
Mereka memasuki toko mainan dengan ceria. Anak-anak itu memilih beberapa mainan. Chiro memilih mainan bukan untuk dirinya, tapi untuk calon adiknya.
Sachi ingin membeli robot-robotan yang ukurannya lebih besar dari badannya. Sedangkan si kembar memilih mobil-mobilan yang bisa dinaiki. Bukannya mereka belum punya, hanya saja kedua mobil-mobilan milik Ichi dan Sichi nyemplung ke kolam renang, setelah itu menabrak pagar, dan yang terakhir meluncur dari tangga atas tangga.
Jadi sudah cukup penderitaan yang si mobil rasakan, saatnya pensiun.
"Jangan lari-lari, Ichi, Ishi."
Chiro mengambil beberapa boneka. Dia meletakkan di dalam keranjang yang didorong oleh Didi.
Didi berpikir, kalau dia cukup punya dua anak saja kalau nanti menikah, karena sudah kenyang duluan melihat anak-anak bosnya ini.
"Om Didi mau beli mainan?" tanya Sachi.
"Tidak, Tuan Muda Sachi."
"Kan Om Didi beyum punya anak, Bang. Kacian, ya. Macak, macak cendili ...."
"Makan, makan cendiyi ...."
"Nyuci baju cendili ...."
"Tidul pun cendiyi ...."
Para pengunjung toko menahan tawa. Wajah Didi sudah merah padam, pengen dia pites itu bocah-bocah.
"Tenang saja, gaji kamu saya naikan," ucap Arby menghibur.
"Benar, Tuan?"
__ADS_1
"Iya, tapi kamu harus selalu ikut saya kalau saya membawa mereka tanpa Freya, ya." Didi lesu lagi, dia tahu ada udang di balik batu.
Mereka kembali memilih mainan, masalah nanti dimainkan apa tidak, itu urusan belakangan, toh bisa dihadiahkan ke orang lain.
Bruk
"Ishi!"
"Huaaaa!"
Arby mendekati Ishi dan mengangkat tubuh anak itu yang terjatuh. Keningnya memar, dan Ichi ikut menangis.
"Huaaa, Daddy."
"Gak apa, Ishi kan anak kuat."
Ishi meletakkan kepalanya di dada bidang Arby. Ichi yang ikut menangis karena saudara kembarnya jatuh, badannya langsung hangat. Chiro dibantu oleh Didi menenangkan bocah itu.
"Mayu, Daddy. Mayu! Tu, ada ewek antik, tu. Aca anteng-anteng atuh."
Arby menahan tawa.
"Oh, Ishi malu? Tapi sakit, gak?"
"Atit, atitnya tuh di cini." Ishi menunjuk dadanya.
Arby menepuk keningnya, kenapa para bocilnya jadi korban lagu?
"Ya udah, yuk pulang."
__ADS_1
Arby buru-buru melakukan pembayaran, karena memar di kening Ishi harus segera diobati dan juga Ichi yang sedikit panas. Si kebar dipangku oleh Arby, sedangkan Chiro menjaga Sachi.
Didi segera membawa mereka ke rumah sakit. Dalam hati dia berdoa semoga tidak bertemu dengan Freya, karena pria berkacamata itu takut pada nyonya bos.
Di dalam mobil, Arby menimang-nimang Ichi dan Ishi. Memang selalu seperti ini, kalau salah satu dari si kembar sakit, maka yang lain ikut sakit. Kedua tangan Arby mengusap Ichi dan Ishi. Chiro sebagai kakak juga ikut khawatir. Dia harus menjaga Sachi agar tidak rewel, karena tahu kalau kedua orang tuanya pasti akan repot menjaga Ishi dan Ichi.
Benturan di kepala Ishi cukup keras, hingga kening anak itu benjol.
"Loh, Ishi kenapa?"
"Jatuh, coba di periksa dulu, soalnya tadi jatuhnya cukup keras."
"Atit, Mommy."
"Gak apa, Ishi kan kuat. Nanti mommy kasih salep, ya."
"Tadi anak-anak mommy ngapain aja?"
"Main di tempat Daddy."
Freya sudah selesai mengobati memar Ishi, dan Ichi juga sudah berhenti menangis.
"Sudah makan, belum?"
"Cudah. Makannya ikit."
"Kok makannya sedikit?"
"Coalnya yang banyak itu, cayangnya kami buat Mommy."
__ADS_1
Eleh, malah ngegombal, batin Arby tak terima karena ditikung oleh anaknya.