
Agar tidak merasa kesepian, Arby akhirnya bekerja di rumahnya. Dia hanya akan pergi kalau ada meeting yang tidak bisa dilakukan secara online. Dia melakukan itu agar Freya tidak merasa kesepian, dan bisa menjaga Freya, juga melakukan apa yang Freya inginkan.
Dia benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Dulu saat hamil Chiro, dia merasa masih belum maksimal dalam menjadi suami siaga. Arby sesekali akan muntah-muntah di pagi hari. Talib dia tetap bersyukur, bukan Freya yang merasakan ini.
"Kalau kamu mual, enggak usah masak. Biar aku saja."
"No, aku enggak mau kamu kelelahan."
"Ya sudah, suruh koki saja."
"Enggak, aku mau masak buat kamu dan anak kita."
Bukan makanan mewah, hanya nasi goreng seafood dan sandwich. Juga salad buah. Bayi mereka memang tidak minta yang aneh-aneh, atau belum.
Freya juga lebih sering tidur siang, dan bagi Srny, itu sangat bagus. Chiro juga sebenarnya mau home schooling saja, tapi dilarang oleh Freya, agar anaknya itu bisa bersosialisasi, juga menjaga Radhi dan Raine.
Chiro memang layaknya kakak bagi keduanya, dan Freya yakin Chiro akan menjadi kakak yang baik untuk adiknya nanti.
Setiap pulang sekolah, Chiro akan membelikan mamanya bunga. Ingin membelikan rujak, tapi di rumah sudah banyak buah yang langsung dikirimkan dari perkebunan keluarga.
Freya benar-benar dimanjakan oleh kedua pria berbeda generasi itu. Bukan hanya keduanya, tapi dia juga sangat dimanjakan oleh keluarga besar Freya dan Arby.
Frans sering sekali mengunjungi Freya, membuat Arby mendengus kesal.
__ADS_1
"Ngapain sih, datang terus?"
"Dasar cucu kurang ajar. Kakek kan mau mengunjungi cucu menantu kakek, juga ingin tahu bagaimana keadaan cicit kakek."
"Eyang sudah sayang sama mommy Chiro? Makanya jangan galak-galak sama mommy Chiro. Kata orang, dari benci bisa jadi cinta."
Mereka tersedak oleh perkataan Chiro. Dari mana Chiro bisa mendapatkan kalimat itu. Arby langsung manyun.
"Chiro, kamu itu masih polos, siapa ya g sidah mengkontaminasi pikiran kamu?"
"Ya dirimu sendiri!" ucap yang lain serempak.
"Kakekkkk ...."
Freya menghampiri Frans, dengan wajah ceria. Arby kembali mendengus, andai saja Freya tahu, kalau dulu dia dan Frans bagai musuh bebuyutan.
Arlan dan Elya juga senyum-senyum. Melihat Frans yang sangat antusias dengan kehamilan Freya. Maklum saja, meski sudah ada Chiro, ini adalah kehamilan Freya yang orang-orang bisa ikut andil memenuhi keinginan ibu hamil cantik itu.
"Sayang?" panggil Freya dengan manja.
"Ya, Baby?" sahut Arby tidak kalah mesranya, membuat yang lain ingin muntah.
"Aku lihat Ikmal dan yang lain panjat pinang."
__ADS_1
"Oke, segera dilaksanakan Yang Mulia Ratuku."
"What? Arby, kenapa kamu langsung setuju? Kenapa kami harus panjat pinang?"
"Karena aku enggak mau anakku ileran."
"Tapi panjat pinangnya pakai pohon kelapa, ya!"
"Apa pun yang kamu mau, Sweety."
"Istri, istri siapa yang ngidam? Kenapa kami yang tersiksa?"
"Uncle, berbuatlah kebaikan untuk adik Chiro."
Chiro memberikan puppy eyes-nya. Kalau sudah begitu kan, mereka jadi enggak tega. Mereka menghela nafas, ya sudah deh.
"Tapi enggak ada pohon kelapa."
"Ada tuh, di halaman belakang," jawab Freya santai.
Mereka tidak tahu, kalau di belakang rumah Freya, banyak pohon.
"Habis panjat pinang, nanti kalian tarik tambang, ya. Terus balap karung, masukin pensil ke botol."
__ADS_1
Mereka saling lirik.
"Sekarang tanggal berapa, sih?" tanya Marcell.