
Belum hamil juga?
Adalah pertanyaan paling menyebalkan untuk mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki anak atau calon anak.
Mereka yang bertanya seperti itu pada Freya, seolah tidak tahu akan keberadaan Chiro. Ya biasalah, yang bertanya seperti itu, Freya pastikan adalah orang-orang yang tidak suka padanya, alias ngiri.
Teman-teman kerjanya pada santai. Mereka justru suka bercanda, "Kesempatan banget si Arby. Ayo Yang, bikin anak. Ayo Yang, bikin anak." Freya hanya tertawa. Untung saja dia punya teman kerja yang menyenangkan.
"Lagian, ribet banget ngurusin orang ya, Ya? Nanyain orang sudah hamil apa belum, lah mereka, laku saja belum," ucap salah satu dokter perempuan.
Mereka kembali tertawa.
"Oya, gimana sama dokter-dokter yang akan bekerja di klinik yang baru?"
"Sudah ada beberapa."
"Oya, aku juga butuh orang yang akan aku tempatkan di bagian farmasi."
"Gimana orang-orang enggak iri sama kamu. Kaya banget, kamu."
"Tapi kasihan ya, sama suami kamu."
__ADS_1
"Memangnya Arby kenapa?"
"Dia juga pasti kelimpungan, lah. Pasti banyak pria yang menyukai kamu. Mau itu duda atau lajang. Bahkan pria beristri pun akan rela meninggalkan istrinya kalau bisa menikahi kamu."
Kali ini, Arby yang tersedak kopinya, dan muncrat ke wajah Vian. Dia tiba-tiba saja merasa merinding.
🍂🍂🍂
Perempuan cantik berpakaian seksi masuk ke perusahaan Arby. Dia langsung menjadi pusat perhatian. Dengan berjalan bagai model, dia mendatangi meja sekretaris.
"Pagi, saya ingin bertemu dengan Arby Erlangga."
"Sudah ada janji, Nona?"
"Siapa nama Anda, biar saya menghubungi sekretaris tuan Erlangga."
"Bilang saja Akiko dari Jepang."
Resepsionis itu segera menghubungi Jasmine.
"Maaf, Nona. Tuan Erlangga saat ini sedang rapat. Anda bisa datang kembali lain waktu, tapi sebelumnya harus membuat janji dulu."
__ADS_1
"Kalau begitu, katakan pada sekretaris Erlangga, kalau saya akan datang lagi besok. Oya, ini kartu nama saya."
Akiko lalu meninggalkan resepsionis itu. Suara sepatunya yang ber-hells tinggi, membuat suara tak tok tak tok nyaring.
"Siapa tuh Akiko?" tanya Arby pada Evan.
"Emm, mungkin dia Akiko teman kuliah kita dulu."
"Memangnya kita punya teman namanya Akiko?"
Kecuali Evan dan Marva, yang lain menghela nafas. Ini sama seperti beberapa tahun yang lalu. Arby juga tidak tahu kalau dia punya eman sekelas yang bernama Rei.
"Satu-satunya perempuan yang akan dia ingat hanya Freya."
"Iya dong. Memangnya kamu, Cel? Kamu tidak ingat dengan perempuan lain, bukan karena hanya ada Nania di hari kamu, tapi karena kebanyakan perempuan yang kamu gombalin."
"Sudahlah Cel, kamu lepasin saja itu Nania. Jangan sampai nanti Freya yang bertindak." Arby benar-benar serius mengatakan ini.
Mereka langsung diam. Selama ini, Freya yang sudah banyak bertindak untuk sahabat-sahabatnya itu. Waktu masalah Rei, Freya kecolongan karena mengalami kecelakaan dan koma. Belum lagi masalah Nuna yang sering membuat Freya ikut menangis.
Arby sudah memberikan peringatan keras pada mereka, agar jangan membuat Freya stres. Dia tidak mau Freya masuk rumah sakit lagi. Untuk masalah Nuna, Ikmal bisa langsung turun tangan, karena mereka memang sahabat. Arby sendiri juga membantu, walau harus dilakukan hati-hati agar tidak terjadi salah paham lagi.
__ADS_1
Memikirkan semua kekacauan yang terjadi di ruang lingkup mereka, membuat mereka pusing juga. Apa lagi semua masalah ini bukan hanya melibatkan para anak muda, tapi keluarga besar termasuk para orang dewasa yang seharusnya sudah memiliki cucu-cucu.
Akhirnya, yang tadinya rapat membahas masalah perusahaan, malah rapat membahas masalah hati dan keluarga besar.