
"Sayang ...."
"Ya?"
"Hm ...." Arby mau mengatakan sesuatu pada Freya, tapi ragu.
"Mau bilang apa?"
"Boleh enggak, kalau kamu mengurangi pekerjaan kamu?"
"Mengurangi pekerjaan?"
"Iya. Aku tidak mau kamu terlalu lelah. Aku ini kaya banget, loh. Kamu cukup ongkang-ongkang kaki di rumah, ting! Berlian akan hadir di hadapanmu."
Freya tertawa, antara lucu dan gemes.
"Iya. Nanti aku berhenti kerja di rumah sakit kamu, tapi tetap kerja di rumah sakit punya keluargaku. Aku memang sudah atur ulang jadwal. Senin aku di rumah sakit keluargaku, selasa syuting acara kesehatan dan mengecek kafe. Rabu ke perusahaan obat dan alat kesehatan. Kamis ke perusahaan keluarga."
"Jumat Sabtu Minggu?"
"Ya untuk kita, dong. Buat apa aku ngurangi jadwal kerja kalau bukan buat kamu dan Chiro."
Wajah Arby langsung berbinar, tapi kemudian dia diam.
"Kamu enggak terpaksa, kan?"
"Sama sekali enggak. Kan kafe juga ada yang ngurus, aku paling ngecek keadaan dan keuangan saja. Di rumah sakit, aku bisa praktek dari pagi sampai sore. Kecuali ada operasi di hari lain, baru aku ke sana."
"Terus klinik?"
"Ya ke sana kalau ada keadaan darurat saja. Kan sekarang sudah banyak dokter yang bekerja di sana."
__ADS_1
Klinik itu memang sangat besar untuk ukuran klinik, dengan fasilitas yang komplit.
"Kenapa kak Anya dan Vanya tidak belajar bisnis, sih? Kan mereka juga bisa membantu keluarga kamu."
"Mereka sudah belajar dikit-dikit, tapi ya karena bukan di sana minat mereka, jadi tidak bisa total."
Memang susah juga bekerja di bidang yang tidak disukai, pasti rasanya setengah-setengah.
"Aku lihat Chiro itu punya bakat di bidang bisnis dan seni. Apa kamu yang mengarahkannya?"
"Enggak. Dia itu kan perpaduan keluarga kita, apalagi kamu. Dari kecil itu dia sudah suka baca buku, apalagi buku bisnis. Dia juga suka baca buku kedokteran. Kalau menggambar memang dari aku."
"Ya kita lihat saja nanti Chiro mau jadi apa, tidak usah dipaksa."
"Iya, aku juga tidak mau memaksakan kehendak pada Chiro. Mau dia jadi pebisnis, dokter, atau seniman. Yang penting pekerjaan baik."
Tentu saja Arby tidak mau memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya nanti. Sudah cukup beberapa orang menjadi korban karena keegoisan keluarga.
Freya
Jangan lagi generasi di bawah mereka.
🍂🍂🍂
"Chiro, Chiro mau punya adik, enggak?"
"Mau mau mau."
"Kalau Chiro mau punya adik, berarti harus sudah bisa tidur sendiri. Nanti siapa yang akan menjaga adik kalau Chiro belum bisa tidur sendiri?" tanya Nuna.
Saat ini Nuna dan Ikmal sedang mengajak Chiro jalan-jalan.
__ADS_1
"Aunty tahu Chiro anak yang berani, hanya saja Chiro sudah biasa bersama daddy. Kalau Chiro bisa tidur sendiri kan, berarti Chiro sidah besar, bisa membantu mommy dan daddy menjaga dedek bayi."
"Iya Aunty, nanti Chiro tidur sendiri. Tapi kasihan daddy, nanti daddy tidak bisa tidur kalau tidak ada Chiro."
"Daddy akan baik-baik saja, apalagi sekarang sudah ada mommy bersama kalian. Nanti mommy bingung, kenapa Chiro tidak bisa tidur sendiri."
"No, Aunty. Chiro tidak mau mommy sakit lagi. Chiro janji jadi anak baik. Chiro akan melakukan apa lun demi mommy dan daddy, juga dedek bayi."
"Duh, Chiro, kamu pintar banget, sih. Aunty jadi pengen punya anak seperti kamu."
"Makanya nikah, Nun, baru kamu bisa punya anak."
"Enggak perlu nikah juga, aku bisa punya anak."
"Jangan asal bicara, deh. Kamu mau punya anak di luar nikah?"
"Sembarangan! Maksud aku, ya adopsi anak."
"Cari pasangan sana, terus nikah," ucap Ikmal.
"Kamu sana duluan, cari pasangan."
"Belum minat."
"Dasar! Sok nasehatin orang, dirinya sendiri begitu!"
Ikmal hanya tertawa saja mendengar perkataan Nuna.
Kembali lagi ke Arby dan Freya
"Jadi kita harus punya banyak dedek bayi. Jadi kalau yang satu jadi dokter, yang satu mungkin jadi seniman. Yang satu lagi jadi pengusaha. Yuk, bikin dulu. Kejar target kita."
__ADS_1
Dasar, ujung-ujungnya tetap saja mengarah ke sana!