Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
31 Pulang


__ADS_3

Meskipun tidak ditahan atas jaminan, namun Naya tidak diizinkan ke luar kota, apalagi ke luar negeri.


Pihak kepolisian telah mengantongi beberapa bukti, ditambah saksi ahli yang memberikan keterangan yang dibutuhkan dalam proses penyidikan.


"Seorang pasien, harus memberikan keterangan secara menyeluruh tentang sakit yang dideritanya kepada dokter yang memeriksa, begitu juga obat yang dikonsumsi, baik itu penyakit dan obat yang diperiksa dan diberikan oleh dokter yang sama, atau oleh dokter lain. Tidak boleh ditutup-tutupi, karena alasan apapun, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat."


Dokter dan ahli farmasi memberikan keterangan tentang suatu penyakit yang obatnya terdapat interaksi yang berbahaya, yang pastinya juga dipengaruhi oleh tingkat kesehatan pasien tersebut.


"Misalnya, minum obat tertentu, seperti aspirin atau obat diuretik, adalah pantangan yang harus dihindari oleh orang dengan asam urat. Karena kedua obat ini dapat meningkatkan kadar asam urat. Oleh karena itu, pasien yang menderita asam urat harus menghindari konsumsi obat ini kecuali atas rekomendasi dari dokter."


Penjelasan lebih lanjut terus diberikan.


"Tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh dokter Canaya, karena dokter Naya sudah memberikan pertanyaan kepada oasien tentang obat atau penyakit lain yang dikonsumsi atau diderita."


"Kesalahan terdapat pada pasien. Pasien ini bukan pasien pribadi dokter Canaya, jadi dokter Canaya hanya memiliki data penyakit yang saat itu diperiksakan oleh pasien."


"Diuretik ini ada tiga jenis. Selain itu, meminum aspirin dan diuretik ini pun, harus mengikuti aturan dan tidak boleh dikonsumsi sembarangan."


Setelah mendengar keterangan saksi dan bukti-bukti yang ada, Naya akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan dan izin prakteknya dikembalikan.


"Saya sebagai kuasa hukum dari dokter Freya Canaya, ingin menuntut penggugat karena pencemaran nama baik, dan saya ingin kalian melakukan konferensi pers, permintaan maaf dan membersihkan nama baik dokter Canaya khususnya, dan rumah sakit, umumnya," ucap Mico.


.


.


.


Dua bulan kemudian


Naya, Monic, Letta, Zilda dan Kirei diutus untuk bekerja di Jakarta. Sebenarnya ini sudah sejak lama direncanakan, namun karena masalah yang dihadapi oleh Naya, rencana ini ditunda.


Naya sendiri sebenarnya memang berencana untuk kembali ke Jakarta bersama sahabat-sahabatnya.


"Terus kafe kamu di sini gimana, Nay?"


"Biar Jackson dan Eva saja yang mengurusnya."


Mereka bergegas ke bandara, kembali ke Jakarta tanpa sepengetahuan para pria yang doyan ngintilin itu.


Keesokan paginya mereka tiba di Jakarta dan langsung ke apartemen yang sudah mereka sediakan sebelumnya.


Siang harinya, dia pergi ke perusahaan Erlang. Erlang dan Chiro memang ada di Jakarta sejak dua minggu yang lalu. Naya menaiki lift khusus yang biasa digunakan oleh Chiro. Sesampainya di depan ruangan Erlang, dia melihat meja sekretaris Erlang yang kosong.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung masuk begitu saja.


Erlang, Ikmal, Vian, Marcell, Marva, Evan, Kasmine dan Angel melihat ke arahnya.


"Wah wah wah, lihat siapa ini. Bukankah ini dokter Freya Canaya, dokter yang melakukan malpraktik itu," ucap Angel.


"Angel, jaga bicaramu!" bentak Erlang.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Memang benar, kan? Dia hanyalah gadis miskin yang mengandalkan beasiswa untuk kuliah kedokteran di luar negeri. Aku yakin dia memanfaatkan tubuhnya untuk mencapai apa yang dia inginkan."


Wajah Erlang menggelap.


"Kasihan sekali orang tuanya. Aku yakin orang tuanya menyesal memiliki anak seperti ini, yang hanya bisa bikin malu keluarga."


"Cukup, Angel!"


"Arby, apa yang aku katakan itu memang benar. Coba lihat, dia bahkan ke kantor ini seenaknya, dia pasti ingin menggodamu setelah karirnya hancur."


"Jaga bicaramu, Angel!"


Bukan hanya Erlang, bahkan Ikmal, Marcell, Vian, Marva, Evan dan Jasmine ikut kesal mendengar perkataan Angel.


Naya mengepalkan tangannya, bukan karena dirinya yang dihina, tapi karena keluarganya yang dihina. Meskipun hubungan dia dengan keluarganya belum benar-benar membaik, tapi ikatan darah itu tetap ada. Tetap ada perasaan sakit hati saat kedua orang tuanya dihina seperti itu.


Namun, sebagai seorang psikiater yang harus menjaga image dan juga harus mengendalikan diri sendiri, Naya telah belajar banyak untuk menahan emosinya. Maka dia akan membalas dengan caranya sendiri.


"Sayang, aku merindukanmu. Aku mau memberikan kejutanmu padamu, tapi saat aku masuk ke sini, aku langsung merinding. Sepertinya ruangan kamu harus dirukiyah, agar kuntilanak dan dedemit di deportasi dan disuntik rabies."


Naya mendekati Erlang dan memeluk tubuh kekar itu. Tangannya menggerayangi dada bidang Erlang.


"Lepaskan dia, j*lang."


Cup


Naya langsung mengecup bibir Erlang di hadapan Nyonya Kunti.


"Aaaa ...."


Angel menjambak rambut Naya. Jasmine langsung menarik Angel agar tangannya terlepas dari rambut Naya. Para pria ikut membantu.


"Lepas, Angel!" teriak Erlang. Naya menendang lutut Angel, namun perempuan itu semakin kuat menarik rambutnya.


"Dia sudah menggoda dan mencium kamu."


"Dasar cewek gila lo, Gel," maki Ikmal.


Naya memiting tangan Angel hingga wanita itu kesakitan.


Angel langsung dibawa ke luar oleh security setelah sebelumnya Evan memanggil keamanan.


Naya meringis kesakitan akibat jambakan itu.


"Dasar siluman gila," maki Naya. Di hadapan Erlang dan yang lain enggak perlu jaim, toh mereka juga sudah pada tahu bagaimana sifat Naya yang sebenarnya.


"Kenapa dia ada di sini, sih?"


"Dia kerja di sini."


"Bos di sini bego, ya? Bisa-bisanya nerima karyawan seperti itu," umpat Naya.

__ADS_1


"Aku enggak bego, Naya. Biar nanti aku pecat dia."


"Dah, biarin saja dia kerja di sini. Jangan mencampur adukan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. Ngomong-ngomong, di mana Ecan?"


"Dia ada di rumah mommy."


"Tahu gitu, aku enggak ke sini."


"Kamu ngapain ke Jakarta?"


"Kerja, lah. Aku dan yang lain sekarang menetap di Jakarta?"


"Serius?" tanya Marcell.


Naya mengangguk. Marcell langsung menghubungi papanya untuk minta dipindahkan lagi ke Jakarta.


Dasar, ngandalin keluarga untuk kepentingan pribadi.


"Aku pulang aja, deh."


"Frey, kamu enggak mau lanjut yang tadi?"


"Apaan?"


"Tadi kan kamu nyosor aku, gantian napa."


Naya langsung ke luar dari ruangan Erlang. Pria itu mengejar Naya sebelum wanita itu menutup pintu.


"Woy, kerjaan kita gimana ini?" tanya Ikmal.


"Enggak ada yang lebih penting dari urusan cinta," jawab Erlang.


"Halah, dasar bucin," celetuk Marcell.


"Apa bedanya sama kamu? Nania ke sana, kamu ikut ke sana. Nania ke sini, kamu ikut ke sini."


Vian menoyor Marcell, sedangkan Marcell cengengesan saja.


Di dalam lift, Erlang mengusap kepala Naya.


"Apaan sih, megang-megang terus."


Awas kamu Angel, beraninya menyakiti mommy Chiro. Untung saja Chiro tidak ada di sini, melihat mommynya disakiti oleh orang lain.


Pintu lift terbuka, orang-orang melihat bos mereka berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik yang mereka ketahui bernama Freya Canaya, seorang dokter yang belum lama ini didera kasus malpraktik.


.


.


.

__ADS_1


Maaf jika ada kesalahan dalam penjelasan. Untuk yang lebih paham, harap maklum, ya 😊


__ADS_2