__ADS_1


Sambil nunggu yang ini update, bisa baca yang itu🤩


__ADS_2